Memberikan obat kepada anak sering menjadi tantangan tersendiri bagi orang tua. Ada anak yang langsung menutup mulut ketika melihat sendok obat, menangis saat mencium aromanya, memuntahkan cairan yang baru ditelan, atau bersembunyi setiap kali waktu minum obat tiba. Situasi seperti ini dapat membuat orang tua cemas karena khawatir dosis yang masuk tidak cukup untuk membantu proses pemulihan.
Keinginan agar anak segera sembuh terkadang membuat pemberian obat dilakukan dengan terburu buru. Padahal, cara yang kurang tepat dapat menyebabkan obat masuk ke saluran pernapasan, dosis tidak sesuai, atau anak menerima kandungan obat yang sama dari dua produk berbeda.
Anak bukan orang dewasa dalam ukuran tubuh yang lebih kecil. Jenis obat, jumlah dosis, jarak pemberian, dan bentuk sediaan perlu disesuaikan dengan usia, berat badan, kondisi kesehatan, serta petunjuk dokter atau apoteker. Karena itu, orang tua sebaiknya tidak mengandalkan perkiraan ketika memberikan obat.
Kenali Obat Sebelum Memberikannya kepada Anak
Sebelum membuka botol atau kemasan obat, orang tua perlu memahami nama obat, kegunaan, dosis, waktu pemberian, dan berapa lama obat harus digunakan. Informasi tersebut biasanya tercantum pada etiket resep atau kemasan.
Apabila obat diperoleh melalui resep, periksa nama pasien yang tertulis pada etiket. Pastikan obat tersebut memang ditujukan untuk anak yang sedang sakit, terutama apabila beberapa anggota keluarga sedang menggunakan obat secara bersamaan.
Perhatikan pula petunjuk penggunaan. Ada obat yang diminum sebelum makan, bersama makanan, atau setelah makan. Ketentuan tersebut tidak sebaiknya diubah tanpa alasan karena makanan dapat memengaruhi penyerapan atau menimbulkan keluhan pada lambung.
Tanggal kedaluwarsa juga harus diperiksa. Obat cair yang berubah warna, mengental, menggumpal, berbau tidak biasa, atau kemasannya rusak sebaiknya tidak langsung diberikan. Jika ragu terhadap kondisi obat, tanyakan kepada apoteker sebelum menggunakannya.
Ketelitian sebelum memberikan obat jauh lebih penting daripada kecepatan memasukkan obat ke mulut anak. Satu kali pemeriksaan ulang dapat mencegah kesalahan dosis dan penggunaan obat yang tidak sesuai.
Dosis Anak Tidak Boleh Ditentukan Berdasarkan Perkiraan
Dosis obat anak sering dihitung berdasarkan berat badan. Karena itu, dua anak dengan usia yang sama belum tentu membutuhkan jumlah obat yang sama.
Gunakan berat badan terbaru, terutama apabila anak sudah lama tidak ditimbang. Jangan menaikkan dosis karena demam terlihat tinggi atau anak tampak lebih lemas. Dosis yang lebih besar tidak membuat obat bekerja lebih cepat dan justru dapat meningkatkan risiko efek samping atau keracunan.
Orang tua juga perlu memperhatikan konsentrasi obat. Dua botol dengan nama zat aktif yang sama dapat memiliki kandungan berbeda dalam setiap mililiter. Dosis tiga mililiter dari satu produk belum tentu sama dengan tiga mililiter dari produk lain.
Jangan menggunakan aturan dosis milik saudara, tetangga, atau anak lain. Riwayat alergi, berat badan, penyakit penyerta, dan obat lain yang sedang digunakan dapat memengaruhi keamanan obat.
Gunakan Alat Ukur yang Tepat
Sendok makan dan sendok teh di rumah tidak dibuat sebagai alat pengukur obat. Ukurannya dapat berbeda sehingga jumlah cairan yang diberikan berisiko lebih banyak atau lebih sedikit dari seharusnya.
Gunakan spuit oral, pipet obat, sendok takar, atau gelas ukur yang memiliki skala mililiter. Spuit oral umumnya lebih mudah digunakan pada bayi dan anak kecil karena jumlah obat dapat diukur dengan lebih teliti.
Pastikan satuan pada alat ukur sama dengan petunjuk pada etiket. Miligram dan mililiter bukan satuan yang sama. Miligram menunjukkan jumlah zat obat, sedangkan mililiter menunjukkan volume cairan.
Saat menggunakan spuit, baca skala pada posisi sejajar dengan mata. Hilangkan gelembung udara besar sebelum obat diberikan. Setelah digunakan, cuci alat ukur dan simpan bersama obat agar tidak tertukar dengan alat dari produk lain.
