Penyakit Alkitab Bangkit di Afrika Ancaman Mematikan Baru?

Pemberitaan tentang penyakit alkitab bangkit di Afrika dalam beberapa tahun terakhir memicu kekhawatiran global. Wabah cacar monyet, pes, antraks, hingga demam berdarah hemoragik yang mengingatkan pada kisah kuno dalam kitab suci, membuat banyak orang bertanya: apakah kita sedang menyaksikan kebangkitan penyakit yang dulu hanya kita kenal dari sejarah dan teks keagamaan. Di tengah perubahan iklim, kemiskinan, dan sistem kesehatan yang ringkih, Afrika menjadi panggung terbuka di mana patogen lama menemukan kesempatan baru untuk menyebar dan bermutasi.

Sebagai jurnalis kesehatan, saya melihat fenomena ini bukan sekadar judul sensasional, tetapi sebagai alarm keras bahwa penyakit yang pernah kita kira “punah” atau terkendali ternyata hanya tertidur, bukan hilang. Kini, kombinasi faktor biologis, sosial, dan politik seperti menyiramkan bensin ke bara yang selama ini tersembunyi di bawah permukaan.

Mengapa Istilah “Penyakit Alkitab Bangkit di Afrika” Muncul?

Istilah “penyakit Alkitab” sering dipakai media ketika membahas wabah yang terdengar kuno dan menakutkan. Ketika muncul laporan penyakit alkitab bangkit di afrika, yang dimaksud biasanya adalah penyakit menular yang telah dikenal sejak ribuan tahun lalu, sering dikaitkan dengan kutukan, tulah, atau azab dalam kitab suci.

Beberapa ciri yang membuat penyakit ini diberi label “Alkitab”
Penyakitnya sudah dikenal sejak zaman kuno, sebelum era antibiotik dan vaksin.
Gejala klinisnya dramatis: borok, pendarahan, pembengkakan kelenjar, ruam luas di kulit, atau kematian cepat.
Sering disebut dalam teks keagamaan atau catatan sejarah kuno sebagai wabah besar.

Penting untuk dipahami, istilah ini bukan istilah medis, melainkan istilah populer yang dipakai media dan publik. Namun, di balik istilah yang terdengar religius ini, ada realitas epidemiologi yang sangat modern: perubahan iklim, urbanisasi liar, konflik bersenjata, dan ketimpangan akses kesehatan.

> “Penyakit kuno tidak pernah benar benar pergi. Mereka hanya menunggu celah baru di dunia yang berubah lebih cepat daripada kemampuan kita untuk mengendalikannya.”

Daftar “Penyakit Alkitab” yang Kembali Muncul di Afrika

Label penyakit alkitab bangkit di afrika biasanya merujuk pada beberapa penyakit yang memiliki sejarah panjang dan profil klinis yang menakutkan. Di Afrika, beberapa yang paling menonjol adalah pes, cacar monyet, lepra, antraks, dan berbagai demam berdarah virus.

Pes Hitam Modern Wabah Kuno yang Belum Usai

Pes, yang secara historis dikenal sebagai “Black Death”, adalah salah satu penyakit paling mematikan dalam sejarah manusia. Disebabkan oleh bakteri *Yersinia pestis*, penyakit ini menyebar melalui gigitan kutu yang hidup pada tikus dan hewan pengerat lain.

Di Afrika, terutama di Afrika Timur dan beberapa wilayah Afrika Selatan dan Madagaskar, kasus pes masih muncul. Wabah di Madagaskar secara berkala dilaporkan, dengan ratusan kasus dalam beberapa musim transmisi.

Mengapa pes dianggap bagian dari “penyakit Alkitab”
Sudah dikenal sejak ribuan tahun lalu dan diduga terkait dengan beberapa wabah besar di Timur Tengah dan Eropa.
Gejala khas berupa pembengkakan kelenjar getah bening yang sangat nyeri (bubo), demam tinggi, dan bisa berujung pada kematian cepat.
Dalam bentuk pes pneumonik, bakteri menyerang paru paru dan bisa menyebar antarmanusia melalui droplet, menjadikannya sangat menular.

