Kanker dan jantung Anda sering dipikirkan sebagai dua masalah kesehatan yang terpisah. Kanker dianggap urusan sel ganas dan tumor, sementara penyakit jantung identik dengan kolesterol dan serangan jantung. Padahal, bukti ilmiah beberapa tahun terakhir menunjukkan hubungan yang jauh lebih erat dan kompleks antara keduanya. Cara Anda mencegah, mengobati, bahkan bertahan dari kanker dapat memengaruhi kesehatan jantung, dan sebaliknya, kondisi jantung dapat menentukan keberhasilan terapi kanker.
“Selama kita terus memisahkan kanker dan jantung seolah dua dunia berbeda, kita berisiko mengobati satu penyakit sambil diam diam merusak yang lain.”
Di balik data statistik, ada realitas yang sering terlewat: banyak penyintas kanker yang kemudian meninggal bukan karena kekambuhan kankernya, tetapi karena penyakit jantung yang berkembang selama atau setelah terapi. Di sisi lain, orang dengan penyakit jantung kronis memiliki risiko lebih tinggi mengalami beberapa jenis kanker. Tiga fakta penting berikut ini menggambarkan mengapa hubungan ini tidak boleh lagi diabaikan.
Fakta 1: Kanker dan jantung Anda saling memengaruhi sejak tahap risiko, bukan hanya saat sakit
Banyak orang baru menghubungkan kanker dan jantung Anda ketika sudah ada diagnosis resmi di salah satu sisi. Padahal, keterkaitan itu sudah dimulai jauh sebelum gejala muncul, pada tahap faktor risiko yang bekerja perlahan dalam tubuh selama bertahun tahun.
Gaya hidup yang sama, dua penyakit berbeda: kanker dan jantung Anda di jalur yang serupa
Perilaku harian yang tampak sepele sering kali menjadi benang merah antara kanker dan jantung Anda. Pola makan tinggi gula sederhana, lemak jenuh, dan makanan ultra proses dapat memicu peradangan kronis tingkat rendah di seluruh tubuh. Peradangan ini bukan hanya merusak pembuluh darah dan mempercepat aterosklerosis, tetapi juga menciptakan lingkungan yang mendukung pertumbuhan sel sel abnormal.
Merokok adalah contoh paling jelas. Zat toksik dalam rokok merusak lapisan pembuluh darah sehingga meningkatkan risiko penyakit jantung koroner, stroke, dan gagal jantung. Di saat yang sama, karsinogen dalam asap rokok memicu mutasi DNA yang meningkatkan risiko kanker paru, kanker mulut, tenggorokan, pankreas, kandung kemih, dan beberapa jenis kanker lainnya. Satu kebiasaan, dua jalur penyakit yang sama sama mematikan.
Kurang aktivitas fisik dan obesitas juga memainkan peran ganda. Lemak berlebih, terutama di area perut, bukan hanya “penyimpanan energi”, tetapi jaringan aktif yang melepaskan berbagai zat kimia proinflamasi. Kondisi ini meningkatkan tekanan darah, mengganggu metabolisme gula, dan memengaruhi hormon seperti estrogen dan insulin yang terkait dengan beberapa jenis kanker, misalnya kanker payudara pascamenopause dan kanker usus besar.
Konsumsi alkohol berlebihan menambah beban. Alkohol dapat menyebabkan kardiomiopati, aritmia, dan hipertensi, sekaligus meningkatkan risiko kanker hati, rongga mulut, kerongkongan, dan payudara. Ketika satu faktor risiko menyasar banyak organ sekaligus, jelas bahwa pendekatan pencegahan tidak bisa hanya fokus pada satu penyakit saja.
Peradangan kronis sebagai jembatan diam diam antara kanker dan jantung Anda
Peradangan kronis tingkat rendah adalah mekanisme biologis yang menjadi penghubung penting antara kanker dan jantung Anda. Pada penyakit jantung, peradangan ini berperan dalam pembentukan dan destabilisasi plak di pembuluh darah. Plak yang meradang lebih mudah pecah dan menyebabkan serangan jantung atau stroke.
Dalam konteks kanker, peradangan kronis menciptakan lingkungan mikro yang memudahkan sel sel yang rusak untuk bertahan, berkembang, dan menghindari sistem kekebalan. Sitokin proinflamasi, radikal bebas, dan stres oksidatif berperan dalam merusak DNA dan mendukung proliferasi sel abnormal.
