Gejala TBC sering kali berawal dari keluhan yang terlihat sederhana. Batuk yang tidak kunjung reda, badan terasa lebih mudah lelah atau berat badan yang perlahan turun dapat dianggap sebagai akibat flu, alergi, kurang istirahat atau perubahan cuaca. Padahal, ketika keluhan berlangsung cukup lama dan disertai beberapa tanda lain, pemeriksaan tuberkulosis perlu dipertimbangkan.
Di Indonesia, batuk yang berlangsung lebih dari dua minggu merupakan salah satu tanda yang perlu mendapat perhatian. Terlebih jika batuk disertai penurunan berat badan, demam yang hilang timbul, berkeringat pada malam hari tanpa aktivitas berat, berkurangnya nafsu makan atau tubuh terasa lemah.
Tuberkulosis atau TBC merupakan penyakit infeksi yang disebabkan bakteri Mycobacterium tuberculosis. Penyakit ini paling sering menyerang paru, meskipun bakteri juga dapat menyerang organ lain seperti kelenjar getah bening, tulang, ginjal hingga selaput otak.
Persoalannya, gejala TBC tidak selalu muncul secara mendadak. Keluhannya dapat berkembang perlahan sehingga seseorang masih bekerja, bepergian dan menjalani aktivitas sehari hari tanpa menyadari bahwa dirinya perlu diperiksa.
Batuk Lebih dari Dua Minggu Perlu Mendapat Perhatian
Batuk menjadi tanda yang paling dikenal pada TBC paru. Namun, tidak setiap orang yang batuk selama beberapa hari berarti mengalami tuberkulosis. Batuk juga dapat muncul akibat flu, infeksi saluran pernapasan, asma, alergi, paparan asap hingga berbagai penyakit lainnya.
Hal yang perlu diperhatikan adalah lamanya keluhan.
Kementerian Kesehatan menggunakan batuk lebih dari dua minggu sebagai salah satu tanda untuk skrining TBC pada orang dewasa. Bahkan, batuk dengan durasi lebih singkat tetap dapat menjadi perhatian apabila disertai gejala tambahan yang mengarah pada tuberkulosis.
Batuk pada TBC dapat berupa batuk berdahak maupun keluhan batuk yang terus berulang. Pada kondisi tertentu, dahak dapat mengandung bercak darah.
Karena keluhannya bisa menyerupai penyakit pernapasan lain, pemeriksaan tenaga kesehatan diperlukan untuk mengetahui penyebab sebenarnya.
Mengonsumsi obat batuk berkali kali tanpa mengetahui penyebab keluhan bukan cara yang tepat apabila batuk terus berlangsung.
“Batuk yang tidak kunjung selesai sebaiknya tidak hanya dihitung berdasarkan seberapa berat suaranya. Durasi batuk dan gejala lain yang menyertainya jauh lebih penting untuk diperhatikan.”
Batuk TBC Bisa Terlihat Ringan pada Awalnya
Kesalahpahaman yang cukup sering terjadi adalah anggapan bahwa penderita TBC pasti mengalami batuk yang sangat berat sejak awal.
Pada kenyataannya, gejala dapat berkembang perlahan.
Seseorang mungkin hanya batuk sesekali, kemudian intensitasnya meningkat. Karena masih dapat melakukan aktivitas, keluhan tersebut dianggap tidak serius.
Sebagian orang juga mencoba berbagai obat batuk yang dijual bebas. Ketika gejala sedikit berkurang, pemeriksaan kembali ditunda.
Situasi tersebut dapat membuat penyebab batuk tidak segera diketahui.
Selain durasi, perhatikan apakah batuk disertai tubuh semakin lemah, berat badan menurun, nafsu makan berkurang, demam atau berkeringat saat malam.
Gabungan beberapa tanda tersebut menjadi alasan yang lebih kuat untuk mendatangi fasilitas kesehatan.
