Anak dengan sleep apnea pada anak lebih rentan flu dan COVID-19

Sleep apnea pada anak bukan hanya soal ngorok keras di malam hari. Gangguan napas saat tidur ini ternyata berkaitan dengan meningkatnya risiko infeksi saluran napas, termasuk flu dan COVID-19. Dalam beberapa tahun terakhir, berbagai studi menunjukkan bahwa anak dengan sleep apnea pada anak lebih sering mengalami infeksi berulang, pemulihan lebih lambat, dan gejala yang cenderung lebih berat dibandingkan anak tanpa gangguan tidur ini.

Mengapa sleep apnea pada anak perlu diwaspadai sejak dini

Banyak orang tua mengira sleep apnea hanya masalah orang dewasa dengan obesitas atau gangguan metabolik. Padahal, sleep apnea pada anak cukup sering terjadi dan sering kali tidak terdeteksi. Anak yang mengalami henti napas berulang saat tidur akan mengalami penurunan kadar oksigen, peningkatan kerja jantung, dan gangguan struktur tidur yang seharusnya menjadi waktu pemulihan tubuh.

Di tengah era pasca pandemi, ketika flu musiman dan COVID-19 masih terus beredar, anak dengan kondisi medis tertentu menjadi kelompok yang perlu perhatian khusus. Sleep apnea pada anak termasuk salah satu kondisi yang bisa melemahkan pertahanan tubuh, sehingga infeksi virus lebih mudah berkembang dan lebih sulit diatasi.

“Banyak anak yang dicap pemalas, sulit konsentrasi, atau gampang sakit, padahal akar masalahnya adalah tidur yang terganggu secara kronis.”

Memahami hubungan antara sleep apnea pada anak dan kerentanan terhadap flu maupun COVID-19 menjadi penting, bukan hanya untuk mengurangi angka infeksi, tetapi juga untuk melindungi kualitas tumbuh kembang anak secara menyeluruh.

Apa itu sleep apnea pada anak dan bagaimana cara mengenalinya

Sleep apnea pada anak adalah gangguan tidur yang ditandai dengan henti napas berulang atau aliran napas yang sangat berkurang selama tidur. Henti napas ini bisa berlangsung beberapa detik hingga belasan detik dan dapat terjadi puluhan kali dalam semalam.

Pada anak, jenis yang paling sering adalah obstructive sleep apnea, yaitu ketika jalan napas bagian atas menyempit atau tertutup sementara saat tidur. Berbeda dengan orang dewasa, gejala sleep apnea pada anak sering kali tidak jelas dan mudah disalahartikan sebagai masalah perilaku atau kelelahan biasa.

Gejala khas sleep apnea pada anak yang sering terlewat

Gejala sleep apnea pada anak bisa muncul saat tidur maupun saat bangun. Orang tua perlu memperhatikan pola ini secara konsisten, bukan hanya satu malam.

Beberapa tanda yang sering ditemukan antara lain:

Ngorok keras hampir setiap malam, bukan hanya ketika flu
Henti napas yang tampak seperti anak “tahan napas” lalu terengah
Tidur gelisah, sering berubah posisi, atau tidur dengan posisi leher menengadah
Berkeringat berlebihan saat tidur
Napasan tampak berat, berbunyi, atau ada tarikan dada yang dalam
Sering terbangun, mimpi buruk, atau tampak ketakutan di malam hari

Saat bangun, gejala sleep apnea pada anak bisa berupa:

Mengantuk di siang hari, mudah tertidur di kendaraan atau di kelas
Sulit berkonsentrasi, prestasi belajar menurun
Perilaku hiperaktif, mudah marah, atau tampak “tidak bisa diam”
Sakit kepala di pagi hari
Mulut sering terbuka, bernapas lewat mulut, dan suara sengau

Tidak semua anak akan menunjukkan semua gejala, tetapi pola berulang selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan perlu dicurigai sebagai sleep apnea pada anak dan sebaiknya dikonsultasikan ke dokter.

Penyebab utama sleep apnea pada anak yang sering diabaikan

Penyebab sleep apnea pada anak cukup beragam, namun ada beberapa faktor utama yang paling sering ditemui di praktik klinis.

