Selama ini, banyak orang mengaitkan risiko diabetes dengan pola makan, berat badan, dan kurang gerak. Namun, semakin banyak penelitian yang menyoroti bahwa faktor biologis sejak lahir, termasuk golongan darah, juga punya peran. Pertanyaan yang mulai sering muncul di kalangan peneliti adalah: adakah golongan darah paling berisiko diabetes, dan sejauh apa pengaruhnya dibanding faktor lain seperti obesitas atau riwayat keluarga?
Diabetes bukan lagi penyakit yang hanya menghantui usia lanjut. Usia produktif, bahkan remaja, kini semakin sering terdiagnosis. Di tengah kekhawatiran ini, memahami apakah golongan darah kita termasuk golongan darah paling berisiko diabetes bisa menjadi pintu masuk untuk skrining lebih dini dan perubahan gaya hidup yang lebih serius. Bukan untuk menakut-nakuti, tetapi untuk memberi kita “lampu peringatan” yang lebih jelas.
Mengapa Golongan Darah Dikaitkan dengan Risiko Diabetes?
Sebelum membahas golongan darah paling berisiko diabetes, penting memahami mengapa golongan darah bisa berkaitan dengan penyakit metabolik seperti diabetes. Golongan darah bukan sekadar label A, B, AB, atau O. Di permukaan sel darah merah kita, terdapat molekul tertentu yang disebut antigen. Antigen inilah yang menentukan golongan darah, dan ternyata tidak hanya ada di sel darah merah, tetapi juga di jaringan lain seperti pembuluh darah, saluran pencernaan, dan beberapa organ.
Penelitian menunjukkan bahwa perbedaan antigen ini dapat memengaruhi beberapa hal, misalnya:
1. Cara tubuh merespons peradangan
2. Profil pembekuan darah dan risiko penyakit kardiovaskular
3. Interaksi dengan hormon tertentu yang terlibat dalam metabolisme
4. Susunan mikrobiota usus yang berkaitan dengan sensitivitas insulin
Ketika berbicara tentang golongan darah paling berisiko diabetes, para ilmuwan melihat hubungan antara tipe golongan darah dengan kadar gula darah, resistensi insulin, dan kecenderungan mengalami sindrom metabolik. Hubungan ini tidak sesederhana “golongan darah X pasti kena diabetes”, tetapi lebih kepada peningkatan risiko statistik pada kelompok tertentu.
“Golongan darah bukan vonis, tapi cermin kecil yang membantu kita melihat sisi tersembunyi dari risiko kesehatan yang sering kita anggap hanya dipengaruhi pola hidup.”
Apa Kata Penelitian tentang Golongan Darah Paling Berisiko Diabetes?
Sejumlah studi epidemiologi besar di Eropa dan Asia mulai menelusuri golongan darah paling berisiko diabetes dengan melibatkan puluhan hingga ratusan ribu partisipan. Hasilnya cukup konsisten: ada kecenderungan bahwa individu dengan golongan darah tertentu lebih sering ditemukan menderita diabetes tipe 2 dibanding golongan lainnya.
Beberapa penelitian menemukan bahwa:
1. Golongan darah non O cenderung memiliki risiko lebih tinggi mengalami diabetes tipe 2 dibanding golongan O
2. Di antara non O, golongan A dan B menunjukkan pola peningkatan risiko yang cukup menonjol di beberapa populasi
3. Golongan AB di beberapa studi menunjukkan hubungan dengan gangguan metabolik, meski datanya belum sekuat golongan A dan B
Perlu ditekankan, hubungan ini bersifat asosiatif, bukan kausal mutlak. Artinya, ditemukan kecenderungan statistik bahwa kelompok tertentu lebih sering mengalami diabetes, tetapi bukan berarti golongan darah itu satu satunya penyebab. Namun, ketika kita membicarakan golongan darah paling berisiko diabetes, data ini cukup penting untuk dijadikan pertimbangan klinis, terutama pada individu yang sudah punya faktor risiko lain.
Golongan Darah A dan Risiko Diabetes Tipe 2
Di banyak kajian populasi, golongan darah A sering muncul sebagai kandidat kuat dalam daftar golongan darah paling berisiko diabetes. Di beberapa penelitian besar, individu dengan golongan darah A tercatat memiliki risiko relatif lebih tinggi mengalami diabetes tipe 2 dibanding golongan darah O.