Posisikan Anak dengan Aman
Obat cair sebaiknya diberikan saat anak berada dalam posisi duduk atau setengah duduk. Hindari memberikan obat ketika anak berbaring telentang karena cairan dapat mengalir terlalu cepat ke bagian belakang tenggorokan.
Untuk bayi, orang tua dapat memangku anak dengan kepala sedikit lebih tinggi. Pegang tubuhnya dengan lembut tetapi stabil agar gerakannya tetap terkendali.
Masukkan ujung spuit ke bagian dalam pipi, bukan langsung ke tengah lidah atau tenggorokan. Tekan spuit secara perlahan dan berikan obat sedikit demi sedikit. Beri waktu agar anak dapat menelan sebelum bagian berikutnya dimasukkan.
Apabila anak batuk, tersedak, atau kesulitan bernapas, hentikan pemberian sementara. Jangan terus menekan spuit ketika anak sedang menangis keras karena pola napasnya tidak teratur.
Bangun Suasana yang Tenang
Anak sering menolak obat bukan hanya karena rasa pahit, tetapi juga karena takut. Suara tinggi, ekspresi panik, atau gerakan memaksa dapat membuat anak semakin cemas.
Berikan penjelasan sederhana sesuai usianya. Katakan bahwa obat membantu tubuh melawan rasa sakit atau membuatnya merasa lebih nyaman. Hindari menyebut obat sebagai permen karena anak dapat menganggap semua obat aman untuk dikonsumsi kapan saja.
Untuk anak yang sudah mampu memilih, berikan pilihan kecil yang tidak mengubah aturan. Anak dapat memilih duduk di pangkuan ibu atau ayah, menggunakan spuit atau sendok takar, serta minum air sebelum atau setelah obat.
Pujian setelah anak berhasil minum obat dapat membantu membentuk pengalaman yang lebih baik. Pelukan, stiker, atau membaca cerita singkat dapat digunakan sebagai penghargaan.
Jangan menakut nakuti anak dengan ancaman suntikan atau rumah sakit. Cara tersebut dapat menimbulkan ketakutan ketika anak benar benar membutuhkan pemeriksaan medis.
Jangan Berbohong soal Rasa Obat
Orang tua terkadang mengatakan bahwa obat pasti manis agar anak mau membuka mulut. Cara ini mungkin berhasil sekali, tetapi dapat membuat anak kehilangan kepercayaan ketika ternyata rasanya pahit.
Lebih baik mengatakan bahwa rasa obat mungkin kurang enak, tetapi hanya berlangsung sebentar. Setelah obat ditelan, anak dapat minum air atau melakukan kegiatan yang disukainya.
Kejujuran sederhana membuat anak lebih siap menghadapi rasa obat. Anak juga akan memahami bahwa orang tua tidak sedang mencoba menipunya.
Anak yang merasa aman dan dipercaya biasanya lebih mudah diajak bekerja sama dibandingkan anak yang terus dipaksa tanpa penjelasan.
Jangan Mencampur Obat Sembarangan dengan Makanan
Mencampur obat dengan susu, jus, atau makanan memang dapat membantu menutupi rasa. Namun, tidak semua obat aman dicampurkan.
Beberapa obat dapat berinteraksi dengan makanan atau minuman tertentu. Ada pula tablet yang tidak boleh dihancurkan karena memiliki lapisan khusus agar zat aktif dilepaskan perlahan atau bekerja di bagian tertentu dalam saluran pencernaan.
Jika dokter atau apoteker mengizinkan obat dicampur, gunakan makanan dalam jumlah sedikit. Pastikan anak menghabiskan seluruh campuran agar dosis yang masuk tetap lengkap.
Jangan mencampurkan obat ke dalam satu botol susu penuh. Apabila anak hanya menghabiskan sebagian, orang tua tidak dapat mengetahui jumlah obat yang sudah tertelan.
Rasa susu yang berubah juga dapat membuat anak menolak minuman tersebut pada kesempatan berikutnya. Karena itu, penggunaan makanan sebagai campuran perlu dilakukan secara hati hati.
Kocok Obat Cair Sesuai Petunjuk
Sebagian obat cair perlu dikocok sebelum digunakan karena zat aktifnya dapat mengendap di bagian bawah botol. Jika tidak dikocok, dosis yang diberikan mungkin tidak merata.
Baca etiket untuk memastikan apakah obat perlu dikocok. Kocok perlahan sampai cairan tercampur rata, kemudian ukur dosis menggunakan alat yang tepat.
Jangan mengguncang terlalu keras apabila obat mudah berbusa. Busa dapat menyulitkan pengukuran volume dan membuat jumlah cairan dalam spuit terlihat tidak tepat.