Beberapa di antaranya:

Pembesaran amandel dan adenoid
Jaringan amandel dan adenoid yang terlalu besar dapat menyempitkan jalan napas di belakang hidung dan tenggorokan. Ini adalah penyebab paling umum pada anak usia prasekolah dan sekolah dasar.

Obesitas
Penumpukan lemak di leher dan sekitar saluran napas meningkatkan risiko penyempitan saat otot mengendur di malam hari. Obesitas juga sering berkaitan dengan inflamasi kronis tingkat rendah yang memperburuk kualitas tidur.

Kelainan bentuk rahang atau wajah
Rahang kecil, langit langit mulut sempit, atau struktur wajah tertentu dapat mempersempit ruang napas bagian atas dan memicu sleep apnea pada anak.

Alergi dan hidung tersumbat kronis
Rinitis alergi yang tidak tertangani membuat anak terus menerus bernapas lewat mulut. Dalam jangka panjang, ini dapat mengubah pola tumbuh kembang rahang dan meningkatkan risiko gangguan napas saat tidur.

Kelainan neurologis dan kondisi medis tertentu
Beberapa gangguan saraf, kelainan genetik, atau penyakit kronis juga dapat memengaruhi kontrol napas dan otot saluran napas.

Mengetahui penyebab membantu dokter menentukan terapi yang paling tepat, apakah berupa operasi amandel, penurunan berat badan, penggunaan alat bantu napas, atau kombinasi beberapa pendekatan.

Kaitan sleep apnea pada anak dengan daya tahan tubuh

Hubungan antara tidur dan sistem imun sudah lama dikenal, namun sleep apnea pada anak memberikan tantangan tambahan: bukan hanya durasi tidur yang terganggu, tetapi juga kualitas dan stabilitas oksigen selama tidur.

Saat anak sering terbangun mikro tanpa disadari dan kadar oksigen naik turun sepanjang malam, tubuh berada dalam keadaan stres fisiologis yang konstan. Kondisi ini mengganggu berbagai mekanisme pertahanan tubuh yang seharusnya bekerja optimal di malam hari.

Bagaimana sleep apnea pada anak mengganggu sistem imun

Ada beberapa cara sleep apnea pada anak melemahkan sistem kekebalan:

Inflamasi kronis tingkat rendah
Henti napas berulang memicu aktivasi sistem stres dan peradangan. Kadar sitokin proinflamasi meningkat, yang dalam jangka panjang justru melemahkan respons imun yang terkoordinasi dengan baik.

Gangguan regenerasi sel imun
Tidur yang terfragmentasi mengganggu proses pembentukan dan pematangan sel sel imun tertentu, termasuk limfosit yang berperan penting melawan virus.

Peningkatan hormon stres
Kadar kortisol yang tinggi secara kronis, akibat stres fisiologis dari sleep apnea, dapat menekan fungsi imun dan membuat tubuh lebih rentan terhadap infeksi.

Perubahan mikrobiota saluran napas
Bernapas lewat mulut, mulut kering, dan kualitas tidur yang buruk dapat mengubah keseimbangan mikroorganisme di saluran napas, sehingga barier alami terhadap patogen menjadi lebih lemah.

Dalam konteks infeksi virus pernapasan seperti flu dan COVID-19, kombinasi faktor ini membuat anak dengan sleep apnea pada anak lebih mudah tertular, lebih sering mengalami gejala berat, dan lebih lama sembuh.

“Ketika tidur anak rusak setiap malam, sebenarnya kita sedang mengganggu ‘jam kerja malam’ sistem imun yang bertugas melindungi tubuh dari virus dan bakteri.”

Sleep apnea pada anak dan kerentanan terhadap virus

Virus influenza dan SARS CoV 2 (penyebab COVID 19) masuk ke tubuh melalui saluran napas. Pertahanan awal bergantung pada integritas mukosa, sel sel imun lokal, dan refleks batuk yang baik. Sleep apnea pada anak mengganggu beberapa lapisan pertahanan ini sekaligus.

Mulut yang sering terbuka dan napas lewat mulut membuat udara masuk tanpa disaring optimal oleh hidung
Kualitas mukosa yang kering dan iritasi kronis memudahkan virus menempel dan masuk ke sel
Kelelahan kronis dan gangguan imun sistemik menurunkan kemampuan tubuh membatasi replikasi virus di tahap awal

Akibatnya, ketika terpapar virus, anak dengan sleep apnea pada anak lebih mungkin mengalami infeksi yang nyata, bukan sekadar paparan yang berhasil ditahan sistem imun.