Berkeringat pada Malam Hari Bisa Menjadi Tanda TBC
Keringat malam merupakan salah satu gejala yang sering dikaitkan dengan TBC aktif.
Kondisinya berbeda dengan berkeringat karena kamar panas, menggunakan selimut tebal atau selesai melakukan aktivitas fisik.
Pada penderita TBC, keringat malam dapat muncul meskipun seseorang tidak melakukan aktivitas yang menyebabkan tubuh berkeringat.
Keluhan ini sering tidak dianggap penting karena seseorang mungkin hanya merasa pakaiannya lebih lembap ketika bangun tidur.
Jika hanya terjadi satu kali, keringat malam memang dapat disebabkan banyak hal. Namun, apabila keluhan terus berulang bersamaan dengan batuk berkepanjangan, demam atau penurunan berat badan, pemeriksaan sebaiknya tidak ditunda.
Catatan sederhana mengenai frekuensi keluhan dapat membantu ketika berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Sampaikan sejak kapan keringat malam terjadi dan apakah terdapat perubahan lain pada kondisi tubuh.
Berat Badan Turun Tanpa Diet Jangan Diabaikan
Penurunan berat badan merupakan gejala lain yang dapat muncul pada seseorang dengan TBC aktif.
Perubahannya tidak selalu langsung terlihat dalam hitungan hari. Berat badan dapat turun perlahan selama beberapa minggu sehingga baru disadari ketika pakaian mulai terasa lebih longgar.
Kondisi ini menjadi lebih mencurigakan jika seseorang tidak sedang menjalani program penurunan berat badan atau melakukan perubahan besar terhadap pola makan.
Tubuh yang sedang menghadapi infeksi dapat mengalami perubahan kebutuhan energi serta penurunan selera makan.
Akibatnya, berat badan dapat ikut berkurang.
Penurunan berat badan sendiri tidak spesifik hanya untuk TBC. Banyak penyakit lain dapat menimbulkan keluhan serupa.
Namun, jika berat badan turun bersama batuk lebih dari dua minggu, keringat malam atau demam berulang, pemeriksaan menjadi semakin penting.
Nafsu Makan Menurun Sering Muncul Bersama Berat Badan Turun
Sebagian penderita TBC mengalami penurunan nafsu makan. Makanan yang biasanya disukai dapat terasa kurang menarik dan porsi makan menjadi lebih kecil.
Jika berlangsung terus menerus, kondisi tersebut dapat ikut mempercepat penurunan berat badan.
Masalahnya, berkurangnya nafsu makan sering dianggap berasal dari stres, kelelahan atau kesibukan.
Karena itu, seseorang perlu melihat perubahan tubuh secara keseluruhan.
Jika nafsu makan berkurang selama beberapa minggu dan muncul bersamaan dengan batuk yang tidak selesai, tubuh lemah serta demam, pemeriksaan dapat membantu menemukan penyebabnya.
Pemenuhan nutrisi juga menjadi perhatian penting bagi seseorang yang sedang menjalani pemeriksaan atau pengobatan TBC.
Tubuh membutuhkan asupan yang cukup untuk mempertahankan kondisi selama proses pemulihan.
Demam TBC Tidak Selalu Tinggi
Demam akibat penyakit infeksi sering dibayangkan sebagai suhu tubuh yang langsung melonjak tinggi. Pada TBC, pola tersebut tidak selalu terjadi.
Demam dapat bersifat ringan dan hilang timbul.
Karena tidak selalu tinggi, seseorang mungkin tetap bekerja atau beraktivitas meskipun merasa tubuh sedikit lebih hangat dari biasanya.
Keluhan terkadang lebih terasa pada sore atau malam hari.
Jika demam berlangsung berulang tanpa penyebab yang jelas dan terjadi bersama batuk berkepanjangan, keringat malam serta penurunan berat badan, tenaga kesehatan dapat mempertimbangkan pemeriksaan TBC.
