Gangguan Prostat

13 Maret 2019 - 13:01 WIB

Prostat merupakan salah satu organ kelenjar yang hanya dimiliki oleh pria. Prostat kira-kira berukuran sebesar kacang walnut dan terletak di bawah kandung kemih dan mengelilingi saluran kencing (uretra). Prostat berperan dalam menghasilkan cairan berwarna putih susu yang merupakan bagian dari air mani dan menjadi sumber makanan untuk sperma. Berbagai kelainan yang dapat terjadi pada kelenjar prostat adalah peradangan (prostatitis), pembesaran prostat jinak (Benign Prostate Hyperplasia/BPH), hingga  suatu keganasan (kanker prostat).

Prostatitis merupakan suatu peradangan pada prostat. Prostatitis biasa terjadi pada pria berusia yang lebih muda dari 50 tahun. Prostatitis dapat disebabkan oleh infeksi bakteri, virus atau tidak diketahui penyebabnya. Gejala yang umum dirasakan oleh seseorang dengan prostatitis adalah nyeri atau rasa terbakar saat buang air kecil, demam dan nyeri pada area perut, punggung bawah, dan pada lipat bawah.

BPH merupakan pembesaran kelenjar prostat yang bersifat  jinak. Sekitar sepertiga laki-laki diatas usia 50 tahun menderita BPH yang disertai keluhan. . Penyebab dari BPH sendiri belum diketahui secara pasti namun beberapa faktor seperti riwayat pada keluarga. Gejala yang umum diderita adalah buang air kecil yang tidak lampias, frekuensi buang air kecil yang makin sering terutama pada malam hari, kencing menetes, dan harus mengejan saat ingin buang air kecil.

Kanker prostat merupakan salah satu jenis kanker terbanyak pada laki-laki di negara maju. Data terakhir menunjukkan kanker prostat merupakan kanker terbanyak ke empat pada laki-laki di Indonesia. Selain itu kanker prostat juga termasuk salah satu penyebab kematian tersering akibat kanker pada laki-laki. Sampai saat ini belum diketahui apa penyebab dari kanker prostat. Beberapa risiko yang ditemukan berkaitan dengan kanker prostat seperti terdapat orang tua atau saudara laki-laki yang sudah terkena kanker prostat. Kanker prostat memiliki gejala yang mirip dengan BPH dan juga umumnya terjadi pada pasien diatas 50 tahun. Gejala lain dari kanker prostat adalah buang air kecil berdarah, ejakulasi yang disertai darah. Apabila sudah dalam stadium lanjut dapat berupa nyeri pada tulang dan penurunan berat badan yang drastic. 

Secara umum untuk membedakan prostatitis, BPH, maupun kanker prostat dapat dilakukan dengan tanya jawab dokter dengan pasien (anamnesis) mengenai gejala yang muncul, pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan laboratorium. Setelah dilakukan anamnesis, dokter dapat melanjutkan dengan pemeriksaan fisik yaitu pemeriksaan colok dubur yang bertujuan untuk mengevaluasi kondisi kelenjar prostat dan  memperkirakan kelainan prostat. Pada prostatitis,  dapat disertai  rasa nyeri pada perabaan prostat. Pada BPH,  akan didapatkan adanya pembesaran kelenjar prostat yang kenyal. Sedangkan pada kanker prostat,  dapat ditemukan adanya bagian yang keras atau berbenjol-benjol. Gambaran kanker prostat stadium dini juga dapat menyerupai gambaran BPH. Oleh karena itu pemeriksaan biomarker yang dapat dilakukan adalah  Protein-Specfic Antigen (PSA). PSA dinyatakan normal jika lebih rendah dari 4,0 ng/mL kecuali ditemukan kelainan saat pemeriksaan colok dubur. Apabila terdapat peningkatan lebih dari 4,0 ng/mL disarankan untuk  dilakukan biopsi prostat agar memastikan apakah sesorang menderita kanker prostat atau bukan. Pemeriksaan lain seperti fungsi ginjal, urinalisa dan kultur urin dapat dilakukan untuk menentukan penatalaksanaan selanjutnya. Pada kasus kanker ginjal, perlu dilakukan staging penyakit dengan pemeriksaan bone scan, ultrasonografi, rontgen, CT scan atau MRI.

Penatalaksanaan yang akan dilakukan tergantung diagnosis kelainan prostat yang ditemukan. Pada prostatitis umumnya akan diberikan antibiotika, antinyeri dan obat alfa blocker untuk mengurangi keluhan. Pengobatan BPH dapat berupa terapi konservatif ( pada keluhan yang ringan),  terapi medikamentosa (seperti alfa blocker untuk mengurangi ketegangan prostat dan atau 5 alfa reductase inhibitor untuk mengecilkan kelenjar prostat) dan terapi pembedahaan pada kasus-kasus yang tidak dapat diberikan terapi medikamentosa. Pilihan terapi untuk kanker prostat disesuaikan dengan stadium saat ditemukan. Pada stadium dini dapat dilakukan tindakan operasi pengangkatan seluruh kelenjar prostat atau radioterapi. Sedangkan pada stadium lanjut hanya bisa diberikan terapi hormonal atau kemoterapi. Perancanaan penatalaksanaan kanker prostat harus bersifat individual tergantung dari usia. kondisi fisik umum, penyakit penyerta, stadium dan penyebaran kanker dan mempertimbangkan efek samping suatu terapi.

(dr. Agus Rizal A H Hamid, SpU(K), PhD)