4 dari 10 Kanker Bisa Dicegah WHO, Begini Faktanya!

Organisasi Kesehatan Dunia menegaskan kanker bisa dicegah WHO memperkirakan sekitar 30 hingga 40 persen kasus kanker di dunia sebetulnya tidak perlu terjadi jika faktor risiko utamanya dikendalikan. Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi alarm keras bahwa gaya hidup, lingkungan, dan kebijakan kesehatan publik memegang peran besar dalam menentukan apakah seseorang akan berhadapan dengan kanker atau tidak. Di tengah meningkatnya kasus kanker di Indonesia, pesan ini menjadi sangat relevan untuk dipahami secara serius, bukan dengan ketakutan, melainkan dengan pengetahuan dan tindakan yang terukur.

Apa Maksud WHO Saat Menyebut 4 dari 10 Kanker Bisa Dicegah WHO?

Ketika badan internasional ini menyatakan bahwa kanker bisa dicegah WHO merujuk pada konsep pencegahan primer, yaitu mencegah kanker sebelum sel abnormal sempat berkembang menjadi penyakit. Mereka menelaah data global tentang faktor risiko seperti merokok, pola makan tidak sehat, obesitas, kurang aktivitas fisik, konsumsi alkohol, paparan sinar ultraviolet berlebih, infeksi tertentu, serta polusi udara.

Perhitungan 4 dari 10 kasus ini berbasis pada istilah attributable fraction, yaitu proporsi penyakit yang tidak akan muncul jika faktor risiko tertentu dihilangkan. Misalnya, tanpa konsumsi tembakau, sebagian besar kanker paru dan sejumlah kanker lain tidak terjadi. Jika pola makan diperbaiki dan berat badan terkontrol, risiko berbagai kanker pencernaan dan hormon berkurang signifikan.

Penting dipahami, angka 40 persen bukan batas mutlak. Di beberapa negara dengan kontrol faktor risiko yang buruk, proporsi kanker yang sebenarnya bisa dicegah kemungkinan lebih tinggi. Di negara yang sudah sangat disiplin dengan pencegahan, angkanya bisa sedikit lebih rendah. Namun pesan intinya sama: kanker bukan semata takdir biologis, ada ruang intervensi yang luas.

Faktor Risiko Utama yang Diincar WHO Saat Menyebut Kanker Bisa Dicegah WHO

Sebelum berbicara tentang strategi, kita perlu memahami “musuh utama” yang menjadi sasaran rekomendasi kanker bisa dicegah WHO. Faktor risiko ini sudah dipelajari puluhan tahun dan bukti ilmiahnya sangat kuat, bukan sekadar dugaan.

Kanker Bisa Dicegah WHO: Tembakau Sebagai Kontributor Terbesar

Dalam daftar faktor risiko yang paling bertanggung jawab terhadap kanker, tembakau berada di puncak. Kanker bisa dicegah WHO menempatkan pengendalian konsumsi rokok dan produk tembakau sebagai prioritas utama. Rokok dikaitkan dengan kanker paru, mulut, laring, faring, pankreas, kandung kemih, ginjal, serviks, dan beberapa kanker lainnya.

Asap rokok mengandung lebih dari 70 zat karsinogenik yang dapat merusak DNA sel. Kerusakan DNA yang berulang dan tidak diperbaiki inilah yang membuka jalan bagi sel menjadi ganas. Bukan hanya perokok aktif yang terancam, perokok pasif di rumah atau di tempat kerja juga menanggung risiko lebih tinggi.

Kebijakan kenaikan cukai, pelarangan iklan, pembatasan area merokok, dan peringatan kesehatan bergambar bukan sekadar formalitas. Negara yang menerapkan kebijakan ketat terhadap tembakau terbukti mengalami penurunan signifikan pada kasus kanker terkait rokok setelah beberapa dekade.

“Jika hanya boleh memilih satu intervensi kesehatan masyarakat yang paling efektif mencegah kanker, saya akan memilih pengendalian tembakau tanpa ragu sedikit pun.”

Pola Makan, Obesitas, dan Kurangnya Aktivitas Fisik

Pola makan modern yang tinggi gula, lemak jenuh, daging olahan, dan rendah serat menjadi kombinasi berbahaya bagi risiko kanker. Kelebihan kalori yang tidak diimbangi aktivitas fisik akan berujung pada kelebihan berat badan, kemudian obesitas.

Kanker bisa dicegah WHO menekankan bahwa obesitas tidak sekadar isu penampilan, tetapi kondisi inflamasi kronis yang mengubah cara tubuh memproduksi dan merespons hormon, seperti estrogen, insulin, dan faktor pertumbuhan. Perubahan hormonal dan inflamasi inilah yang dikaitkan dengan meningkatnya risiko kanker payudara pascamenopause, kanker usus besar, endometrium, ginjal, esofagus bagian bawah, dan beberapa jenis kanker lain.