Ada beberapa hipotesis yang diajukan untuk menjelaskan hal ini. Antigen A yang terdapat pada permukaan sel dan jaringan diduga berkaitan dengan:
1. Pola peradangan kronis tingkat rendah yang lebih mudah terjadi
2. Perubahan profil lipid darah, seperti kecenderungan kolesterol jahat lebih tinggi
3. Interaksi dengan faktor pembekuan darah yang juga berhubungan dengan sindrom metabolik
Peradangan kronis tingkat rendah adalah salah satu mekanisme penting dalam perkembangan resistensi insulin. Ketika sel tubuh menjadi kurang sensitif terhadap insulin, pankreas harus bekerja lebih keras memproduksi hormon ini. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa berujung pada diabetes tipe 2.
Pada individu dengan golongan darah A, terutama yang memiliki riwayat keluarga diabetes, obesitas perut, dan gaya hidup sedentari, potensi risiko ini menjadi lebih nyata. Golongan darah A dalam konteks ini bukan penyebab tunggal, tetapi seperti “penguat sinyal” ketika faktor faktor lain sudah mengarah ke jalur diabetes.
Golongan Darah B dan Hubungannya dengan Gula Darah
Golongan darah B juga sering disebut dalam pembahasan mengenai golongan darah paling berisiko diabetes. Beberapa studi menunjukkan bahwa pemilik golongan darah B memiliki kecenderungan lebih tinggi mengalami gangguan metabolik, termasuk resistensi insulin dan kadar gula darah yang lebih mudah meningkat.
Antigen B memiliki struktur yang berbeda dari antigen A, tetapi sama sama memengaruhi interaksi sel dengan lingkungan sekitarnya. Dalam beberapa penelitian, individu bergolongan darah B dilaporkan lebih sering mengalami:
1. Dislipidemia atau gangguan lemak darah
2. Lingkar pinggang yang lebih besar terkait obesitas sentral
3. Kombinasi tekanan darah tinggi dan gula darah yang cenderung naik seiring usia
Kombinasi ini adalah “paket lengkap” sindrom metabolik yang menjadi pintu masuk utama diabetes tipe 2. Ketika menilai golongan darah paling berisiko diabetes, keberadaan golongan darah B dalam kelompok dengan risiko yang meningkat membuat dokter seharusnya lebih waspada saat menemukan pasien bergolongan B dengan pola hidup tidak sehat.
Di beberapa populasi Asia, prevalensi golongan darah B cukup tinggi, sehingga implikasinya terhadap angka kejadian diabetes di tingkat populasi menjadi lebih besar. Hal ini menjelaskan mengapa di negara negara dengan angka diabetes tinggi, perhatian pada distribusi golongan darah mulai dianggap relevan dalam penelitian kesehatan masyarakat.
Golongan Darah AB, Kombinasi Risiko yang Perlu Diwaspadai
Golongan darah AB merupakan kombinasi antigen A dan B, sehingga beberapa peneliti menduga bahwa golongan ini bisa membawa sebagian karakteristik risiko dari keduanya. Dalam diskusi tentang golongan darah paling berisiko diabetes, golongan AB sering ditempatkan sebagai kelompok yang menarik untuk diteliti, meski jumlah penderitanya relatif lebih sedikit dibanding A, B, dan O.
Beberapa studi melaporkan bahwa individu dengan golongan darah AB memiliki:
1. Risiko lebih tinggi mengalami penyakit kardiovaskular
2. Hubungan dengan beberapa gangguan metabolik, termasuk peningkatan risiko diabetes tipe 2 di beberapa populasi
3. Profil pembekuan darah yang cenderung lebih “aktif”, yang berkaitan dengan kerusakan pembuluh darah halus akibat gula darah tinggi
Diabetes adalah penyakit yang sangat erat kaitannya dengan kerusakan pembuluh darah, baik besar maupun kecil. Jika seseorang sejak awal memiliki kecenderungan pembuluh darah lebih rentan, misalnya karena faktor golongan darah, maka efek gula darah tinggi bisa lebih cepat terasa dan lebih berat.
Namun, perlu jujur dikatakan bahwa data mengenai golongan darah AB sebagai golongan darah paling berisiko diabetes belum sekuat data untuk golongan A dan B. Sebagian besar studi masih terbatas oleh jumlah sampel AB yang lebih sedikit, sehingga membutuhkan penelitian lebih luas untuk memperkuat kesimpulan.
Golongan Darah O, Benarkah Lebih “Terlindungi”?
Ketika membahas golongan darah paling berisiko diabetes, golongan darah O sering disebut sebaliknya, yaitu memiliki risiko relatif lebih rendah dibanding golongan non O. Dalam beberapa penelitian besar, individu dengan golongan darah O cenderung memiliki angka kejadian diabetes tipe 2 yang sedikit lebih rendah.
Ada beberapa penjelasan yang diajukan:
1. Ketiadaan antigen A dan B diduga membuat pola peradangan kronis sedikit berbeda
2. Beberapa studi menunjukkan profil lemak darah yang relatif lebih baik pada sebagian pemilik golongan darah O
3. Hubungan dengan faktor pembekuan darah yang sedikit lebih menguntungkan dibanding golongan non O
Namun, penting untuk dipahami bahwa “lebih rendah” bukan berarti “kebal”. Banyak pasien diabetes yang memiliki golongan darah O, terutama ketika faktor lain seperti pola makan tinggi gula, obesitas, kurang olahraga, dan riwayat keluarga kuat mendominasi.
Dalam praktik klinis, tidak ada dokter yang akan berkata “Anda golongan darah O, jadi aman dari diabetes”. Golongan darah hanya satu variabel kecil di antara puluhan faktor risiko lain. Meski begitu, fakta bahwa golongan O cenderung memiliki risiko sedikit lebih rendah tetap menarik dari sisi epidemiologi, terutama saat membandingkan distribusi golongan darah paling berisiko diabetes di berbagai populasi.
Mengapa Golongan Non O Lebih Sering Dikaitkan dengan Diabetes?
Jika kita rangkum berbagai penelitian, pola yang sering muncul adalah bahwa golongan non O yaitu A, B, dan AB lebih sering muncul dalam kelompok golongan darah paling berisiko diabetes. Pertanyaannya, apa yang membedakan non O dengan O sehingga risikonya berbeda?
Beberapa penjelasan ilmiah yang diajukan antara lain:
1. Perbedaan struktur antigen
Golongan non O memiliki antigen spesifik A dan atau B yang memengaruhi interaksi sel dengan sistem imun dan molekul lain di permukaan pembuluh darah. Hal ini berhubungan dengan kecenderungan peradangan kronis dan pembekuan darah.
2. Hubungan dengan faktor von Willebrand dan faktor VIII
Individu non O cenderung memiliki kadar faktor pembekuan tertentu yang lebih tinggi. Hal ini meningkatkan risiko penyakit kardiovaskular, yang sangat erat kaitannya dengan diabetes tipe 2.
3. Pengaruh terhadap mikrobiota usus
Beberapa studi awal menunjukkan bahwa antigen golongan darah dapat memengaruhi komposisi bakteri di usus. Komposisi mikrobiota ini berperan dalam metabolisme gula dan lemak, serta sensitivitas insulin.
4. Interaksi dengan hormon dan reseptor
Ada dugaan bahwa perbedaan golongan darah dapat memengaruhi ekspresi reseptor tertentu di permukaan sel, yang pada akhirnya memengaruhi respons terhadap insulin dan metabolisme glukosa.
Penjelasan penjelasan ini masih terus diteliti dan belum semuanya mencapai konsensus ilmiah yang bulat. Namun, pola konsisten yang menunjukkan bahwa non O lebih sering masuk kelompok golongan darah paling berisiko diabetes membuat topik ini semakin diperhatikan dalam riset kesehatan.
Golongan Darah Paling Berisiko Diabetes Bukan Satu satunya Penentu
Meski menarik dan relevan, pembahasan tentang golongan darah paling berisiko diabetes seringkali disalahartikan. Ada orang yang merasa “pasrah” karena merasa lahir dengan golongan darah yang dianggap berisiko, dan sebaliknya ada yang menjadi terlalu percaya diri karena merasa golongan darahnya “aman”.