Mengandalkan obat penurun panas saja tidak menyelesaikan penyebab utama apabila memang terdapat infeksi tuberkulosis.
Obat mungkin membuat suhu turun untuk sementara, tetapi penyebab keluhan tetap memerlukan pemeriksaan.
Tubuh Mudah Lelah Meski Aktivitas Tidak Bertambah
Rasa lelah merupakan gejala yang sangat umum sehingga mudah diabaikan. Kurang tidur, pekerjaan yang padat dan aktivitas fisik memang dapat menyebabkan kelelahan.
Namun, kelelahan yang berkaitan dengan penyakit biasanya terasa terus menerus dan tidak sepenuhnya membaik meskipun waktu istirahat sudah cukup.
Orang dengan TBC aktif dapat merasa tubuh semakin lemah dan kemampuan menjalankan aktivitas berkurang.
Pekerjaan yang biasanya mudah dilakukan mulai terasa menguras tenaga.
Sebagian orang mungkin menghubungkannya dengan kurang vitamin atau kurang tidur, terutama jika batuk belum terasa berat.
Perhatikan apakah rasa lelah muncul bersama tanda lain.
Kombinasi antara batuk berkepanjangan, berat badan turun, nafsu makan berkurang dan tubuh lemah perlu mendapat evaluasi medis.
Dahak Berdarah Merupakan Tanda yang Tidak Boleh Ditunda
Batuk berdarah atau munculnya darah pada dahak sering membuat seseorang merasa khawatir. Keluhan ini memang tidak selalu disebabkan TBC, tetapi membutuhkan pemeriksaan medis.
Pada TBC paru, peradangan dan kerusakan jaringan dapat menyebabkan darah muncul bersama dahak.
Jumlahnya dapat berbeda pada setiap orang.
Ada yang hanya menemukan bercak tipis berwarna merah, sementara kondisi yang lebih berat dapat menghasilkan darah dalam jumlah lebih banyak.
Jangan mencoba menentukan penyebabnya sendiri hanya berdasarkan warna dahak.
Batuk darah juga dapat muncul pada penyakit paru lainnya sehingga pemeriksaan diperlukan.
Apabila darah yang keluar banyak, berulang, disertai sesak berat, nyeri dada hebat, pusing atau kondisi tubuh memburuk, pertolongan medis segera diperlukan.
Nyeri Dada dan Sesak Bisa Menyertai TBC Paru
TBC yang menyerang paru juga dapat menimbulkan rasa tidak nyaman atau nyeri pada dada.
Keluhan dapat terasa ketika bernapas dalam atau saat batuk.
Sebagian penderita juga melaporkan sesak napas, terutama jika penyakit telah memengaruhi fungsi paru secara lebih luas.
Namun, nyeri dada dan sesak merupakan keluhan yang mempunyai banyak kemungkinan penyebab.
Gangguan jantung, asma, infeksi paru lain hingga kondisi medis yang membutuhkan pertolongan segera dapat memberikan gejala serupa.
Karena itu, jangan menganggap semua nyeri dada pada orang yang batuk pasti berasal dari TBC.
Pemeriksaan tenaga medis diperlukan untuk membedakannya.
Jika sesak muncul mendadak atau sangat berat, jangan menunggu sampai durasi batuk mencapai dua minggu untuk mencari pertolongan.
TBC Menular Melalui Udara, Bukan Sekadar Percikan yang Jatuh ke Benda
Tuberkulosis dapat menular melalui udara dari seseorang dengan TBC paru atau saluran napas yang menular.
Bakteri dapat masuk ke udara ketika penderita bernapas, berbicara, batuk atau bersin. Orang lain kemudian dapat terpapar ketika menghirup udara yang mengandung bakteri tersebut.
Risiko penularan lebih tinggi pada kontak dekat dan berkepanjangan, terutama di ruangan tertutup dengan ventilasi kurang baik.