Kurang gerak juga berkontribusi dengan cara menurunkan sensitivitas insulin, meningkatkan lemak tubuh, serta memperlambat pergerakan usus sehingga zat karsinogenik dari makanan lebih lama bersentuhan dengan dinding usus. Kombinasi diet buruk, obesitas, dan kurang aktivitas fisik diperkirakan menyumbang jutaan kasus kanker setiap tahun di dunia.

Alkohol, Sinar UV, dan Polusi Udara

Alkohol sering diremehkan karena penggunaannya diterima secara sosial di banyak budaya. Namun, dari sudut pandang onkologi, tidak ada batas konsumsi alkohol yang benar benar aman. Etanol diubah menjadi asetaldehida di dalam tubuh, zat yang dapat merusak DNA dan protein sel. Konsumsi alkohol dikaitkan dengan kanker mulut, tenggorokan, esofagus, hati, payudara, dan usus besar.

Paparan sinar ultraviolet berlebih, baik dari matahari maupun tanning bed, meningkatkan risiko kanker kulit, termasuk melanoma yang sangat agresif. Penggunaan tabir surya, pakaian pelindung, dan menghindari paparan matahari di jam puncak menjadi bagian dari strategi pencegahan.

Polusi udara, terutama partikel halus PM2,5, diakui WHO sebagai karsinogen. Paparan jangka panjang meningkatkan risiko kanker paru bahkan pada orang yang tidak merokok. Di kota besar dengan kualitas udara buruk, kontribusi polusi terhadap kanker menjadi perhatian serius.

Infeksi yang Berkaitan dengan Kanker

Tidak semua orang menyadari bahwa beberapa kanker berawal dari infeksi kronis. Kanker bisa dicegah WHO menempatkan pencegahan dan pengobatan infeksi ini sebagai pilar penting.

Beberapa contoh yang paling dikenal adalah
Human papillomavirus HPV yang berkaitan erat dengan kanker serviks, serta sebagian kanker anus, penis, vagina, dan orofaring
Hepatitis B dan C yang dapat memicu sirosis dan kemudian kanker hati
Helicobacter pylori yang meningkatkan risiko kanker lambung
Beberapa parasit dan virus lain yang lebih jarang tetapi tetap relevan di wilayah tertentu

Vaksinasi, pengobatan infeksi tepat waktu, serta peningkatan sanitasi menjadi langkah kunci untuk menurunkan kanker yang terkait infeksi.

Mengapa Banyak Orang Masih Merasa Kanker Tidak Bisa Dicegah?

Meskipun pesan kanker bisa dicegah WHO sudah berulang kali disuarakan, persepsi publik sering kali berbeda. Banyak orang menganggap kanker sebagai penyakit “turun dari langit” yang tidak bisa dihindari. Ada beberapa alasan mengapa kesenjangan persepsi ini terus terjadi.

Pertama, kanker memang dapat muncul pada orang yang tampak menjalani hidup sehat. Kasus kasus seperti ini mudah menempel di ingatan dan menimbulkan kesan bahwa pencegahan tidak ada gunanya. Padahal, yang dipengaruhi pencegahan adalah risiko, bukan jaminan mutlak. Orang yang hidup sehat masih bisa terkena kanker, tetapi peluangnya jauh lebih rendah dibanding mereka yang mengabaikan faktor risiko.

Kedua, pengaruh genetik dan usia sering dibesar besarkan. Memang benar ada kanker yang sangat dipengaruhi mutasi gen bawaan, namun secara global proporsinya jauh lebih kecil dibanding kanker yang dipicu faktor lingkungan dan gaya hidup. Usia lanjut juga meningkatkan risiko karena akumulasi kerusakan DNA, tetapi gaya hidup sehat sejak muda dapat memperlambat proses tersebut.

Ketiga, industri yang berkepentingan, terutama tembakau dan minuman beralkohol, selama bertahun tahun menyebarkan narasi bahwa kanker adalah masalah genetik atau “nasib buruk”, bukan akibat produk mereka. Strategi komunikasi ini membuat masyarakat ragu untuk mengaitkan kebiasaan sehari hari dengan kanker.

Kanker Bisa Dicegah WHO: Strategi Gaya Hidup yang Paling Berdampak

Setelah memahami faktor risiko, muncul pertanyaan praktis: apa yang bisa dilakukan individu untuk menurunkan risiko kanker secara nyata sesuai rekomendasi kanker bisa dicegah WHO? Beberapa langkah berikut didukung bukti ilmiah kuat dan konsisten.