Kondisi seperti obesitas, diabetes tipe 2, dan sindrom metabolik memperburuk peradangan sistemik ini. Akibatnya, seseorang dengan profil metabolik buruk tidak hanya lebih rentan terhadap penyakit kardiovaskular, tetapi juga beberapa jenis kanker. Ketika dokter hanya fokus menurunkan kolesterol tanpa memperhatikan pola makan keseluruhan, berat badan, dan kontrol gula darah, peluang untuk menurunkan risiko kanker ikut terlewat.
Penyakit jantung bawaan dan faktor genetik yang berkaitan dengan kanker dan jantung Anda
Bukan hanya gaya hidup yang menghubungkan kanker dan jantung Anda, faktor genetik tertentu juga dapat meningkatkan risiko keduanya. Beberapa sindrom genetik langka diketahui menyebabkan kelainan jantung sekaligus meningkatkan risiko tumor tertentu. Selain itu, variasi genetik yang memengaruhi metabolisme lemak, tekanan darah, dan respons peradangan juga dapat berkaitan dengan kerentanan terhadap kanker.
Orang dengan riwayat keluarga kuat penyakit jantung di usia muda dan beberapa anggota keluarga dengan kanker tertentu seharusnya mendapatkan perhatian khusus. Di sinilah pentingnya konseling genetik dan pemantauan kesehatan yang lebih terarah, bukan hanya check up rutin yang sifatnya umum.
“Jika riwayat keluarga Anda menunjukkan pola penyakit jantung dan kanker yang muncul berulang, anggap itu sebagai peta peringatan dini, bukan sekadar kebetulan.”
Fakta 2: Terapi kanker bisa merusak jantung Anda tanpa gejala awal yang jelas
Bagi banyak pasien, fokus utama saat didiagnosis kanker adalah bagaimana menghentikan pertumbuhan sel ganas secepat dan seefektif mungkin. Namun, terapi yang agresif ini tidak jarang memiliki efek samping serius pada jantung. Kanker dan jantung Anda dalam konteks pengobatan modern harus dilihat sebagai satu paket, karena keberhasilan terapi kanker bisa dibayangi risiko kerusakan jantung dalam jangka pendek maupun panjang.
Obat kemoterapi tertentu dan risiko cedera jantung yang sering diremehkan
Beberapa obat kemoterapi dikenal bersifat kardiotoksik, artinya dapat merusak struktur dan fungsi jantung. Golongan antrasiklin, seperti doxorubicin, adalah contoh klasik. Obat ini sangat efektif terhadap berbagai jenis kanker, termasuk kanker payudara, limfoma, dan leukemia, tetapi dapat menyebabkan penurunan fungsi pompa jantung yang berujung pada gagal jantung.
Risiko kerusakan jantung meningkat seiring dengan dosis kumulatif obat. Namun, yang sering tidak disadari pasien adalah bahwa gejala gagal jantung bisa muncul bertahun tahun setelah terapi selesai. Pada awalnya, kerusakan bisa bersifat subklinis, hanya terlihat pada pemeriksaan ekokardiografi atau penanda biomarker jantung, tanpa keluhan berarti.
Selain antrasiklin, beberapa obat target therapy dan imunoterapi modern juga memiliki profil risiko terhadap jantung. Misalnya, obat yang menghambat jalur tertentu di sel kanker kadang juga memengaruhi jalur yang sama di sel otot jantung atau pembuluh darah, memicu hipertensi berat, gangguan irama jantung, atau penurunan fungsi jantung.
Hal yang perlu digarisbawahi, tidak semua dokter onkologi dan pasien secara rutin melibatkan penilaian kardiovaskular yang komprehensif sebelum, selama, dan setelah terapi. Padahal, pemantauan teratur dapat mendeteksi perubahan kecil pada fungsi jantung yang bisa ditangani lebih dini, sehingga terapi kanker tetap dapat dilanjutkan dengan penyesuaian yang aman.
Radioterapi area dada dan konsekuensi jangka panjang bagi kanker dan jantung Anda
Radioterapi yang diarahkan ke area dada, misalnya pada kanker payudara kiri, limfoma mediastinum, atau kanker paru, dapat mengenai jantung dan pembuluh darah koroner. Efeknya sering kali tidak langsung terasa. Kerusakan kecil pada lapisan pembuluh darah dapat berkembang perlahan menjadi penyempitan pembuluh koroner, gangguan katup, atau penebalan perikardium bertahun tahun setelah terapi selesai.
Orang yang menerima radioterapi dada pada usia muda, misalnya pasien limfoma Hodgkin, memiliki risiko lebih tinggi mengalami penyakit jantung koroner di usia 40 atau 50 tahun, jauh lebih cepat dibanding populasi umum. Banyak dari mereka yang tidak menyadari bahwa riwayat radioterapi di masa lalu adalah faktor risiko utama, sehingga keluhan nyeri dada atau mudah lelah sering dianggap “wajar” atau sekadar kelelahan.
Dalam konteks ini, kanker dan jantung Anda menjadi cerita jangka panjang. Keberhasilan terapi onkologi harus diimbangi dengan rencana pemantauan kardiovaskular yang berlangsung puluhan tahun, terutama bagi pasien muda yang diharapkan hidup lama setelah bebas kanker. Tanpa rencana tersebut, kita berisiko menciptakan generasi penyintas kanker yang kemudian menghadapi serangan jantung dini atau gagal jantung.
Sindrom kardiovaskular akut selama terapi kanker dan tantangan klinis
Selain efek jangka panjang, ada juga kejadian kardiovaskular akut yang dapat muncul selama terapi kanker. Beberapa pasien mengalami peningkatan tekanan darah yang cukup signifikan setelah memulai obat target therapy tertentu. Jika tidak dikontrol, hipertensi berat dapat memicu stroke atau kerusakan ginjal.
Gangguan irama jantung, seperti fibrilasi atrium, juga bisa muncul akibat kombinasi stres fisik, obat, dan kondisi metabolik yang berubah selama terapi. Pada pasien dengan penyakit jantung laten yang sebelumnya tidak terdiagnosis, beban tambahan dari kemoterapi dan anemia dapat memicu dekompensasi jantung, menyebabkan sesak napas, bengkak kaki, dan penurunan kapasitas aktivitas.
Tantangan klinis yang muncul adalah bagaimana menyeimbangkan kebutuhan untuk melanjutkan terapi kanker yang potensial menyelamatkan nyawa dengan kebutuhan untuk melindungi jantung. Di sinilah pentingnya kolaborasi erat antara onkolog dan kardiolog, serta berkembangnya subspesialisasi yang dikenal sebagai kardiologi onkologi atau cardio oncology.
Pendekatan ini menekankan bahwa keputusan terapi tidak boleh hanya mempertimbangkan agresivitas kanker, tetapi juga cadangan fungsi jantung, faktor risiko kardiovaskular, dan preferensi pasien. Obat pelindung jantung seperti beta blocker atau ACE inhibitor kadang diberikan secara profilaksis pada pasien berisiko tinggi, tetapi langkah ini perlu disesuaikan dengan kondisi masing masing.
Fakta 3: Menjaga kanker dan jantung Anda membutuhkan strategi terpadu, bukan sekadar “hidup sehat”
Saran “hidup sehat” sering terdengar klise, terutama ketika disampaikan tanpa penjelasan yang konkret dan relevan. Untuk benar benar melindungi kanker dan jantung Anda, dibutuhkan strategi terpadu yang memperhitungkan risiko pribadi, riwayat keluarga, terapi yang pernah dijalani, dan kondisi medis yang menyertai. Pendekatan generik tidak lagi memadai.
Skrining dan pemantauan ganda: melihat kanker dan jantung Anda dalam satu bingkai
Selama ini, skrining kanker dan skrining penyakit jantung cenderung berjalan terpisah. Orang melakukan mammografi atau Pap smear di satu kesempatan, lalu cek kolesterol dan EKG di kesempatan lain, sering kali tanpa integrasi informasi. Padahal, memadukan kedua aspek ini dapat memberikan gambaran risiko yang jauh lebih tajam.
Misalnya, wanita dengan kanker payudara yang akan menjalani kemoterapi antrasiklin sebaiknya menjalani evaluasi jantung lengkap sebelum terapi, termasuk ekokardiografi untuk menilai fungsi pompa jantung. Setelah terapi selesai, pemeriksaan berkala perlu dijadwalkan, bukan hanya melihat apakah kankernya kambuh, tetapi juga memantau apakah ada penurunan fungsi jantung.
Demikian pula, pasien dengan penyakit jantung koroner yang stabil dan faktor risiko kuat seperti merokok, diabetes, dan obesitas sebaiknya mendapatkan edukasi tentang peningkatan risiko beberapa jenis kanker. Dokter penyakit dalam atau kardiolog dapat secara proaktif mendorong skrining kanker yang sesuai usia, seperti kolonoskopi, pemeriksaan prostat, atau tes lainnya, sehingga deteksi dini tidak terlambat.
Integrasi ini juga menyangkut pencatatan medis. Riwayat radioterapi dada, jenis kemoterapi yang digunakan, dan dosis kumulatif seharusnya tercatat jelas dan mudah diakses oleh dokter jantung yang mungkin baru bertemu pasien bertahun tahun kemudian. Tanpa informasi tersebut, dokter bisa saja menganggap pasien hanya “tipikal” penderita penyakit jantung, padahal latar belakang onkologinya mengubah cara penanganan.
Gaya hidup presisi: menyesuaikan pola hidup untuk kanker dan jantung Anda secara bersamaan
Istilah gaya hidup sehat terlalu luas jika tidak dipecah menjadi langkah yang spesifik dan realistis. Dalam konteks kanker dan jantung Anda, beberapa pilar utama perlu ditekankan dengan cara yang lebih terarah.
Pertama, pola makan. Pendekatan yang banyak didukung bukti adalah pola makan berbasis makanan utuh, kaya sayur, buah, biji bijian utuh, kacang kacangan, dan sumber protein sehat seperti ikan dan tahu tempe. Mengurangi daging merah olahan, gula tambahan, dan makanan ultra proses tidak hanya menurunkan risiko penyakit jantung, tetapi juga dikaitkan dengan penurunan risiko beberapa kanker, terutama kanker kolorektal.
Kedua, aktivitas fisik. Rekomendasi umum adalah aktivitas aerobik intensitas sedang minimal 150 menit per minggu atau intensitas tinggi 75 menit per minggu, ditambah latihan kekuatan dua kali seminggu. Pada penyintas kanker, program ini perlu disesuaikan dengan kondisi fisik pasca terapi, tetapi prinsipnya tetap sama: gerak teratur membantu mengontrol berat badan, meningkatkan sensitivitas insulin, menurunkan tekanan darah, dan memodulasi hormon yang berkaitan dengan kanker.
Ketiga, manajemen stres dan tidur. Stres kronis dan kurang tidur memengaruhi sistem kekebalan, hormon, dan perilaku makan. Walau tidak bisa dikatakan sebagai penyebab langsung kanker atau penyakit jantung, keduanya memperburuk faktor risiko lain. Pendekatan seperti terapi perilaku kognitif, meditasi, dan rutinitas tidur yang teratur dapat menjadi bagian penting dari strategi perlindungan jangka panjang.
Keempat, penghentian merokok dan pengendalian alkohol. Program berhenti merokok yang terstruktur, termasuk konseling dan obat bantu jika perlu, terbukti menurunkan risiko serangan jantung dan beberapa jenis kanker secara signifikan. Untuk alkohol, batas konsumsi yang sangat moderat atau bahkan menghindari sama sekali adalah pilihan terbaik bagi mereka yang sudah memiliki risiko tinggi kardiovaskular atau riwayat kanker.
Kolaborasi lintas spesialis: kanker dan jantung Anda bukan urusan satu dokter saja
Salah satu hambatan terbesar dalam mengelola kanker dan jantung Anda secara terpadu adalah fragmentasi layanan kesehatan. Pasien sering kali “berpindah” dari satu spesialis ke spesialis lain tanpa koordinasi yang kuat. Onkolog fokus pada tumor, kardiolog fokus pada jantung, dokter umum fokus pada keluhan harian, dan informasi tidak selalu mengalir mulus di antara mereka.
Model ideal yang mulai berkembang di berbagai pusat kesehatan besar adalah klinik cardio oncology, di mana pasien kanker dengan risiko tinggi penyakit jantung dipantau bersama oleh tim gabungan. Di luar pusat besar, pendekatan serupa bisa diadaptasi melalui komunikasi aktif antar dokter, penggunaan catatan medis elektronik yang terintegrasi, dan edukasi pasien agar berani menyampaikan riwayat lengkapnya di setiap konsultasi.
Pasien juga memegang peran sentral. Menyimpan ringkasan terapi kanker yang pernah dijalani, termasuk nama obat, dosis, dan jenis radioterapi, lalu membawanya ke setiap pertemuan dengan dokter jantung atau dokter umum, dapat mengubah cara dokter memandang keluhan yang muncul. Nyeri dada pada penyintas limfoma yang pernah menjalani radioterapi dada, misalnya, harus dinilai dengan kecurigaan lebih tinggi terhadap penyakit jantung koroner dini.
Pada akhirnya, yang dibutuhkan adalah perubahan cara pandang. Kanker dan jantung Anda bukan dua bab terpisah dalam buku kesehatan, tetapi dua alur cerita yang saling tumpang tindih. Mengabaikan salah satunya sama saja dengan membiarkan celah besar dalam upaya menjaga kualitas dan harapan hidup jangka panjang. Integrasi pengetahuan, pemantauan, dan gaya hidup yang konsisten adalah kunci agar keberhasilan melawan kanker tidak dibayar dengan harga mahal berupa kerusakan jantung yang terlambat disadari.




