Penyebab Ambeyen atau wasir, adalah kondisi ketika pembuluh darah di area anus dan rektum bagian bawah mengalami pembengkakan. Keluhan ini bisa terasa ringan, tetapi juga dapat sangat mengganggu jika muncul nyeri, gatal, benjolan, atau perdarahan saat buang air besar. Banyak orang baru menyadari ambeyen setelah muncul rasa tidak nyaman ketika duduk, padahal penyebabnya sering berasal dari kebiasaan sehari hari yang dilakukan berulang tanpa disadari.
Apa Itu Ambeyen?
Ambeyen adalah pembengkakan pembuluh darah di sekitar anus atau rektum bawah. Kondisi ini bisa terjadi di bagian dalam yang disebut ambeyen internal, atau di bagian luar sekitar anus yang disebut ambeyen eksternal.
Ambeyen internal biasanya tidak langsung terasa sakit, tetapi dapat menyebabkan darah merah segar saat buang air besar. Sementara ambeyen eksternal lebih sering menimbulkan nyeri, gatal, bengkak, dan benjolan di sekitar anus.
Keluhan ambeyen sering membuat orang malu membicarakannya. Padahal, kondisi ini cukup umum terjadi dan bisa dialami oleh siapa saja, baik pria maupun wanita. Mengetahui penyebabnya penting agar kebiasaan yang memicu tekanan di area anus dapat dikurangi.
Mengejan Terlalu Kuat Saat Buang Air Besar
Salah satu penyebab ambeyen yang paling sering terjadi adalah kebiasaan mengejan terlalu kuat. Saat seseorang mengejan, tekanan di pembuluh darah sekitar anus meningkat. Jika terjadi berulang, pembuluh darah tersebut bisa membengkak dan memicu ambeyen.
Mengejan biasanya terjadi ketika tinja keras atau sulit keluar. Banyak orang menganggap mengejan sebagai hal biasa, padahal kebiasaan ini dapat membebani area rektum dan anus.
Kebiasaan mengejan juga sering diperparah oleh posisi duduk yang terlalu lama di toilet. Semakin lama seseorang berada di toilet, semakin besar tekanan pada pembuluh darah di sekitar anus.
“Ambeyen sering datang bukan karena satu kejadian besar, tetapi karena kebiasaan kecil yang dianggap sepele. Duduk terlalu lama, kurang serat, kurang minum, dan menunda buang air besar bisa menjadi rangkaian masalah yang akhirnya terasa menyakitkan.”
Sembelit yang Berulang
Sembelit atau susah buang air besar menjadi pemicu utama ambeyen. Saat sembelit, tinja menjadi keras, kering, dan sulit dikeluarkan. Kondisi ini membuat seseorang harus mengejan lebih kuat.
Pola makan rendah serat, kurang minum air, jarang bergerak, dan sering menunda buang air besar dapat membuat sembelit semakin sering terjadi. Jika sembelit berlangsung lama, tekanan pada pembuluh darah anus akan terus berulang.
Sembelit juga dapat membuat kulit sekitar anus terluka karena gesekan tinja yang keras. Akibatnya, seseorang bisa mengalami rasa perih, nyeri, dan bahkan perdarahan saat buang air besar.
Diare yang Terlalu Sering
Tidak hanya sembelit, diare yang terjadi berulang juga bisa memicu ambeyen. Saat diare, seseorang lebih sering ke toilet. Frekuensi buang air besar yang tinggi dapat membuat area anus mengalami iritasi.
Diare juga membuat seseorang sering mengejan meski tinja sudah cair. Tekanan dan gesekan yang berulang dapat memperburuk pembengkakan pembuluh darah.
Jika diare berlangsung lama, area anus menjadi lebih sensitif. Rasa panas, perih, dan gatal bisa muncul, lalu memperparah keluhan ambeyen yang sudah ada.
Duduk Terlalu Lama di Toilet
Kebiasaan duduk lama di toilet menjadi penyebab ambeyen yang sering diremehkan. Banyak orang membawa ponsel ke kamar mandi lalu tanpa sadar duduk terlalu lama meski buang air besar sudah selesai.
Posisi duduk di toilet membuat area anus menerima tekanan lebih besar. Jika dilakukan setiap hari, tekanan ini dapat mengganggu aliran darah di pembuluh sekitar anus.
Sebaiknya waktu di toilet dibuat seperlunya. Jika buang air besar tidak keluar, lebih baik berdiri dulu dan mencoba lagi setelah tubuh memberi dorongan alami.
Pola Makan Rendah Serat
Serat membantu membuat tinja lebih lunak dan mudah dikeluarkan. Jika tubuh kekurangan serat, tinja cenderung menjadi keras dan sulit keluar. Kondisi ini membuat risiko sembelit meningkat.
