DIFTERI PADA DEWASA

13 Februari 2018 - 10:18 WIB

Belakangan ini penyakit difteri marak menjadi perbincangan publik, dan pemerintah pun telah menyebut wabah tersebut sebagai kejadian luar biasa (KLB) di Indonesia.Kemunculan penyakit difteri ini terjadi pada hampir semua usia dan tidak terdapat batasan umur, selain itu juga terjadi sepanjang tahun 2017 tanpa terbatas pada musim tertentu. Angka kematian yang cukup tinggi pun terjadi pada usia muda dan dewasa akibat terkena difteri. Difteri merupakan penyakit infeksi pernapasan akut berbahaya yang disebabkan karena infeksi bakteri yang umumnya menyerang selaput lendir pada hidung dan tenggorokan, serta terkadang dapat memengaruhi mata ataupun kulit. Penyakit ini sangat menular dan termasuk infeksi serius yang berpotensi mengancam jiwa. Penyakit ini disebabkan oleh bakteri Corynebacterium diphtheriae yang dapat menghasilkan racun bernama eksotoksin. Manusia merupakan satu – satunya media penularan (pejamu alami), dan penularan dapat terjadi melalui droplet udara, infeksi pada lokasi dengan lesi kulit sebelumnya, atau secara tidak langsung melalui objek yang terkontaminasi sekret nasofaring penderita seperti ludah, bersin atau batuk. World Health Organization (WHO), mencatat ada 7.097 kasus difteri yang dilaporkan di seluruh dunia pada tahun 2016.Di antara angka tersebut, Indonesia turut menyumbang 342 kasus. Sejak tahun 2011, kejadian luar biasa (KLB) untuk kasus difteri menjadi masalah di Indonesia. Tercatat 3.353 kasus difteri dilaporkan dari tahun 2011 sampai dengan tahun 2016 dan angka ini menempatkan Indonesia menjadi urutan ke-2 setelah India dengan jumlah kasus difteri terbanyak. Data Kementerian Kesehatan Indonesia menunjukkan hasil dari bulan Januari sampai dengan November 2017, ada 95 kabupaten dan kota dari 20 provinsi yang melaporkan kasus difteri. Secara keseluruhan terdapat 622 kasus, 32 diantaranya meninggal dunia, dan tidak terbatas pada batasan usia. Difteri pada dewasa sama bahayanya dengan difteri pada anak. Seperti diketahui pejamu alami bakteri difteri adalah manusia, dan salah satunya orang dewasa, dan bahkan dalam kondisi tertentu orang dewasa yang terinfeksi bakteri difteri bisa menjadi agen penularan kepada orang lain tanpa ia menyadarinya, hal ini dikenal dengan istilah carrier difteri yakni orang-orang yang tidak mengalami gejala penyakit namun menjadi pembawa bakteri difteri. Orang seperti ini tetap memiliki kemampuan yang sama untuk menularkan difteri. Penyakit difteri pada orang dewasa dapat memberikan gejala awal berupa sakit tenggorokan yang muncul karena terjadinya peradangan pada selaput lendir di area sekitar rongga mulut dan tenggorokan.Selain itu, biasanya juga disertai dengan demam yang tidak terlalu tinggi, biasanya berkisar antara 380 Celcius. Gejala difteri pada orang dewasa yang selanjutnya adalah munculnya selaput berwarna putih keabu-abuan pada tenggorokan yang disebut dengan pseudomembran, yang mudah berdarah jika dilepaskan. Biasanya orang dewasa yang terkena difteri akanmengalami nyeri pada otot-ototnya yang disertai dengan tubuh terasa lemas, dan juga bisa disertaipembengkakan pada kelenjar getah bening. Hal ini bisa diketahui dari membengkaknya bagian leher yang disebut dengan bull neck. Corynebacterium diphtheriae adalah bakteri berbahaya yang mampu menghasilkan racun eksotoksin yang dapat merusak sel-sel sehat pada tubuh.Awalnya racun difteri akan merusak sel-sel pada jaringan pernapasan bagian atas yang menyebabkan penderitanya mengalami kesulitan bernapas, lalu akan melumpuhkan otot diafragma yang bisa berujung pada hilangnya kemampuan menarik dan mengeluarkan napas sehingga penderita akan sesak napas hingga henti napas yang dapat berujung pada kematian. Eksotoksin yang dihasilkan bakteri difteri tidak hanya dapat menyerang sistem pernapasan bagian atas saja, racun ini juga bisa masuk dan terbawa dalam pembuluh darah dan menyerang organ-organ lainnya seperti ginjal dan jantung. Masuknya racun difteri ke jantung akan menyebabkan gejala jantung berdebar-debar. Apabila tidak segera diobati maka hal ini bisa menyebabkan terjadinya kerusakan otot jantung (miokarditis) dan gagal jantung. Penatalaksanaan penyakit difteri pada dewasa dilakukan dengan 2 cara, yaitu menetralisir racun eksotoksin dengan serum anti difteri, dan mematikan bakteri Corynebacterium diphtheria dengan menggunakan antibiotik. Namun perlu diketahui jika serum difteri ini hanya dapat menetralisir racun yang belum masuk ke dalam sel, sedangkan racun yang sudah masuk pembuluh darah dan merusak sel tidak bisa dinetralisir. Oleh karena itulah penanganan difteri ini harus dilakukan dengan cepat. Selain itu penatalaksanaan jalan napas juga menjadi penting, sehingga kadang kala diperlukan tindakan trakeostomi (pembuatan lubang di leher untuk jalan napas) untuk mengatasi sumbatan jalan napas yang terjadi akibat penyakit difteri.

Langkah pencegahan paling efektif untuk penyakit ini adalah dengan melakukan imunisasi, karena wabah difteri ini lebih mudah dicegah daripada diobati. Di Indonesia program imunisasi difteri untuk anak (DPT) sudah jadi program pemerintah yang bisa diperoleh secara gratis, sedangkan tidak ada program untuk orang dewasa. Imunisasi difteri untuk orang dewasa berbeda dengan imunisasi difteri pada anak, baik vaksin yang diberikan maupun jadwal pemberiannya.

Pada  orang dewasa usia 19 – 40 sebenarnya juga harus mendapatkan imunisasi difteri dengan vaksin penguat (booster) setiap 10 tahun sekali. Diatas 40 tahun sebaiknya melakukan suntikan ulangan dengan interval penyuntikan 0, 1, 6 bulan. Selain Itu, suntikan ulangan dengan interval tersebut juga sebaiknya diberikan pada orang dewasa usia 19-40 tahun yang tidak mendapatkan imunisasi difteri yang lengkap (5x).

Sejak terjadinya KLB difteri di tahun 2017 ini, sangat disarankan agar orang dewasa juga melakukan vaksinasi difteri, sesuai jadwal pemberian yang benar dan status imunisasi masing – masing individu.