Karena itu, keluarga serumah atau orang yang sering berada dalam satu ruangan dengan pasien TBC dapat menjadi kelompok yang perlu menjalani skrining sesuai arahan tenaga kesehatan.
Ventilasi yang baik membantu pertukaran udara di dalam ruangan.
Etika batuk juga perlu dilakukan dengan menutup mulut dan hidung menggunakan tisu atau bagian dalam siku serta menggunakan masker ketika dianjurkan.
Terinfeksi Bakteri TBC Belum Tentu Mengalami TBC Aktif
Ada perbedaan antara infeksi TBC dan penyakit TBC aktif.
Seseorang dapat terinfeksi bakteri tuberkulosis tetapi tidak mengalami keluhan. Kondisi ini sering disebut infeksi TBC laten atau tidak aktif.
Pada keadaan tersebut, bakteri berada di dalam tubuh tetapi tidak menimbulkan penyakit aktif dan orang tersebut tidak menularkan TBC kepada orang lain.
Sebagian orang dengan infeksi TBC dapat tetap sehat dalam waktu lama.
Namun, sebagian lainnya dapat berkembang menjadi TBC aktif ketika bakteri mulai berkembang dan sistem pertahanan tubuh tidak mampu mengendalikannya.
Ketika TBC aktif terjadi, gejala dapat muncul dan pada TBC paru yang menular, bakteri dapat menyebar melalui udara.
Itulah sebabnya pemeriksaan dan penilaian tenaga kesehatan penting, terutama bagi orang yang mempunyai riwayat kontak erat dengan pasien TBC.
Diabetes dan Daya Tahan Tubuh Lemah Meningkatkan Risiko
Tidak semua orang yang terpapar bakteri TBC mempunyai risiko yang sama untuk mengalami penyakit aktif.
WHO mencatat beberapa kondisi yang berkaitan dengan peningkatan risiko, termasuk diabetes, kekurangan gizi, HIV yang melemahkan sistem kekebalan, penggunaan tembakau dan konsumsi alkohol yang berbahaya.
Orang yang menggunakan obat tertentu yang menekan sistem kekebalan juga perlu memperhatikan risiko sesuai kondisi medis masing masing.
Riwayat kontak dengan pasien TBC menjadi informasi penting ketika menemui dokter atau petugas kesehatan.
Jangan menyembunyikan informasi tersebut karena dapat membantu menentukan pemeriksaan yang diperlukan.
Bagi orang dengan faktor risiko, gejala yang terlihat ringan sebaiknya tidak otomatis dianggap sebagai batuk biasa.
Anak dengan TBC Tidak Selalu Menunjukkan Batuk sebagai Gejala Utama
Gejala TBC pada anak dapat lebih sulit dikenali dibanding orang dewasa.
Kementerian Kesehatan menekankan bahwa batuk sering kali bukan satu satunya atau bahkan bukan gejala utama pada anak.
Tanda yang perlu diperhatikan antara lain berat badan turun atau tidak naik dalam dua bulan, demam berkepanjangan, tubuh terlihat lesu serta berkurangnya aktivitas bermain.
Batuk yang menetap lebih dari dua minggu juga dapat ditemukan.
Orang tua sebaiknya memberi perhatian khusus jika anak mempunyai riwayat kontak erat dengan pasien TBC.
Penilaian pada anak tidak boleh dilakukan sendiri hanya berdasarkan satu gejala karena banyak penyakit anak memiliki keluhan yang mirip.
Pemeriksaan di fasilitas kesehatan memungkinkan tenaga medis menggabungkan riwayat kontak, gejala, pertumbuhan anak dan pemeriksaan lain yang diperlukan.
TBC Tidak Hanya Menyerang Paru
Sebagian besar orang mengenal TBC sebagai penyakit paru, tetapi bakteri tuberkulosis dapat menyerang bagian tubuh lainnya.
Kondisi tersebut dikenal sebagai TBC ekstra paru.
Gejala yang muncul bergantung pada organ yang terkena.