Yang mengkhawatirkan, pes adalah contoh klasik bagaimana penyakit zoonosis yang berakar pada ekosistem hewan dapat “meloncat” ke manusia ketika habitat hewan terganggu atau ketika sanitasi buruk.

Cacar Monyet Wajah Baru Cacar di Benua Hitam

Cacar monyet atau monkeypox, yang kini secara resmi dikenal sebagai mpox, adalah salah satu penyakit yang sering dimasukkan dalam narasi penyakit alkitab bangkit di afrika karena kemiripannya dengan cacar (smallpox) yang dulu menewaskan jutaan orang.

Mpox disebabkan oleh virus orthopox yang berkerabat dengan virus variola (penyebab cacar). Penyakit ini pertama kali diidentifikasi pada hewan di Afrika, dan kemudian pada manusia. Gejalanya meliputi demam, nyeri otot, pembengkakan kelenjar, dan ruam kulit yang berkembang menjadi lenting berisi cairan lalu bernanah.

Mengapa mpox menjadi sorotan
Sempat dianggap penyakit terbatas di Afrika Tengah dan Barat, tetapi kemudian menyebar ke banyak negara di luar Afrika.
Ada kekhawatiran bahwa penghentian vaksinasi cacar sejak 1980 membuat generasi baru tidak lagi memiliki kekebalan silang terhadap virus orthopox.
Kasus berat bisa terjadi pada anak anak, ibu hamil, dan orang dengan gangguan kekebalan.

Di beberapa wilayah Afrika, mpox tidak hanya menjadi masalah kesehatan, tetapi juga masalah sosial. Stigma, kurangnya akses diagnosis, dan minimnya vaksin membuat wabah sulit dikendalikan.

Lepra Luka Kuno yang Belum Sembuh di Afrika

Lepra atau kusta sering disebut dalam kitab suci dan teks keagamaan sebagai penyakit yang membuat penderitanya dikucilkan. Di Afrika, lepra masih menjadi masalah kesehatan masyarakat di sejumlah negara, meskipun sudah jauh berkurang dibandingkan abad lalu.

Penyebabnya adalah bakteri *Mycobacterium leprae* yang menyerang kulit, saraf tepi, dan kadang mukosa saluran pernapasan atas. Penyakit ini berkembang sangat lambat, bisa bertahun tahun sebelum gejala muncul.

Mengapa lepra tetap bertahan
Kemiskinan dan kepadatan hunian yang tinggi mempermudah penularan.
Kurangnya edukasi membuat orang terlambat berobat, sehingga kerusakan saraf dan kecacatan menjadi permanen.
Stigma sosial membuat banyak penderita takut mencari bantuan medis.

Lepra bisa disembuhkan dengan terapi kombinasi antibiotik yang disediakan gratis di banyak negara. Namun, jika tidak ditangani dini, kerusakan yang terjadi bersifat permanen, membuat penderita tidak hanya menderita secara fisik, tetapi juga sosial dan ekonomi.

Antraks di Pedesaan Afrika Luka Kulit hingga Kematian Mendadak

Antraks adalah infeksi bakteri *Bacillus anthracis* yang membentuk spora sangat tahan lama di tanah. Penyakit ini sering menyerang hewan ternak seperti sapi, kambing, dan domba. Manusia tertular ketika bersentuhan dengan hewan atau produk hewan yang terinfeksi.

Di Afrika, antraks sering muncul di daerah pedesaan yang menggantungkan hidup pada peternakan, tetapi memiliki akses terbatas terhadap layanan veteriner dan vaksinasi hewan.

Bentuk klinis antraks
Antraks kulit: luka seperti gigitan serangga yang berkembang menjadi ulkus hitam dengan tepi bengkak.
Antraks inhalasi: sangat mematikan, terjadi ketika spora terhirup, menyebabkan gejala mirip flu yang cepat memburuk menjadi sesak napas berat.
Antraks gastrointestinal: akibat makan daging hewan yang terinfeksi dan tidak dimasak sempurna, menimbulkan nyeri perut hebat, muntah, dan diare berdarah.