Penghentian Tembakau dan Perlindungan dari Asap Rokok

Berhenti merokok adalah salah satu keputusan kesehatan paling penting yang bisa diambil seseorang. Manfaatnya tidak hanya menurunkan risiko kanker paru, tetapi juga berbagai kanker lain dan penyakit kardiovaskular.

Dalam beberapa tahun setelah berhenti merokok, risiko kanker paru memang tidak langsung sama seperti orang yang tidak pernah merokok, namun penurunannya jelas terlihat. Semakin dini berhenti, semakin besar manfaatnya. Dukungan konseling, terapi pengganti nikotin, dan obat tertentu dapat membantu meningkatkan keberhasilan berhenti.

Bagi yang tidak merokok, menjaga lingkungan bebas asap rokok sama pentingnya. Menetapkan rumah sebagai area bebas rokok, menghindari tempat yang penuh asap, dan mendukung kebijakan ruang publik bebas rokok merupakan bagian dari perlindungan diri dan keluarga.

Pola Makan Seimbang dan Berat Badan Terkendali

WHO dan berbagai badan kanker internasional menganjurkan pola makan yang menekankan konsumsi sayur, buah, biji bijian utuh, kacang kacangan, dan membatasi daging olahan, daging merah berlebihan, makanan ultra olahan, gula tambahan, serta minuman manis.

Serat dari tumbuhan membantu menjaga kesehatan usus, mempercepat transit feses, dan mendukung mikrobiota usus yang sehat. Antioksidan dan fitokimia dalam buah dan sayuran dapat membantu mengurangi kerusakan oksidatif pada sel.

Menjaga berat badan ideal bukan soal diet ketat sesaat, melainkan pola makan jangka panjang yang realistis. Penurunan berat badan 5 hingga 10 persen pada orang yang obesitas sudah dapat memberikan manfaat kesehatan yang berarti, termasuk menurunkan faktor risiko terkait kanker.

Aktivitas Fisik Teratur

Aktivitas fisik tidak harus selalu berarti olahraga berat. WHO menyarankan setidaknya 150 hingga 300 menit aktivitas intensitas sedang per minggu, atau 75 hingga 150 menit aktivitas intensitas tinggi, ditambah latihan penguatan otot dua kali seminggu.

Jalan cepat, bersepeda santai, berenang, atau senam ringan dapat membantu meningkatkan metabolisme, memperbaiki sensitivitas insulin, dan menurunkan kadar inflamasi sistemik. Aktivitas fisik juga berkontribusi menjaga berat badan, kualitas tidur, dan kesehatan mental, yang semuanya berkaitan dengan risiko kanker secara tidak langsung.

Mengendalikan Konsumsi Alkohol dan Melindungi Diri dari Sinar UV

Jika memungkinkan, pilihan terbaik untuk pencegahan kanker adalah tidak mengonsumsi alkohol sama sekali. Namun, bagi yang tetap mengonsumsi, pembatasan ketat jumlah dan frekuensi menjadi langkah minimal.

Untuk perlindungan dari sinar UV, kebiasaan sederhana seperti menggunakan tabir surya dengan SPF yang memadai, memakai topi dan pakaian lengan panjang saat berada di bawah sinar matahari terik, serta menghindari tanning bed dapat mengurangi risiko kanker kulit secara signifikan.

Vaksinasi dan Pengobatan Infeksi

Dalam konteks kanker bisa dicegah WHO menekankan pentingnya vaksinasi HPV dan hepatitis B sebagai bagian dari program imunisasi nasional. Vaksin HPV, misalnya, terbukti menurunkan infeksi HPV berisiko tinggi dan lesi prakanker serviks secara drastis di negara yang cakupan vaksinasinya tinggi.

Pengobatan infeksi hepatitis B dan C dengan obat antivirus modern juga dapat menurunkan risiko kanker hati dengan cara mengurangi kerusakan kronis pada organ tersebut. Demikian pula eradikasi Helicobacter pylori pada pasien tertentu dapat menurunkan risiko kanker lambung.

Upaya Deteksi Dini dan Skrining: Bukan Pencegahan Primer, Tetapi Menyelamatkan Nyawa

Perlu dibedakan antara mencegah kanker muncul dan menemukan kanker lebih dini. Ketika kanker bisa dicegah WHO lebih menyoroti pencegahan primer, skrining dan deteksi dini berada pada ranah pencegahan sekunder, namun tetap sangat penting.

Skrining kanker serviks dengan Pap smear atau tes HPV, misalnya, dapat menemukan lesi prakanker yang bisa diobati sebelum berubah menjadi kanker invasif. Mamografi dapat mendeteksi kanker payudara pada tahap awal ketika peluang sembuh jauh lebih besar. Tes tinja untuk darah samar atau kolonoskopi dapat menemukan polip usus besar yang bisa diangkat sebelum menjadi ganas.