Makanan rendah serat biasanya banyak ditemukan pada pola makan yang terlalu sering mengandalkan makanan cepat saji, makanan olahan, gorengan, dan kurang sayur serta buah.
Untuk membantu mencegah ambeyen, tubuh membutuhkan asupan serat dari sayuran hijau, buah, kacang kacangan, biji bijian, dan sumber karbohidrat tinggi serat. Perubahan pola makan sebaiknya dilakukan bertahap agar perut tidak mudah kembung.
Kurang Minum Air Putih
Kurang minum air putih dapat membuat tinja menjadi lebih keras. Serat membutuhkan cairan agar dapat bekerja dengan baik dalam membantu proses buang air besar.
Jika seseorang makan serat tetapi kurang minum, tinja tetap bisa terasa berat dikeluarkan. Karena itu, kebutuhan cairan tidak boleh diabaikan.
Air putih membantu menjaga pencernaan tetap lancar. Orang yang sering berkeringat, bekerja di luar ruangan, atau banyak minum kopi perlu lebih memperhatikan kecukupan cairan harian.
Jarang Bergerak dan Terlalu Lama Duduk
Gaya hidup kurang gerak dapat memicu ambeyen. Duduk terlalu lama membuat tekanan pada area panggul dan anus meningkat. Selain itu, kurang bergerak juga dapat memperlambat kerja usus.
Pekerja kantor, sopir, gamer, dan orang yang banyak menghabiskan waktu di depan layar termasuk kelompok yang perlu lebih waspada. Duduk berjam jam tanpa jeda dapat memperburuk keluhan di area anus.
Berjalan ringan, peregangan, atau berdiri beberapa menit setiap beberapa waktu dapat membantu mengurangi tekanan. Aktivitas fisik juga membantu pergerakan usus menjadi lebih baik.
Kehamilan
Kehamilan menjadi salah satu penyebab ambeyen pada wanita. Saat hamil, rahim yang membesar memberi tekanan pada pembuluh darah di area panggul. Tekanan ini dapat membuat aliran darah di sekitar anus lebih mudah terganggu.
Selain itu, perubahan hormon saat hamil dapat memperlambat kerja usus, sehingga sembelit lebih mudah terjadi. Kombinasi tekanan rahim dan sembelit membuat risiko ambeyen meningkat.
Ambeyen saat hamil biasanya sangat mengganggu karena ibu hamil juga harus menghadapi perubahan tubuh lain. Penanganannya perlu hati hati dan sebaiknya dibicarakan dengan tenaga kesehatan.
Melahirkan Normal
Proses melahirkan normal dapat memicu atau memperparah ambeyen. Saat mengejan dalam persalinan, tekanan pada area panggul dan anus meningkat sangat kuat.
Bagi sebagian wanita, ambeyen muncul setelah melahirkan. Pada wanita yang sebelumnya sudah memiliki ambeyen, keluhan bisa menjadi lebih terasa setelah persalinan.
Perawatan setelah melahirkan perlu memperhatikan pola buang air besar, asupan serat, cairan, dan kebersihan area anus agar keluhan tidak semakin berat.
Kelebihan Berat Badan
Kelebihan berat badan dapat meningkatkan tekanan pada area perut dan panggul. Tekanan ini dapat memengaruhi pembuluh darah di sekitar rektum dan anus.
Orang dengan berat badan berlebih juga lebih sering mengalami kurang gerak, sembelit, atau pola makan yang kurang seimbang. Kombinasi tersebut dapat meningkatkan risiko ambeyen.
Mengatur berat badan dengan pola makan sehat dan aktivitas fisik dapat membantu mengurangi tekanan pada pembuluh darah. Perubahan tidak harus ekstrem, tetapi dilakukan konsisten.
Mengangkat Beban Terlalu Berat
Mengangkat beban berat dapat meningkatkan tekanan di dalam perut. Tekanan ini bisa turun ke area panggul dan anus, lalu memberi beban pada pembuluh darah.
Risiko lebih besar terjadi jika seseorang mengangkat beban dengan teknik yang salah atau menahan napas terlalu kuat saat mengangkat. Kebiasaan ini bisa terjadi pada pekerja fisik, atlet angkat beban, atau orang yang sering mengangkat barang berat.
Menggunakan teknik angkat yang benar, tidak memaksakan beban, dan mengatur napas dapat membantu mengurangi risiko tekanan berlebih.
Faktor Usia
Seiring bertambahnya usia, jaringan penopang pembuluh darah di sekitar anus dapat melemah. Kondisi ini membuat pembuluh darah lebih mudah membengkak atau turun.
Orang dewasa paruh baya dan lanjut usia lebih rentan mengalami ambeyen, terutama jika disertai sembelit, kurang aktivitas, atau kebiasaan duduk lama.
Meski begitu, ambeyen tidak hanya terjadi pada orang tua. Anak muda juga bisa mengalaminya jika memiliki pola hidup yang memicu tekanan berulang pada area anus.
Faktor Keturunan
Sebagian orang lebih mudah mengalami ambeyen karena faktor keturunan atau kondisi jaringan tubuh yang lebih lemah. Jika ada anggota keluarga yang sering mengalami ambeyen, risiko seseorang bisa lebih tinggi.
Namun, faktor keturunan bukan berarti ambeyen pasti terjadi. Kebiasaan hidup tetap memegang peran besar. Pola makan, aktivitas, kebiasaan buang air besar, dan berat badan dapat menentukan apakah keluhan muncul atau tidak.
Kurang Menjaga Kebiasaan Buang Air Besar
Menunda buang air besar dapat membuat tinja tertahan lebih lama di usus besar. Semakin lama tertahan, semakin banyak cairan yang diserap kembali oleh tubuh. Akibatnya, tinja menjadi keras.
Jika kebiasaan menunda ini terus terjadi, sembelit lebih mudah muncul. Ketika akhirnya buang air besar, seseorang harus mengejan lebih kuat.
Membiasakan buang air besar saat tubuh memberi sinyal adalah langkah penting. Jangan terlalu sering menahan karena alasan sibuk, malu, atau tidak nyaman menggunakan toilet umum.
Konsumsi Makanan Pedas dan Iritasi Anus
Makanan pedas tidak selalu menjadi penyebab utama ambeyen, tetapi bisa memperparah keluhan pada sebagian orang. Rasa panas saat buang air besar dapat membuat area anus lebih perih dan iritasi.
Jika seseorang sudah memiliki ambeyen, makanan pedas berlebihan bisa membuat rasa tidak nyaman semakin terasa. Begitu pula makanan yang memicu diare pada orang tertentu.
Setiap orang memiliki toleransi berbeda. Jika keluhan ambeyen sering muncul setelah makan makanan tertentu, sebaiknya konsumsi makanan itu dibatasi.
Kebiasaan Membersihkan Area Anus Terlalu Kasar
Membersihkan area anus terlalu kasar juga bisa memperburuk keluhan ambeyen. Gesekan berlebihan dapat membuat kulit sekitar anus iritasi, gatal, dan perih.
Gunakan cara membersihkan yang lembut. Jika memakai tisu, pilih yang tidak kasar. Jika menggunakan air, keringkan area dengan lembut agar tidak lembap terlalu lama.
Kebersihan penting, tetapi cara membersihkan juga harus diperhatikan agar tidak menambah iritasi.
Gejala yang Perlu Diwaspadai
Ambeyen dapat menimbulkan beberapa gejala, seperti gatal di area anus, nyeri saat duduk, benjolan di sekitar anus, rasa tidak tuntas setelah buang air besar, dan darah merah segar pada tinja atau tisu.
Perdarahan dari anus tidak boleh selalu dianggap sebagai ambeyen. Ada kondisi lain yang juga bisa menyebabkan darah saat buang air besar. Jika perdarahan sering terjadi, jumlahnya banyak, atau disertai penurunan berat badan, nyeri hebat, lemas, atau perubahan pola buang air besar, pemeriksaan medis perlu dilakukan.
Rasa nyeri sangat kuat di sekitar anus juga perlu diperhatikan, terutama jika ada benjolan keras dan bengkak. Kondisi ini bisa mengarah pada ambeyen luar yang mengalami pembekuan darah.
Cara Mengurangi Risiko Ambeyen
Mengurangi risiko ambeyen dapat dimulai dari kebiasaan harian. Perbanyak serat, cukup minum air, jangan menunda buang air besar, dan hindari duduk terlalu lama di toilet.
Aktivitas fisik ringan seperti jalan kaki juga membantu kerja usus. Bagi pekerja yang duduk lama, buat jeda untuk berdiri atau bergerak beberapa menit.
Saat buang air besar, hindari mengejan terlalu kuat. Biarkan tubuh bekerja secara alami. Jika sering sembelit, perbaiki pola makan dan pertimbangkan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan.
Kapan Harus Periksa ke Dokter?
Ambeyen ringan sering membaik dengan perubahan gaya hidup dan perawatan sederhana. Namun, ada kondisi yang membutuhkan pemeriksaan dokter.
Periksa jika perdarahan terjadi berulang, nyeri sangat kuat, benjolan tidak membaik, keluar cairan atau nanah, demam, atau keluhan mengganggu aktivitas harian. Pemeriksaan juga penting jika seseorang baru pertama kali mengalami darah saat buang air besar.
Dokter dapat memastikan apakah keluhan benar berasal dari ambeyen atau kondisi lain. Dengan pemeriksaan yang tepat, penanganan bisa lebih aman dan sesuai kebutuhan.