Setelah digunakan, tutup botol dengan rapat. Bersihkan bagian mulut botol apabila ada cairan yang menempel agar obat tetap bersih selama masa penggunaan.
Buat Catatan Jadwal Minum Obat
Ketika anak sakit, ayah, ibu, atau anggota keluarga lain dapat bergantian merawatnya. Tanpa catatan, anak berisiko menerima dosis dua kali karena masing masing mengira obat belum diberikan.
Tuliskan nama obat, jumlah dosis, dan waktu pemberian. Catatan dapat ditempel dekat tempat penyimpanan obat atau dibuat melalui telepon genggam.
Gunakan alarm apabila obat perlu diberikan pada waktu tertentu. Namun, jadwal tetap harus mengikuti petunjuk. Obat yang diminum tiga kali sehari belum tentu selalu berarti harus diberikan setiap delapan jam. Pembagian waktunya perlu dipastikan kepada tenaga kesehatan.
Jangan memberikan dosis ganda untuk mengganti jadwal yang terlewat. Cara menangani dosis terlewat dapat berbeda tergantung jenis obat.
Waspadai Kandungan yang Sama pada Produk Berbeda
Obat demam, batuk, pilek, dan alergi dapat memiliki nama merek yang berbeda tetapi mengandung zat aktif serupa. Jika dua produk diberikan bersamaan, anak berisiko menerima dosis berlebihan.
Bacalah bagian komposisi pada kemasan, bukan hanya nama merek. Perhatikan apakah produk mengandung parasetamol, ibuprofen, antihistamin, atau zat lain yang juga terdapat pada obat berbeda.
Kelebihan parasetamol dapat menyebabkan kerusakan hati. Gejalanya tidak selalu langsung terlihat sehingga dugaan pemberian dosis berlebih tidak boleh dianggap ringan.
Pemberian parasetamol dan ibuprofen secara bergantian juga dapat membuat jadwal menjadi rumit. Jangan menggunakan pola tersebut tanpa arahan dokter atau apoteker.
Obat Demam Bertujuan Membuat Anak Nyaman
Demam merupakan respons tubuh terhadap penyakit dan tidak selalu harus diturunkan sampai suhu kembali normal. Obat penurun demam terutama digunakan untuk membuat anak lebih nyaman, dapat beristirahat, dan mau minum.
Gunakan obat sesuai usia, berat badan, dan kondisi anak. Jangan memberikan obat penurun demam hanya berdasarkan suhu tanpa memperhatikan keadaan umum anak.
Anak yang tetap aktif, mau minum, dan dapat berinteraksi mungkin membutuhkan pemantauan yang berbeda dibandingkan anak yang tampak sangat lemas atau sulit dibangunkan.
Ibuprofen perlu digunakan dengan hati hati pada anak yang mengalami dehidrasi, gangguan ginjal, atau kondisi tertentu. Parasetamol juga harus diberikan sesuai dosis dan jarak waktu yang benar.
Aspirin tidak boleh diberikan kepada anak tanpa petunjuk dokter karena dapat berhubungan dengan kondisi serius, terutama ketika anak mengalami infeksi virus.
Antibiotik Tidak Diberikan untuk Semua Penyakit
Antibiotik digunakan untuk menangani infeksi bakteri tertentu. Obat ini tidak bekerja terhadap sebagian besar penyakit akibat virus, seperti pilek dan influenza.
Jangan menggunakan antibiotik sisa dari penyakit sebelumnya. Jenis bakteri, lokasi infeksi, dosis, dan lama pengobatan dapat berbeda pada setiap penyakit.
Antibiotik juga tidak boleh diberikan kepada saudara atau anak lain meskipun gejalanya terlihat sama. Gejala yang mirip belum tentu berasal dari penyebab yang sama.
Gunakan antibiotik sesuai resep. Jangan menghentikan, memperpanjang, mengganti, atau mengurangi dosis sendiri. Jika anak mengalami reaksi atau sulit mengonsumsi obat, hubungi tenaga kesehatan.
Penggunaan antibiotik yang tidak tepat dapat menyebabkan resistansi. Kondisi ini membuat bakteri tidak lagi merespons obat yang sebelumnya efektif sehingga pengobatan menjadi lebih sulit.
Saat Anak Memuntahkan Obat
Anak dapat muntah beberapa saat setelah menelan obat. Dalam keadaan seperti ini, jangan langsung memberikan dosis ulang karena sebagian obat mungkin sudah masuk ke tubuh.
Tindakan yang tepat bergantung pada jenis obat, waktu muntah, dan jumlah obat yang terlihat keluar. Untuk beberapa obat, orang tua dapat diminta menunggu jadwal berikutnya. Obat lain mungkin memiliki aturan berbeda.
Hubungi dokter atau apoteker jika tidak yakin. Memberikan ulang dosis tanpa petunjuk dapat membuat anak menerima obat terlalu banyak.
Jika anak terus muntah, tidak dapat minum, buang air kecil berkurang, bibir kering, atau tampak sangat lemas, ia perlu diperiksa karena berisiko mengalami dehidrasi.
Jangan Paksa Anak dengan Cara Berbahaya
Memegang hidung agar anak membuka mulut bukan cara yang aman. Tindakan ini dapat membuat anak panik dan meningkatkan risiko tersedak.
Jangan menuangkan obat dalam jumlah besar sekaligus ke bagian belakang tenggorokan. Cairan dapat masuk ke saluran pernapasan, terutama ketika anak sedang meronta atau menangis.
Apabila anak terus menolak, hentikan sejenak dan tenangkan suasana. Coba lagi dengan posisi berbeda, alat ukur yang lebih nyaman, atau bantuan anggota keluarga lain.
Jika sebagian besar dosis selalu keluar, tanyakan kepada tenaga kesehatan apakah tersedia rasa, konsentrasi, atau bentuk obat lain yang lebih mudah diberikan.
Simpan Obat Jauh dari Jangkauan Anak
Semua obat harus disimpan di tempat tinggi, tertutup, dan tidak terlihat oleh anak. Tutup pengaman bukan jaminan bahwa botol tidak dapat dibuka.
Jangan meninggalkan obat di meja, tas tangan, samping tempat tidur, atau dalam kendaraan. Obat milik orang dewasa juga dapat berbahaya bagi anak meskipun jumlah yang tertelan sedikit.
Simpan obat dalam kemasan aslinya. Kemasan tersebut memuat nama obat, konsentrasi, tanggal kedaluwarsa, dan petunjuk penyimpanan.
Jangan memindahkan tablet ke wadah makanan atau botol minuman. Bentuk dan warna obat dapat menarik perhatian anak sehingga dianggap sebagai permen.
Setelah mengambil dosis, segera tutup kembali botol dan kembalikan ke tempat penyimpanan. Kebiasaan sederhana ini membantu mencegah anak mengambil obat saat orang tua sedang lengah.
Amati Reaksi Setelah Obat Diberikan
Sebagian obat dapat menyebabkan efek samping ringan seperti mual, sakit perut, mengantuk, atau perubahan buang air besar. Namun, orang tua perlu memperhatikan tanda reaksi serius.
Cari pertolongan medis segera apabila anak mengalami sesak napas, wajah atau lidah membengkak, bibir membiru, sulit menelan, pingsan, kejang, atau sangat sulit dibangunkan.
Ruam yang muncul setelah minum obat perlu diperhatikan, terutama jika disertai gatal hebat, pembengkakan, atau gangguan pernapasan.
Jika anak diduga menelan obat terlalu banyak atau mengonsumsi obat milik orang lain, jangan menunggu gejala muncul. Segera bawa anak ke fasilitas kesehatan.
Bawa kemasan obat atau foto produknya. Informasi mengenai nama obat, konsentrasi, jumlah yang mungkin tertelan, dan waktu kejadian sangat membantu tenaga medis menentukan penanganan.
Kenali Saat Anak Harus Segera Diperiksa
Obat di rumah tidak boleh menjadi alasan untuk menunda pemeriksaan ketika kondisi anak terlihat serius. Anak perlu segera dibawa mencari pertolongan apabila napasnya cepat atau berat, dada tertarik saat bernapas, bibir membiru, atau responsnya tidak seperti biasa.
Pemeriksaan juga diperlukan jika anak mengalami kejang, leher kaku, muntah terus menerus, tidak dapat mempertahankan cairan, atau tampak sangat mengantuk.
Bayi berusia kurang dari tiga bulan dengan suhu tubuh 38 derajat Celsius atau lebih perlu segera dinilai oleh tenaga kesehatan. Pada usia tersebut, demam dapat menjadi tanda infeksi serius meskipun bayi terlihat tenang.
Orang tua juga perlu mencari bantuan jika kondisi anak memburuk, demam berlangsung lama, muncul ruam yang tidak biasa, atau rasa sakit tidak membaik setelah obat diberikan sesuai petunjuk.
Kemampuan orang tua mengenali perubahan perilaku anak sangat penting. Anak yang biasanya aktif tetapi tiba tiba diam, sulit dibangunkan, menolak minum, atau menangis tanpa henti memerlukan perhatian lebih lanjut.
