Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS)

05 Mei 2020 - 09:46 WIB

Apa itu Polycystic Ovarian Syndrome (PCOS)?
PCOS adalah suatu kondisi ketidakseimbangan hormonal pada perempuan usia reproduksi yang ditandai dengan gangguan siklus haid seperti amenorea/oligomenorea, adanya gejala peningkatan hormon androgen atau hormon laki-laki, dan ditemukan gambaran indung telur dengan kista-kista folikel yang kecil dan banyak. PCOS adalah suatu kondisi yang dapat mempengaruhi menstruasi, kesuburan, hormon dan aspek penampilan anda. Selain itu ia juga dapat mempengaruhi kesehatan jangka panjang anda. Kondisi ini sering didadaptkan pada wanita dengan angka kejadian 5-10%.

Apa itu amenorea?
Amenorea adalah kondisi tidak mendapatkan haid. Terdapat dua macam amenorea, yaitu:

  • Amenorea primer adalah tidak pernah mendapatkan haid sama sekali sejak usia 16 tahun dengan gambaran seks sekunder (pertumbuhan payudara, percepatan pertumbuhan, pertumbuhan rambut kemaluan) dan usia 14 tahun tanpa gambaran seks sekunder.
  • Amenorea sekunder adalah tidak mendapatkan haid selama 3 bulan berturut-turut, setelah sebelumnya sudah pernah mendapatkan siklus haid.

Lalu bagaimanakah siklus haid yang normal?
Siklus haid yang normal adalah siklus haid yang memiliki interval antara 21 sampai 35 hari, dan lamanya haid antara 2-10 hari.

Apa sih bahaya PCOS?
PCOS kerap kali dihubungkan juga dengan ketidakseimbangan metabolisme khususnya gula dan lemak, sehingga juga dihubungkan dengan penyakit metabolik seperti diabetes mellitus, meningkatnya risiko penyakit kardiovaskular seperti penyakit darah tinggi, sakit jantung dan penyakit stroke pada usia lebih lanjut.
Pada organ kandungan, PCOS menyebabkan gangguan ovulasi sehingga menyulitkan untuk mendapat keturunan atau infertilitas. dikarenakan terdapat ketidakseimbangan hormonal yang lama, terdapat juga peningkatan risiko kanker endometrium dan kanker ovarium.

Apa penyebab PCOS?
Penyebab PCOS belum diketahui tetapi sering ditemukan dalam keluarga. Jika ada kerabat Anda (ibu, tante, saudara perempuan) yang terkena PCOS, risiko Anda terkena PCOS dapat meningkat. Selain genetik, beberapa faktor yang berperan di antaranya adalah:

  • Tingkat androgen yang tinggi. Kadar androgen yang lebih tinggi dari normal dapat mencegah terjadinya pelepasan sel telur (ovulasi) dan dapat menyebabkan pertumbuhan rambut dan jerawat yang berlebih.
  • Tingkat insulin yang tinggi. Insulin adalah hormon yang mengontrol bagaimana makanan yang anda makan diubah menjadi energi. Dengan adanya PCOS, tubuh tidak merespon insulin dengan baik (ini dikenal sebagai resistensi insulin), sehingga kadar glukosa dalam tubuh menjadi lebih tinggi. Untuk mencegah kadar glukosa menjadi lebih tinggi lagi, tubuh akan menghasilkan lebih banyak insulin lagi.

Apa saja yang diperiksa untuk mengetahui PCOS?

  1. Menstruasi tidak teratur dengan siklus yang memanjang (lebih dari 35 hari), memendek (kurang dari 21 hari), atau bahkan tidak ada menstruasi sama sekali. Perlu untuk mengetahui riwayat pola haid apakah ada amenorea atau oligomenorea.
  2. Pada pemeriksaan fisik dapat dilihat apakah ditemukan akantosis nigrikan atau hiperpigmentasi pada daerah-daerah tertentu, seperti kulit menjadi gelap, terutama di sepanjang lipatan leher, di selangkangan, dan di bawah payudara. Hirsutisme atau tumbuh rambut halus di wajah atau daerah lain di tubuh, apakah wajah terlihat berminyak atau berjerawat, rambut rontok. Bisa terlihat juga dari berat badan bertambah atau sulit menurunkan berat badan.
  3. Lalu pada pemeriksaan penunjang, dengan USG transvaginal (pada perempuan yang sudah menikah atau berhubungan seks) adakah tampak gambaran indung telur yang volumenya meningkat (diatas 10cc) dengan gambaran kista atau folikel telur yang kecil-kecil dan banyak atau diatas 12 folikel dalam 1 ovarium.
  4. Pada pemeriksaan laboratorium dapat dilakukan untuk mengetahui beratnya PCOS dengan memeriksa keseimbangan hormon FSH, LH, Estradiol dan Testosteron diperiksa juga kadar hormon AMH (anti mullerian hormon). Selain itu juga dapat diperiksa profil gula darah dan hormon insulin puasa.

Apakah PCOS dapat disembuhkan?
Tentu saja. Langkah awal penanganan PCOS adalah dengan perbaikan gaya hidup, dengan olahraga yang sesuai dan gizi seimbang.
Langkah selanjutnya pada perempuan yang belum menikah atau menginginkan kehamilan dapat dilakukan pengaturan haid. Pada perempuan yang ingin mendapatkan keturunan dapat dilakukan penanganan sesuai kondisi dan PCOSnya.

Kok PCOS diberi terapi obat gula?
Perkembangan-perkembangan terkini PCOS banyak dikaitkan dengan resistensi hormon insulin, sehingga pengobatan menggunakan obat-obat yang bersifat insulin sensitisizer, seperti metformin, memiliki efek yang positif terhadap penyembuhan PCOS.

Apakah penderita PCOS yang ingin memiliki keturunan harus mengikuti bayi tabung?
Tidak selalu, terdapat langkah-langkah penanganan PCOS dengan infertilitas, setelah mengetahui bagaimana berat dan kondisi PCOS dan kesehatan sperma suami terutama jika didapatkan sperma suami masih dalam batas normal. Dapat diberikan obat penyubur untuk membantu ovulasi, dapat juga dilakukan inseminasi apabila diperlukan. Namun apabila kondisi PCOS cukup berat disarankan untuk mengikuti
program bayi tabung.

Apakah kista pada PCOS harus dioperasi?
Tidak. Kista-kista kecil pada PCOS adalah telur-telur yang terhambat pertumbuhannya sehingga gagal untuk mencapai ovulasi.
Pada PCOS ada operasi yang dapat dilakukan yaitu Laparoscopic Ovarian Drilling (LOD) yang dimaksudkan untuk menurunkan kadar hormon androgen pada indung telur. Biasanya operasi ini dilakukan jika penderita resisten terhadap obat peyubur telur namun belum siap untuk
mengikuti program bayi tabung.

Apakah PCOS dapat dicegah?
PCOS tidak dapat dicegah sepenuhya. Namun dampaknya dapat ditekan dengan memperhatikan pola hidup sehari-hari dengan gizi yang seimbang dan olahraga yang sesuai secara teratur. Dan jika didapatkan kondisi-kondisi yang mencurigakan seperti sulit hamil, obesitas atau gangguan
metabolisme lain, sebaiknya hubungi dokter anda.


Sumber Dokter Spesialis Kebidanan dan Kandungan:
dr. Arief Gazali, SpOG
dr. Kencana Shinta Moser, SpOG