Dalam konteks penyakit alkitab bangkit di afrika, antraks adalah pengingat bahwa pengelolaan kesehatan hewan dan keamanan pangan adalah bagian tak terpisahkan dari pencegahan wabah pada manusia.

Demam Berdarah Virus yang Menyerupai Tulah

Beberapa virus yang menyebabkan demam berdarah hemoragik di Afrika sering dikaitkan dengan gambaran “tulah” dalam teks kuno karena gejalanya yang dramatis: demam tinggi, muntah, diare, pendarahan dari gusi atau hidung, dan kegagalan organ.

Contoh virus ini antara lain
Virus Ebola
Virus Marburg
Virus Lassa
Virus Crimean Congo Hemorrhagic Fever

Meski tidak semuanya tercatat secara eksplisit dalam teks keagamaan, gambaran klinisnya sering dikaitkan dengan deskripsi wabah yang menghancurkan dalam sejarah dan kitab kuno. Penyakit penyakit ini biasanya berawal dari kontak manusia dengan hewan reservoir seperti kelelawar, tikus, atau hewan liar lain, lalu menyebar antarmanusia melalui cairan tubuh.

Faktor Lingkungan dan Sosial yang Memicu Kebangkitan Penyakit

Fenomena penyakit alkitab bangkit di afrika tidak bisa dipisahkan dari perubahan besar yang terjadi di benua tersebut. Patogen memang ada, tetapi yang membuat mereka “bangkit” adalah lingkungan yang berubah dan sistem sosial yang rapuh.

Perubahan Iklim Menggeser Peta Penyakit Kuno

Perubahan iklim mempengaruhi distribusi vektor, reservoir hewan, dan pola hidup manusia. Suhu yang meningkat, pola hujan yang berubah, dan kekeringan berkepanjangan menciptakan kondisi baru bagi patogen.

Contoh perubahan yang memicu penyakit
Wilayah yang dulu terlalu dingin untuk nyamuk kini menjadi cukup hangat, memperluas area risiko malaria dan demam berdarah.
Kekeringan memaksa hewan liar mendekati pemukiman manusia untuk mencari air dan makanan, meningkatkan kontak dan risiko zoonosis.
Banjir besar setelah hujan ekstrem merusak sanitasi, mencemari sumber air, dan memicu wabah penyakit yang ditularkan melalui air.

Di Afrika, di mana banyak populasi bergantung pada pertanian subsisten dan air permukaan, perubahan iklim langsung memengaruhi kesehatan. Patogen lama yang sebelumnya “terkunci” dalam ekosistem tertentu kini menemukan jalur baru untuk berpindah.

Urbanisasi Liar dan Pemukiman Tanpa Sanitasi

Pertumbuhan kota di Afrika terjadi sangat cepat, sering kali tanpa perencanaan tata ruang dan infrastruktur yang memadai. Muncul kawasan kumuh padat penduduk dengan sanitasi buruk, drainase tidak memadai, dan akses layanan kesehatan terbatas.

Kondisi ini menciptakan lingkungan ideal bagi penyebaran penyakit menular
Kepadatan penduduk memudahkan penularan antarmanusia.
Sampah menumpuk dan air tergenang menjadi tempat berkembang biak vektor seperti nyamuk dan lalat.
Kurangnya air bersih mendorong penggunaan sumber air yang tercemar.

Urbanisasi juga sering memotong habitat hewan liar, menciptakan “zona kontak” baru antara manusia dan hewan yang membawa patogen. Pasar hewan hidup, konsumsi daging hewan liar, dan pemukiman di pinggir hutan menjadi titik rawan munculnya penyakit zoonosis baru maupun lama.

Konflik, Kemiskinan, dan Sistem Kesehatan yang Rapuh

Banyak negara di Afrika yang masih berjuang dengan konflik bersenjata, instabilitas politik, dan kemiskinan struktural. Dalam situasi seperti ini, sistem kesehatan mudah runtuh.

Dampak langsung pada kebangkitan penyakit
Program vaksinasi terganggu, menyebabkan penurunan cakupan imunisasi.
Fasilitas kesehatan rusak atau tidak berfungsi, tenaga kesehatan mengungsi atau menjadi korban kekerasan.
Masyarakat kehilangan akses pada layanan dasar, termasuk obat obatan dan air bersih.

Kombinasi ini menciptakan kondisi di mana penyakit yang seharusnya bisa dicegah dan dikendalikan kembali muncul dalam skala besar. Penyakit seperti campak, kolera, dan bahkan polio yang hampir dieliminasi bisa kembali menghantam populasi rentan.

Perspektif Ilmiah terhadap “Kebangkitan” Penyakit Kuno

Ketika media menulis penyakit alkitab bangkit di afrika, sering muncul kesan bahwa penyakit ini muncul dari “kekosongan” atau sebagai hukuman supranatural. Ilmu kedokteran dan epidemiologi memberi penjelasan yang jauh lebih konkret.

Patogen Tidak Hilang, Hanya Berubah Habitat

Banyak patogen yang kita anggap “hilang” sebenarnya tetap bertahan di reservoir hewan atau lingkungan. Pes tetap hidup pada populasi tikus liar, antraks bertahan sebagai spora di tanah, virus Ebola ada pada kelelawar tertentu.

Yang berubah adalah
Intensitas dan pola kontak manusia dengan reservoir patogen.
Perlindungan populasi, misalnya berhentinya program vaksin tertentu.
Perilaku manusia, termasuk deforestasi, perburuan, dan perdagangan hewan liar.

Dari sudut pandang ilmiah, yang kita sebut “kebangkitan” adalah perubahan keseimbangan antara patogen, inang hewan, manusia, dan lingkungan.

Evolusi Virus dan Bakteri di Era Modern

Virus dan bakteri bereplikasi dengan cepat, sehingga mutasi terjadi terus menerus. Sebagian besar mutasi tidak berarti, tetapi beberapa dapat meningkatkan kemampuan penularan, menghindari sistem kekebalan, atau mengubah tingkat keparahan penyakit.

Di Afrika, di mana transmisi penyakit zoonosis tinggi dan pengawasan genomik sering terbatas, ada risiko bahwa perubahan genetik patogen tidak terdeteksi dengan cepat. Hal ini dapat menyebabkan keterlambatan dalam merespons wabah baru atau varian baru dari penyakit lama.

Kita belajar dari pandemi COVID 19 bahwa kemampuan mengurutkan genom virus secara cepat dan luas sangat penting. Untuk penyakit penyakit yang dikaitkan dengan penyakit alkitab bangkit di afrika, kapasitas ini masih belum merata di seluruh benua.

Resistensi Antibiotik dan Antimikroba

Beberapa penyakit bakteri yang dulu relatif mudah diobati kini menjadi tantangan karena resistensi obat. Penggunaan antibiotik yang tidak rasional, baik pada manusia maupun hewan, mempercepat proses ini.

Contoh konsekuensi resistensi
Infeksi kulit yang sederhana dapat berkembang menjadi sepsis yang sulit diobati.
Penyakit menular seksual seperti gonore menjadi kebal terhadap beberapa lini antibiotik.
Penyakit saluran napas dan infeksi saluran kemih memerlukan terapi yang lebih mahal dan kompleks.

Dalam konteks wabah, resistensi antibiotik berarti lebih banyak kematian yang seharusnya bisa dicegah. Ini menambah lapisan ancaman pada kebangkitan penyakit lama.

Dimensi Keagamaan dan Budaya dalam Menyikapi Wabah

Istilah penyakit alkitab bangkit di afrika tidak hanya bersifat medis, tetapi juga menyentuh aspek keagamaan dan budaya. Cara masyarakat memahami penyakit mempengaruhi cara mereka meresponsnya.

Ketika Wabah Dipahami sebagai Kutukan atau Ujian

Di banyak komunitas di Afrika, interpretasi agama dan spiritual sangat kuat. Wabah sering dipahami sebagai ujian, kutukan, atau peringatan dari Tuhan. Perspektif ini bisa mempunyai sisi positif maupun negatif.

Sisi positif
Mendorong solidaritas sosial dan dukungan komunitas bagi yang sakit.
Menguatkan kepasrahan dan ketahanan mental di tengah krisis.

Sisi negatif
Membuat sebagian orang menolak intervensi medis modern karena dianggap melawan “takdir”.
Memicu stigma terhadap kelompok tertentu yang dianggap “pembawa kutukan”.

Bagi tenaga kesehatan, memahami kerangka berpikir ini penting agar pesan kesehatan dapat disampaikan dengan cara yang tidak bertentangan dengan keyakinan, tetapi justru memanfaatkannya untuk mendorong perilaku sehat.

Peran Pemimpin Agama dan Tokoh Adat

Dalam banyak masyarakat Afrika, pemimpin agama dan tokoh adat memiliki pengaruh besar. Mereka bisa menjadi sekutu penting dalam perang melawan penyakit menular.

Peran yang bisa mereka mainkan
Mendorong jamaah atau komunitas untuk mengikuti program vaksinasi.
Menghapus stigma terhadap penderita penyakit tertentu, seperti lepra atau HIV.
Menyebarkan informasi yang benar tentang cara penularan penyakit.

Namun, jika mereka terpapar informasi salah atau teori konspirasi, pengaruhnya bisa berbalik menjadi hambatan. Oleh karena itu, keterlibatan mereka dalam perencanaan respon wabah sangat krusial.

> “Di banyak desa, suara dokter tidak akan didengar sampai disetujui oleh suara pemimpin agama. Kesehatan publik di Afrika tidak bisa dipisahkan dari mimbar dan balai adat.”

Upaya Internasional dan Lokal Menghadapi Ancaman Ini

Fenomena penyakit alkitab bangkit di afrika telah memicu berbagai inisiatif di tingkat lokal, nasional, dan internasional. Namun, hasilnya sangat bergantung pada koordinasi, pendanaan, dan kepercayaan masyarakat.

Pendekatan One Health Menghubungkan Manusia, Hewan, dan Lingkungan

Konsep One Health menekankan bahwa kesehatan manusia terkait erat dengan kesehatan hewan dan lingkungan. Untuk penyakit zoonosis seperti pes, antraks, dan demam berdarah virus, pendekatan ini sangat relevan.

Contoh implementasi One Health
Program vaksinasi hewan ternak untuk mencegah antraks dan penyakit zoonosis lain.
Pengawasan penyakit pada satwa liar, terutama kelelawar dan tikus, untuk mendeteksi ancaman dini.
Kolaborasi antara dokter hewan, dokter manusia, ahli ekologi, dan pembuat kebijakan.

Di Afrika, beberapa negara mulai mengintegrasikan pendekatan ini dalam kebijakan nasional. Namun, tantangan kapasitas sumber daya manusia dan pendanaan masih besar.

Penguatan Sistem Kesehatan Primer

Salah satu pelajaran penting dari berbagai wabah di Afrika adalah pentingnya layanan kesehatan primer yang kuat. Puskesmas, klinik desa, dan pos kesehatan garis depan adalah benteng pertama untuk mendeteksi dan merespons penyakit.

Langkah kunci yang dibutuhkan
Pelatihan tenaga kesehatan di daerah terpencil untuk mengenali gejala penyakit berbahaya sedini mungkin.
Penyediaan alat diagnostik cepat dan terjangkau.
Sistem rujukan yang efektif dari fasilitas kecil ke rumah sakit yang lebih lengkap.

Tanpa sistem kesehatan primer yang berfungsi, wabah akan terdeteksi terlambat, ketika sudah menyebar luas dan jauh lebih sulit dikendalikan.

Edukasi Masyarakat dan Komunikasi Risiko

Komunikasi yang jujur, jelas, dan konsisten adalah kunci dalam mengendalikan wabah. Masyarakat perlu memahami apa itu penyakit, bagaimana penularannya, dan apa yang bisa mereka lakukan.

Strategi yang efektif
Menggunakan bahasa lokal dan media yang dipercaya masyarakat, seperti radio komunitas atau pertemuan desa.
Melibatkan tokoh lokal dalam menyampaikan pesan kesehatan.
Menghindari pemberitaan sensasional yang menimbulkan ketakutan tanpa solusi.

Istilah seperti “penyakit Alkitab” mungkin menarik perhatian, tetapi jika tidak dijelaskan dengan konteks ilmiah yang tepat, bisa menimbulkan fatalisme dan kepanikan yang tidak produktif.

Mengapa Dunia Perlu Peduli pada Wabah di Afrika

Sebagian orang mungkin berpikir bahwa penyakit alkitab bangkit di afrika adalah masalah lokal yang jauh dan tidak menyentuh kehidupan mereka. Pandangan ini berbahaya dan tidak sesuai dengan realitas dunia yang terhubung.

Mobilitas Global Membuat Wabah Tidak Mengenal Batas

Dalam era penerbangan internasional, seseorang dapat bepergian dari satu benua ke benua lain dalam hitungan jam. Wabah yang dimulai di desa terpencil bisa mencapai kota besar di negara maju jika tidak terdeteksi dan dikendalikan dengan cepat.

Contoh nyata
Kasus Ebola yang sempat terdeteksi di luar Afrika selama wabah besar di Afrika Barat.
Penyebaran mpox yang melampaui Afrika dan muncul di banyak negara lain.
Kasus penyakit langka yang dibawa oleh pelancong atau pekerja migran.

Oleh karena itu, investasi dalam pengendalian penyakit di Afrika bukanlah amal semata, tetapi juga bentuk perlindungan diri bagi negara negara lain.

Keadilan Kesehatan Global dan Tanggung Jawab Bersama

Banyak penyakit yang kini menghantui Afrika sebenarnya pernah menjadi masalah besar di Eropa, Asia, dan Amerika. Vaksin, antibiotik, dan infrastruktur kesehatan yang kuat membuat negara kaya relatif aman. Sementara itu, negara miskin sering tertinggal dalam akses terhadap teknologi kesehatan terbaru.

Keadilan kesehatan global menuntut
Distribusi vaksin dan obat yang lebih adil.
Dukungan finansial dan teknis untuk memperkuat sistem kesehatan di negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Pengakuan bahwa kesehatan adalah hak asasi manusia, bukan komoditas.

Jika dunia hanya bereaksi ketika penyakit menyeberang batas negara kaya, maka kita akan selalu terlambat. Pencegahan di sumbernya jauh lebih efektif dan manusiawi.

Menata Ulang Cara Kita Memandang Penyakit Kuno

Fenomena penyakit alkitab bangkit di afrika mengundang kita untuk menata ulang cara berpikir tentang penyakit menular. Alih alih melihatnya sebagai sesuatu yang “kuno” dan jauh, kita perlu menyadari bahwa garis pemisah antara masa lalu dan masa kini sangat tipis dalam hal kesehatan.

Penyakit yang dulu membunuh jutaan orang tetap mengintai di latar belakang, menunggu kombinasi yang tepat dari perubahan lingkungan, kelalaian sistem, dan kelemahan sosial untuk kembali muncul. Mengandalkan nostalgia bahwa kita hidup di “era modern” dan aman dari penyakit kuno adalah ilusi berbahaya.

Yang dibutuhkan bukan sekadar teknologi canggih, tetapi juga komitmen politik, solidaritas global, dan keberanian untuk mengakui bahwa kesehatan manusia, hewan, dan bumi adalah satu kesatuan yang tidak bisa dipisahkan.