TBC kelenjar dapat menyebabkan pembesaran kelenjar getah bening. TBC tulang belakang dapat menimbulkan nyeri punggung. Jika mengenai ginjal, keluhan tertentu pada saluran kemih dapat muncul.
TBC yang mengenai selaput otak merupakan kondisi serius dan dapat menimbulkan sakit kepala, perubahan kesadaran atau kejang.
Karena gejalanya sangat beragam, TBC ekstra paru dapat lebih sulit dikenali.
Ketiadaan batuk bukan berarti seseorang pasti bebas dari penyakit TBC.
Pemeriksaan Dahak dan Tes Molekuler Membantu Menegakkan Diagnosis
Gejala saja tidak cukup untuk memastikan seseorang mengalami TBC.
Orang yang dicurigai mengalami TBC perlu menjalani pemeriksaan yang ditentukan tenaga kesehatan.
Pada dugaan TBC paru, sampel dahak dapat digunakan untuk mencari keberadaan bakteri.
WHO merekomendasikan penggunaan pemeriksaan diagnostik molekuler cepat sebagai pemeriksaan awal bagi orang dengan tanda dan gejala TBC sesuai ketersediaan serta sistem pelayanan kesehatan.
Pemeriksaan radiologi seperti rontgen dada juga dapat digunakan sebagai bagian dari evaluasi.
Hasilnya harus dinilai bersama riwayat kesehatan, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan laboratorium yang sesuai.
Karena gejala beberapa penyakit paru dapat terlihat mirip, diagnosis tidak sebaiknya dibuat hanya dengan melihat foto rontgen atau berdasarkan batuk semata.
TBC Bisa Disembuhkan Jika Pengobatan Dijalani Sesuai Aturan
TBC merupakan penyakit yang dapat diobati dan disembuhkan dengan obat antituberkulosis.
Pengobatan harus dijalani sesuai aturan tenaga kesehatan dalam jangka waktu yang telah ditentukan.
Pasien tidak dianjurkan menghentikan obat hanya karena batuk sudah berkurang atau tubuh terasa lebih sehat.
Bakteri mungkin masih berada di dalam tubuh meskipun keluhan mulai membaik.
Ketidakpatuhan menggunakan obat juga dapat menyulitkan keberhasilan terapi dan berhubungan dengan terjadinya TBC yang resistan terhadap obat.
Karena itu, jadwal minum obat dan pemeriksaan lanjutan perlu diikuti secara teratur.
Pasien yang mengalami keluhan setelah menggunakan obat juga sebaiknya tidak menghentikannya sendiri. Laporkan keluhan kepada petugas kesehatan agar dapat dilakukan penilaian.
“TBC bukan alasan untuk menjauhi seseorang. Yang dibutuhkan adalah diagnosis yang tepat, pengobatan sampai tuntas serta langkah pencegahan penularan yang sesuai.”
Batuk Dua Minggu Lebih Baik Diperiksa daripada Terus Menebak Penyebabnya
Masyarakat tidak perlu menunggu sampai mengalami batuk darah atau penurunan kondisi yang berat untuk memeriksakan diri.
Di Indonesia, batuk lebih dari dua minggu sudah menjadi alasan yang cukup untuk mempertimbangkan skrining TBC, terlebih jika disertai keringat malam, demam tanpa penyebab jelas, nafsu makan menurun atau berat badan berkurang.
Pemeriksaan juga penting jika seseorang pernah tinggal serumah atau sering berinteraksi dekat dengan pasien TBC.
Semakin cepat penyebab keluhan diketahui, semakin cepat langkah pengobatan dapat ditentukan apabila memang ditemukan penyakit.
Sebaliknya, jika pemeriksaan tidak menunjukkan TBC, tenaga kesehatan dapat mempertimbangkan penyebab batuk lainnya.
Puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan dapat menjadi tempat untuk memulai pemeriksaan ketika batuk terus berlangsung dan tidak kunjung membaik.