Negara dengan program skrining terstruktur dan cakupan tinggi terbukti mengalami penurunan angka kematian akibat kanker tertentu. Dalam konteks Indonesia, tantangannya adalah akses, biaya, kesadaran, dan kadang rasa takut masyarakat terhadap prosedur medis.

“Di ruang praktik, saya lebih sering melihat pasien datang terlambat bukan karena tidak ada gejala, tetapi karena mereka menunda memeriksakan diri akibat takut mendengar kata kanker.”

Kanker Bisa Dicegah WHO: Peran Kebijakan Publik dan Lingkungan Sosial

Tidak adil jika beban pencegahan kanker sepenuhnya diletakkan di pundak individu. Kanker bisa dicegah WHO selalu menekankan bahwa perubahan gaya hidup membutuhkan dukungan lingkungan sosial dan kebijakan publik yang memudahkan pilihan sehat.

Kebijakan cukai tinggi untuk rokok, pembatasan iklan makanan tidak sehat pada anak, penyediaan ruang publik yang aman untuk berolahraga, dan peningkatan akses terhadap makanan bergizi dengan harga terjangkau adalah contoh intervensi struktural yang berpengaruh besar.

Di sisi lain, pendidikan kesehatan yang konsisten sejak sekolah dasar dapat membentuk persepsi anak terhadap rokok, alkohol, dan pola makan. Budaya kantor yang mendukung aktivitas fisik, seperti menyediakan waktu olahraga bersama atau fasilitas parkir sepeda, juga berkontribusi.

Lingkungan sosial keluarga pun penting. Anak yang tumbuh di rumah tanpa asap rokok dan dengan pola makan seimbang cenderung membawa kebiasaan sehat itu hingga dewasa. Sebaliknya, jika rokok, minuman manis, dan makanan ultra olahan menjadi bagian rutin keseharian, risiko kanker di kemudian hari meningkat secara kolektif.

Keterbatasan Pencegahan: Jujur Mengakui, Bukan Untuk Menyerah

Meskipun kanker bisa dicegah WHO menekankan pencegahan, kita perlu jujur mengakui bahwa tidak semua kanker dapat dihindari. Ada kanker yang sangat dipengaruhi faktor genetik langka, ada yang muncul pada usia sangat lanjut ketika sel sudah mengalami akumulasi kerusakan besar, dan ada pula yang penyebab pastinya belum sepenuhnya dipahami.

Tujuan pencegahan bukan menciptakan dunia tanpa kanker sama sekali, melainkan menurunkan beban penyakit secara signifikan. Jika 4 dari 10 kasus bisa dicegah, itu berarti jutaan orang di dunia terhindar dari operasi besar, kemoterapi, radioterapi, dan kehilangan kualitas hidup, serta jutaan keluarga tidak perlu mengalami duka kehilangan akibat kanker yang sebenarnya bisa dihindari.

Selain itu, pencegahan kanker sering kali sejalan dengan pencegahan penyakit kronis lain seperti penyakit jantung, stroke, dan diabetes. Satu keputusan gaya hidup sehat memberikan manfaat berlapis pada banyak organ dan sistem tubuh.

Mengubah Cara Kita Berpikir tentang Kanker

Cara kita memandang kanker memengaruhi cara kita bertindak. Jika kanker semata dianggap takdir yang tidak bisa diubah, motivasi untuk berhenti merokok, mengatur pola makan, atau melakukan skrining akan rendah. Namun jika kita menerima bahwa kanker bisa dicegah WHO dan bahwa pilihan hari ini memengaruhi risiko 10 hingga 20 tahun ke depan, maka pencegahan menjadi investasi logis, bukan sekadar anjuran moral.

Di Indonesia, masih banyak pekerjaan rumah. Edukasi tentang hubungan antara kebiasaan sehari hari dan kanker perlu disampaikan dengan bahasa yang mudah, tanpa menakut nakuti, tetapi juga tanpa meremehkan. Tenaga kesehatan, media, pembuat kebijakan, dan masyarakat perlu bergerak bersama.

Perubahan tidak perlu menunggu sempurna. Mengurangi rokok satu batang, menambah satu porsi sayur, berjalan kaki 10 menit lebih lama, atau memutuskan untuk melakukan skrining pertama kali adalah langkah kecil yang secara kumulatif berdampak besar. Kanker tidak akan hilang dari muka bumi, tetapi dengan memahami bahwa sebagian besar risikonya dapat dikendalikan, kita memiliki peluang yang jauh lebih besar untuk hidup lebih panjang dan lebih sehat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *