Deteksi Dini Kanker Payudara

13 Januari 2020 - 16:19 WIB

Cara paling efektif mencegah kematian akibat kanker payudara adalah deteksi dini kanker payudara.  Penelitian menunjukkan, jika seseorang terdeteksi kanker payudara di stadium 0 atau stadium 1, maka dengan terapi yang tepat, angka harapan hidupnya adalah 100%.  Semakin tinggi stadium saat kanker payudara ditemukan, maka angka harapan hidup akan semakin  menurun.

Deteksi dini kelainan payudara dapat dilakukan dengan cara: 

  1. Periksa Payudara Sendiri (SADARI)
  2. Periksa Payudara Klinis (SADANIS)
  3. Skrining

 

I. Periksa Payudara Sendiri (SADARI)

Periksa Payudara Sendiri (SADARI) sebaiknya mulai rutin dilakukan setelah anak perempuan mulai mengalami menstruasi. SADARI menjadi hal yang penting untuk perempuan diatas 30 tahun, dan sebaiknya dilakukan setiap satu bulan sekali, pada hari ke-7 sampai hari ke-15, dihitung sejak hari pertama menstruasi. Bagi perempuan yang sudah menopause, SADARI dapat dilakukan pada tanggal yang sama disetiap bulannya. Langkah-langkah periksa payudara sendiri yaitu:

Lakukan 6 langkah-langkah SADARI tersebut pada kedua payudara secara bergantian. Setiap melakukan kegiatan SADARI, seorang perempuan harus mengenal ciri-ciri kelainan yang mengarah ke kanker payudara sebagai berikut :

  1. Benjolan di payudara
  2. Rasa sakit di ketiak atau payudara yang tampaknya tidak terkait dengan periode menstruasi
  3. Kemerahan pada kulit payudara
  4. Ruam di sekitar (atau diatas) salah satu puting
  5. Pembengkakan (benjolan) di salah satu ketiak
  6. Penebalan sebuah area dari jaringan di payudara atau mengerut seperti jeruk purut
  7. Keluar cairan bercampur darah dari payudara
  8. Perubahan bentuk puting diluar saat menyusui, mungkin menjadi cekung atau terbalik
  9. Perubahan ukuran atau bentuk payudara 
  10. Kulit permukaan payudara seperti ditarik ke dalam
  11. Kulit puting susu atau kulit payudara mulai mengelupas, bersisik atau menyerpih.

Jika didapatkan kelainan pada saat kegiatan SADARI ataupun diluar kegiatan, maka harus secepat mungkin memeriksakan diri ke dokter.

 

II. Periksa Payudara Klinis (SADANIS)

    Periksa payudara klinis atau SADANIS merupakan pemeriksaan payudara yang dilakukan oleh tenaga kesehatan. Bagi perempuan berusia dibawah 40 tahun, direkomendasikan melakukan pemeriksaan klinis payudara secara rutin ke dokter sejak usia 25 tahun. Perempuan usia 20-an direkomendasikan 1x / 2 tahun, sedangkan usia 30-an 1x/tahun. Bagi perempuan berusia diatas 40 tahun, direkomendasikan melakukan SADANIS setiap tahun. Jika seorang perempuan mendapati kelainan pada saat melakukan SADARI, dapat segera memeriksakan dirinya ke fasilitas kesehatan untuk dilakukan SADANIS. 

 

III. Skrining

    Skrining kanker payudara dilakukan secara rutin walaupun tidak terdapat keluhan. Jika pada skrining kanker payudara ditemukan kelainan yang mengarah ke kanker payudara, selanjutnya diperlukan pemeriksaan lebih lanjut untuk mendiagnosis kanker payudara. Jika didapatkan kanker payudara stadium dini, maka hasil pengobatan menjadi lebih efektif, dengan demikian akan menurunkan kemungkinan kekambuhan, menurunkan angka kematian dan memperbaiki kualitas hidup. Skrining kanker payudara berupa:

1. Mammografi

    Skrining yang dianjurkan untuk mendeteksi dini kanker payudara pada perempuan berusia diatas 40 tahun adalah dengan mammografi. Pemeriksaan mammografi sudah bermanfaat untuk dilakukan sejak seorang perempuan minimal berusia 35 tahun, dan sedang tidak menyusui. Pemeriksaan mammografi pada perempuan menyusui tetap dapat dilakukan tetapi hasil pemeriksaannya tidak akan seakurat perempuan yang sedang tidak menyusui.  Hal ini disebabkan karena perempuan menyusui memiliki jaringan payudara yang lebih padat. Semakin padat jaringan payudara maka smakin sulit juga untuk melihat kelainan di payudara.  Menurut American Cancer Society, waktu untuk melakukan skrining dengan mammografi berbeda-beda sesuai dengan usianya yaitu sebagai berikut :

  1. Perempuan berusia 40-44 tahun dianjurkan memulai skrining dengan mammografi setiap tahun
  2. Perempuan berusia 45-54 tahun diwajibkan skrining dengan mammografi setiap tahun
  3. Perempuan berusia 55 tahun keatas melakukan skrining dengan mammografi setiap 2 tahun. 

Bagi perempuan berusia 55 tahun keatas, umumnya sudah kehilangan banyak jaringan ikat, sehingga hasil mammogram berwarna gelap. Dengan demikian, jika ada kelainan berupa bintik-bintik halus berwarna putih (mikrokalsifikasi) yang mencurigakan, akan lebih mudah terdeteksi. Karenanya skrining mammografi dilakukan setiap 2 tahun. Skrining harus dilanjutkan selama perempuan tersebut dalam keadaan sehat dan diperkirakan akan hidup 10 tahun lagi atau lebih.

Jika hasil mamografi tidak didapatkan kelainan atau terdapat kelainan jinak, maka pemeriksaan payudara dilengkapi dengan ultrasonografi untuk membedakan kelainan jinak yang ada berupa kista (rongga berisi cairan)  atau tumor (massa padat), atau kelainan payudara lain seperti misalnya mammary dysplasia.

Ultrasonografi (USG) dapat dilakukan untuk mendeteksi dini kanker payudara perempuan di bawah 40 tahun karena masih memiliki payudara yang padat sehingga sulit dinilai dengan mammografi.  Pada perempuan yang dilakukan mammografi, hasil akan lebih akurat jika dikombinasi dengan USG, namun penggunaan USG tunggal bukanlah alat skrining kanker payudara yang dapat diandalkan.

 

2. Ultrasonografi (USG)

Pemeriksaan mammografi yang ditambahkan dengan USG payudara memiliki akurasi skrining yang semakin meningkat. Namun, pemeriksaan USG payudara saja tidak dapat menggantikan akurasi mammogram, walaupun dilakukan menggunakan USG generasi terbaru yang bernama ABUS (Automated Breast Ultra Sound). USG sebagai skrining tambahan banyak digunakan karena alat tersedia secara luas, relatif murah dan tidak membuat seseorang terpapar radiasi. 

USG berguna untuk melihat beberapa perubahan pada payudara, seperti benjolan (terutama yang bisa dirasakan tetapi tidak terlihat pada mammogram) atau perubahan pada wanita dengan jaringan payudara yang padat. USG juga dapat digunakan untuk melihat perubahan yang terlihat pada mammogram. USG bermanfaat karena sering kali dapat membedakan antara kista yaitu rongga berisi cairan (yang tidak akan berubah menjadi kanker) dan massa padat (yang mungkin perlu pemeriksaan lanjutan untuk memastikan massa tersebut kanker atau bukan).