Mengapa anak dengan sleep apnea pada anak lebih sering flu

Flu musiman masih menjadi salah satu penyebab utama ketidakhadiran anak di sekolah dan kunjungan ke fasilitas kesehatan. Pada anak dengan sleep apnea pada anak, flu bukan hanya lebih sering, tetapi juga cenderung lebih mengganggu aktivitas harian.

Faktor mekanik dan kebiasaan napas yang mempermudah flu

Salah satu aspek yang sering diabaikan adalah cara anak bernapas sehari hari. Sleep apnea pada anak sering disertai kebiasaan bernapas lewat mulut, bahkan saat terjaga. Kebiasaan ini memberikan beberapa konsekuensi:

Udara tidak sepenuhnya difilter oleh rambut halus dan mukosa hidung
Kelembapan dan suhu udara tidak diatur optimal sebelum masuk ke saluran napas bawah
Partikel virus dan bakteri lebih mudah mencapai tenggorokan dan bronkus

Selain itu, anak dengan sleep apnea pada anak sering mengalami tenggorokan kering, batuk kronis ringan, atau iritasi saluran napas. Kondisi ini membuat lapisan pelindung di permukaan mukosa lebih mudah rusak, sehingga virus influenza lebih mudah menginfeksi.

Sleep apnea pada anak dan perjalanan flu yang lebih berat

Ketika anak dengan sleep apnea pada anak terkena flu, perjalanan penyakitnya cenderung lebih berat karena beberapa alasan:

Demam dan gejala sistemik lebih mengganggu tidur
Hidung tersumbat memperburuk gangguan napas saat tidur yang sudah ada
Kadar oksigen bisa turun lebih rendah saat tidur, terutama ketika anak demam dan napas lebih cepat
Risiko komplikasi seperti otitis media, sinusitis, atau infeksi saluran napas bawah meningkat

Beberapa laporan klinis menunjukkan bahwa anak dengan gangguan napas saat tidur lebih sering membutuhkan kunjungan ulang ke dokter selama satu episode flu, baik karena gejala berkepanjangan maupun munculnya komplikasi.

Bagi orang tua, ini berarti perlu kewaspadaan lebih tinggi ketika anak dengan sleep apnea pada anak mulai menunjukkan gejala flu, serta perhatian ekstra terhadap kualitas tidur mereka selama sakit.

Sleep apnea pada anak di era COVID 19

Pandemi COVID 19 membuka mata dunia tentang pentingnya faktor komorbid, termasuk gangguan tidur, dalam menentukan berat ringan suatu infeksi. Pada orang dewasa, hubungan antara obstructive sleep apnea dan keparahan COVID 19 sudah cukup banyak diteliti. Pada anak, data masih berkembang, namun pola yang serupa mulai terlihat.

Sleep apnea pada anak berpotensi menjadi salah satu faktor yang membuat sebagian anak mengalami gejala COVID 19 yang lebih berat, terutama bila disertai obesitas atau penyakit lain.

Apa yang diketahui riset tentang sleep apnea pada anak dan COVID 19

Beberapa poin yang mulai muncul dari literatur dan laporan klinis:

Anak dengan obesitas dan gangguan napas saat tidur lebih sering memerlukan perawatan di rumah sakit ketika terinfeksi SARS CoV 2
Gangguan oksigenasi kronis yang sudah ada sebelumnya dapat memperburuk kondisi ketika virus menyerang paru paru
Inflamasi kronis yang menyertai sleep apnea pada anak dapat berinteraksi dengan badai sitokin yang dikenal pada kasus COVID 19 berat

Meskipun sebagian besar anak dengan COVID 19 mengalami gejala ringan, kelompok dengan faktor risiko seperti sleep apnea pada anak perlu pengawasan lebih ketat, terutama bila ada tanda kesulitan napas, lemas berat, atau demam tinggi berkepanjangan.

Mengapa COVID 19 bisa lebih berisiko pada anak dengan sleep apnea pada anak

SARS CoV 2 menyerang sel sel di saluran napas dan paru paru, memengaruhi pertukaran oksigen. Pada anak dengan sleep apnea pada anak, kapasitas cadangan untuk menghadapi penurunan oksigen biasanya sudah lebih terbatas karena:

Jaringan paru dan jantung telah beradaptasi terhadap stres oksigen kronis
Respons tubuh terhadap hipoksia (kekurangan oksigen) bisa tidak seefisien anak sehat
Kebiasaan tidur yang sudah terganggu membuat tubuh sulit memulihkan diri selama fase infeksi

Ketika infeksi COVID 19 menambah beban pada sistem pernapasan, risiko desaturasi (penurunan kadar oksigen darah) menjadi lebih tinggi, terutama pada malam hari. Inilah salah satu alasan mengapa pemantauan saturasi oksigen dan pola napas pada malam hari penting pada anak dengan sleep apnea pada anak yang sedang terinfeksi COVID 19.

Konsekuensi jangka panjang bila sleep apnea pada anak tidak ditangani

Sleep apnea pada anak bukan hanya memperbesar risiko flu dan COVID 19 saat ini, tetapi juga membawa konsekuensi jangka panjang yang dapat memengaruhi kualitas hidup hingga dewasa. Mengabaikan gangguan napas saat tidur berarti membiarkan tubuh anak berada dalam kondisi stres kronis yang halus namun terus menerus.

Pengaruh terhadap tumbuh kembang dan fungsi otak

Otak anak berkembang pesat di tahun tahun awal kehidupan, dan tidur yang berkualitas adalah salah satu bahan bakar utamanya. Sleep apnea pada anak yang tidak ditangani dapat menyebabkan:

Gangguan konsentrasi dan memori
Penurunan prestasi akademik
Perilaku mirip ADHD, seperti hiperaktivitas dan impulsivitas
Masalah regulasi emosi, mudah marah, atau cenderung agresif

Selain itu, hormon pertumbuhan banyak dilepaskan saat tidur nyenyak. Anak dengan sleep apnea pada anak yang sering terbangun mikro mungkin mengalami hambatan pertumbuhan tinggi badan atau berat badan yang tidak proporsional.

Risiko kesehatan fisik jangka panjang

Dalam jangka panjang, sleep apnea pada anak dapat meningkatkan risiko:

Tekanan darah tinggi sejak usia muda
Gangguan metabolik seperti resistensi insulin
Masalah kardiovaskular di kemudian hari
Peningkatan berat badan akibat gangguan hormon lapar kenyang

Jika dikombinasikan dengan riwayat infeksi pernapasan berulang seperti flu berat atau COVID 19, beban pada sistem kardiovaskular dan pernapasan menjadi semakin besar. Ini salah satu alasan mengapa deteksi dan intervensi dini sangat dianjurkan.

Cara mendiagnosis sleep apnea pada anak secara tepat

Diagnosis sleep apnea pada anak tidak bisa hanya mengandalkan cerita ngorok atau kelelahan. Diperlukan evaluasi sistematis untuk memastikan jenis dan derajat keparahan gangguan napas saat tidur, serta faktor penyebab yang mendasari.

Langkah awal: wawancara dan pemeriksaan fisik

Dokter akan memulai dengan menanyakan:

Sejak kapan anak ngorok dan seberapa sering
Apakah ada henti napas yang terlihat
Bagaimana perilaku anak di siang hari
Riwayat alergi, obesitas, atau pembesaran amandel
Riwayat infeksi saluran napas berulang

Pemeriksaan fisik akan mencakup:

Penilaian ukuran amandel dan adenoid
Bentuk rahang, langit langit mulut, dan posisi gigi
Kebiasaan bernapas lewat mulut
Tanda tanda obesitas atau kelainan lain

Informasi ini penting untuk menentukan apakah perlu pemeriksaan lanjutan seperti studi tidur.