Dalam ilmu kedokteran, risiko selalu bersifat multifaktorial. Golongan darah hanyalah salah satu dari sekian banyak faktor, dan sering kali bukan yang paling kuat. Faktor yang jauh lebih besar pengaruhnya meliputi:
1. Pola makan tinggi gula, karbohidrat olahan, dan lemak jenuh
2. Obesitas, terutama obesitas perut
3. Kurang aktivitas fisik
4. Riwayat keluarga dengan diabetes
5. Usia, terutama di atas 40 tahun
6. Tekanan darah tinggi dan kolesterol tinggi
7. Riwayat diabetes gestasional pada perempuan
Jika seseorang memiliki golongan darah yang termasuk dalam kelompok golongan darah paling berisiko diabetes, tetapi menjaga berat badan ideal, aktif bergerak, makan seimbang, dan rutin melakukan cek kesehatan, risikonya bisa ditekan secara signifikan. Sebaliknya, seseorang dengan golongan darah O tetap bisa mengalami diabetes bila pola hidupnya buruk.
“Golongan darah adalah latar belakang, bukan alur utama cerita. Yang menulis alur utama tetaplah pilihan gaya hidup kita sehari hari.”
Cara Menyikapi Informasi Golongan Darah dan Risiko Diabetes
Mengetahui bahwa ada golongan darah paling berisiko diabetes seharusnya tidak membuat kita panik, tetapi lebih waspada dan proaktif. Informasi ini bisa dimanfaatkan sebagai alat bantu dalam merencanakan pemeriksaan kesehatan dan gaya hidup.
Beberapa langkah yang dapat dilakukan:
1. Kenali golongan darah sendiri
Banyak orang dewasa yang bahkan belum tahu golongan darahnya. Informasi ini tidak hanya penting untuk transfusi, tetapi juga untuk memahami profil risiko kesehatan secara keseluruhan.
2. Diskusikan dengan tenaga kesehatan
Jika Anda memiliki golongan darah A, B, atau AB, terutama bila disertai faktor risiko lain, bicarakan dengan dokter tentang frekuensi ideal pemeriksaan gula darah dan evaluasi risiko metabolik.
3. Jadikan sebagai alarm dini
Bagi mereka yang masuk kelompok golongan darah paling berisiko diabetes, informasi ini bisa menjadi “alarm dini” untuk lebih disiplin dalam menjaga berat badan, pola makan, dan aktivitas fisik.
4. Jangan jadikan alasan untuk abai atau pasrah
Golongan darah risiko rendah bukan alasan untuk santai, dan golongan darah risiko tinggi bukan alasan untuk menyerah. Yang menentukan ujungnya tetap kebiasaan harian.
5. Pantau parameter lain
Selain gula darah puasa, periksa juga HbA1c, profil lipid, tekanan darah, dan lingkar pinggang. Kombinasi faktor faktor ini jauh lebih kuat memprediksi risiko diabetes dibanding golongan darah saja.
Screening Dini pada Golongan Darah Paling Berisiko Diabetes
Salah satu manfaat praktis dari pemahaman tentang golongan darah paling berisiko diabetes adalah kemungkinan melakukan skrining yang lebih terarah. Di masa depan, bukan tidak mungkin panduan klinis akan memasukkan golongan darah sebagai salah satu faktor pertimbangan dalam menentukan siapa yang perlu diperiksa lebih sering.
Saat ini pun, pendekatan yang lebih personal bisa mulai diterapkan:
1. Individu dengan golongan darah A, B, atau AB
Ditambah faktor risiko lain seperti obesitas, riwayat keluarga, atau tekanan darah tinggi, sebaiknya melakukan pemeriksaan gula darah lebih dini, bahkan sebelum usia 40 tahun.
2. Perempuan dengan riwayat diabetes gestasional dan golongan non O
Mereka ini termasuk kelompok yang sangat perlu mendapat perhatian, karena risiko diabetes setelah kehamilan sudah tinggi, dan bisa diperkuat oleh faktor golongan darah.
3. Populasi dengan prevalensi diabetes tinggi
Di daerah atau negara yang angka diabetesnya sangat tinggi, pemetaan distribusi golongan darah paling berisiko diabetes dapat membantu menyusun strategi kesehatan masyarakat yang lebih tajam.
Pendekatan skrining yang lebih personal seperti ini diharapkan dapat menangkap kasus kasus pra diabetes lebih awal, ketika perubahan gaya hidup masih sangat efektif untuk mencegah progresi menjadi diabetes penuh.
Gaya Hidup yang Bisa Menekan Risiko, Apa pun Golongan Darahnya
Terlepas dari apakah seseorang termasuk dalam golongan darah paling berisiko diabetes atau tidak, fondasi pencegahan tetap sama: gaya hidup sehat. Di klinik, sering kali terlihat bahwa perubahan sederhana yang dilakukan konsisten jauh lebih kuat efeknya dibanding keunggulan genetis apa pun.
Beberapa prinsip yang terbukti efektif:
1. Pola makan seimbang
Perbanyak sayur, buah utuh, biji bijian utuh, kacang kacangan, dan kurangi makanan ultra proses, minuman manis, serta karbohidrat olahan. Bukan berarti tidak boleh sama sekali, tetapi frekuensi dan porsinya perlu dibatasi.
2. Aktivitas fisik rutin
Minimal 150 menit per minggu aktivitas intensitas sedang seperti jalan cepat, bersepeda santai, atau berenang, ditambah latihan kekuatan otot 2 kali seminggu. Otot yang aktif membantu meningkatkan sensitivitas insulin.
3. Tidur cukup dan berkualitas
Kurang tidur kronis terbukti mengganggu metabolisme gula dan meningkatkan risiko diabetes, terlepas dari golongan darah.
4. Kendalikan stres
Stres kronis meningkatkan hormon seperti kortisol yang dapat menaikkan kadar gula darah. Teknik relaksasi, meditasi, atau aktivitas yang menyenangkan dapat membantu.
5. Pantau berat badan
Bahkan penurunan berat badan 5 sampai 7 persen dari berat awal sudah bisa menurunkan risiko diabetes secara signifikan pada individu dengan pra diabetes.
Dengan kata lain, meski ada golongan darah paling berisiko diabetes, pola hidup tetap menjadi faktor yang bisa kita kendalikan secara langsung. Kombinasi pengetahuan biologis dan tindakan sehari hari inilah yang sebenarnya paling menentukan kesehatan jangka panjang.
Perlukah Tes Genetik Selain Mengetahui Golongan Darah?
Di era kedokteran presisi, banyak orang mulai melirik tes genetik untuk mengetahui risiko penyakit, termasuk diabetes. Jika sebelumnya kita hanya berbicara tentang golongan darah paling berisiko diabetes, kini muncul pertanyaan: apakah tes genetik lebih penting?
Tes genetik memang dapat memberikan informasi yang jauh lebih detail tentang varian gen yang berkaitan dengan:
1. Resistensi insulin
2. Kecenderungan obesitas
3. Pengolahan lemak dan karbohidrat
4. Respons terhadap obat obat diabetes tertentu
Namun, perlu diingat bahwa:
1. Hasil tes genetik bukan vonis
Banyak orang dengan “gen risiko tinggi” yang tidak pernah mengalami diabetes karena gaya hidupnya sangat sehat.
2. Biaya dan akses masih menjadi kendala
Tidak semua orang membutuhkan tes genetik mahal untuk mengelola risikonya. Informasi dasar seperti riwayat keluarga, berat badan, tekanan darah, dan tentu saja golongan darah, sudah cukup untuk memulai pencegahan.
3. Golongan darah tetap relevan
Meski tidak sedetail tes genetik, informasi golongan darah paling berisiko diabetes dapat menjadi salah satu bagian dari puzzle besar profil risiko seseorang.
Di lapangan, pendekatan yang paling realistis adalah memadukan informasi yang ada dan dapat diakses, seperti golongan darah, riwayat keluarga, dan parameter klinis, sambil memanfaatkan tes lanjutan bila memang dibutuhkan dan tersedia.
Mengubah Cara Pandang terhadap Risiko Diabetes
Diskusi tentang golongan darah paling berisiko diabetes seharusnya mengubah cara kita memandang penyakit ini. Diabetes bukan hanya akibat “kebanyakan makan manis”, tetapi hasil interaksi kompleks antara gen, lingkungan, dan kebiasaan.
Mengetahui bahwa golongan darah tertentu memiliki risiko lebih tinggi bisa membantu kita:
1. Lebih memahami bahwa setiap orang memiliki “titik lemah” biologis yang berbeda
2. Menyadari bahwa pencegahan perlu dipersonalisasi, bukan seragam untuk semua orang
3. Mengurangi stigma bahwa diabetes hanya terjadi karena “kurang disiplin”, karena ada faktor bawaan yang juga berperan
Di sisi lain, pengetahuan ini jangan sampai mengurangi rasa tanggung jawab pribadi. Justru karena ada golongan darah paling berisiko diabetes, mereka yang termasuk di dalamnya punya alasan lebih kuat untuk bergerak, memeriksa diri, dan mengubah gaya hidup sedini mungkin.