Studi tidur untuk menilai sleep apnea pada anak

Pemeriksaan yang dianggap standar emas untuk mendiagnosis sleep apnea pada anak adalah polisomnografi. Pemeriksaan ini dilakukan di laboratorium tidur dengan memasang berbagai sensor pada tubuh anak untuk memantau:

Gelombang otak
Gerakan mata
Tegangan otot
Aliran napas
Gerakan dada dan perut
Kadar oksigen darah
Posisi tubuh

Dari data ini, dokter dapat menghitung berapa kali terjadi henti napas atau aliran napas berkurang per jam tidur, serta menilai seberapa berat gangguan tersebut. Pada beberapa kasus, digunakan juga alat pemantauan tidur di rumah yang lebih sederhana, terutama bila akses ke laboratorium tidur terbatas.

Diagnosis yang tepat membantu menentukan apakah sleep apnea pada anak termasuk ringan, sedang, atau berat, dan terapi apa yang paling aman dan efektif.

Strategi penanganan sleep apnea pada anak untuk menurunkan risiko infeksi

Mengurangi risiko flu dan COVID 19 pada anak dengan sleep apnea pada anak tidak cukup hanya dengan vaksinasi dan protokol kesehatan. Inti pencegahan adalah memperbaiki kualitas tidur dan fungsi napas anak, sehingga sistem imun dapat bekerja lebih optimal.

Pendekatan medis dan bedah pada sleep apnea pada anak

Pilihan terapi akan disesuaikan dengan penyebab dan derajat keparahan. Beberapa pendekatan yang umum digunakan:

Operasi pengangkatan amandel dan adenoid
Pada anak dengan pembesaran amandel dan adenoid yang jelas, tindakan ini sering menjadi pilihan utama. Banyak studi menunjukkan perbaikan signifikan pada gejala sleep apnea pada anak setelah operasi.

Terapi CPAP atau BiPAP
Pada kasus sedang hingga berat, atau bila operasi tidak memungkinkan, alat bantu napas dengan tekanan positif dapat digunakan saat tidur. Alat ini menjaga saluran napas tetap terbuka sehingga henti napas berkurang drastis.

Penurunan berat badan
Pada anak dengan obesitas, program penurunan berat badan yang terstruktur sangat penting. Bahkan penurunan berat badan sedang dapat memperbaiki gejala sleep apnea pada anak dan mengurangi risiko infeksi.

Terapi alergi dan perbaikan hidung tersumbat
Mengelola rinitis alergi, sinusitis, atau masalah hidung kronis lainnya membantu memperbaiki pola napas dan mengurangi beban pada saluran napas saat tidur.

Perawatan ortodontik dan terapi myofungsional
Pada beberapa anak, perawatan gigi dan rahang atau latihan otot mulut dan lidah dapat membantu memperlebar saluran napas dan memperbaiki pola napas jangka panjang.

Tujuan utama semua intervensi ini adalah mengurangi frekuensi henti napas, menstabilkan kadar oksigen, dan mengembalikan arsitektur tidur yang sehat.

Peran kebiasaan harian dalam menguatkan pertahanan tubuh

Selain penanganan medis, perubahan gaya hidup dan kebiasaan harian juga berpengaruh besar terhadap risiko infeksi pada anak dengan sleep apnea pada anak.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan:

Kebersihan tidur
Jam tidur yang konsisten, lingkungan kamar yang tenang dan gelap, serta posisi tidur yang mendukung napas lebih lega (misalnya miring) dapat membantu mengurangi gangguan napas pada sebagian anak.

Nutrisi seimbang
Asupan protein, vitamin, dan mineral yang cukup mendukung sistem imun. Mengurangi makanan tinggi gula sederhana dan lemak jenuh membantu mengendalikan berat badan dan inflamasi.

Aktivitas fisik teratur
Olahraga membantu mengontrol berat badan, meningkatkan kapasitas paru, dan memperbaiki kualitas tidur malam.

Pengelolaan paparan alergen
Mengurangi debu, asap rokok, dan alergen lain di rumah dapat menurunkan peradangan saluran napas yang berkontribusi pada sleep apnea pada anak.

Kepatuhan terhadap terapi yang diresepkan dokter
Penggunaan CPAP, obat alergi, atau alat bantu lain harus konsisten untuk mendapatkan manfaat maksimal dalam jangka panjang.

Dengan menggabungkan penanganan medis yang tepat dan kebiasaan hidup yang mendukung kesehatan, risiko flu dan COVID 19 pada anak dengan sleep apnea pada anak dapat ditekan secara signifikan, dan kualitas hidup mereka pun meningkat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *