Lapar Terus Saat Hujan sering terasa seperti “kutukan” yang muncul tiba tiba: baru saja makan, hujan turun, lalu pikiran langsung melayang ke mi instan, gorengan, cokelat hangat, atau kopi susu. Fenomena ini bukan sekadar kebiasaan manja saat cuaca dingin, melainkan gabungan sinyal biologis, psikologis, dan kebudayaan yang bekerja bersamaan. Sebagai jurnalis kesehatan, saya melihat pola ini berulang pada banyak orang: ketika langit menggelap dan suhu turun, rasa lapar tampak lebih “berisik” daripada hari biasa.
Rasa lapar saat hujan juga sering disalahartikan sebagai tanda metabolisme sedang “ngebut”. Padahal, tubuh jarang berubah drastis hanya karena hujan turun. Yang lebih sering terjadi adalah perubahan kecil pada suhu kulit, suasana hati, aktivitas fisik, dan cara otak memproses kenyamanan. Hasilnya, Anda merasa butuh makan lebih cepat, lebih banyak, atau lebih sering, terutama makanan tinggi kalori yang memberi rasa hangat dan puas.
Di bawah ini, kita akan membedah penyebabnya secara detail, termasuk bagaimana membedakan lapar fisik dan lapar emosional, serta cara menanganinya tanpa harus memusuhi makanan.
Lapar Terus Saat Hujan dan permainan suhu tubuh yang sering diremehkan
Saat hujan, suhu lingkungan biasanya turun, kelembapan naik, dan angin lebih terasa. Meski penurunannya tidak selalu ekstrem, tubuh tetap harus menjaga suhu inti agar stabil. Proses menjaga suhu inti ini melibatkan termoregulasi: pembuluh darah kulit dapat menyempit, otot bisa sedikit “mengencang”, dan tubuh mencari cara mempertahankan kehangatan.
Pada sebagian orang, perubahan ini memicu sensasi ingin makan. Mengapa? Karena makanan adalah sumber energi, dan energi dapat diubah menjadi panas. Walau tubuh tidak otomatis membakar jauh lebih banyak kalori hanya karena hujan, otak sering menerjemahkan “dingin” sebagai sinyal untuk mencari energi tambahan. Ini terutama terasa jika Anda mudah kedinginan, memakai pakaian tipis di rumah, atau berada di ruangan dengan sirkulasi udara yang membuat tubuh cepat kehilangan panas.
Ada juga faktor kenyamanan. Makanan hangat meningkatkan sensasi hangat dari dalam, dan ini memberi sinyal aman pada sistem saraf. Sup, bubur, mi kuah, wedang jahe, atau cokelat panas bukan hanya makanan, tetapi juga “alat penghangat” yang cepat, mudah, dan menenangkan.
Selain itu, hujan sering membuat orang lebih banyak diam. Ketika badan kurang bergerak, sirkulasi terasa lebih lambat, tangan kaki terasa dingin, dan otak mencari cara instan untuk “menghidupkan” tubuh. Makan menjadi pilihan paling cepat, bahkan saat sebenarnya yang dibutuhkan adalah selimut, pakaian hangat, atau minuman hangat tanpa gula.
Satu hal penting: kalau Anda tinggal di daerah tropis, rasa lapar saat hujan tetap bisa muncul meski suhu tidak sedingin negara empat musim. Itu karena yang berubah bukan hanya derajat suhu, melainkan kombinasi cahaya, aktivitas, dan kebiasaan.
Sebelum masuk ke faktor hormon dan otak, ada baiknya memahami bahwa “dingin” tidak selalu berarti kebutuhan energi meningkat besar. Sering kali yang meningkat adalah keinginan untuk merasa nyaman.
Lapar Terus Saat Hujan terkait hormon lapar dan hormon kenyang yang mudah “tergeser”
Hujan mengubah rutinitas. Rutinitas yang berubah bisa menggeser pola makan, jam tidur, dan stres, yang pada akhirnya memengaruhi hormon pengatur nafsu makan. Dua hormon yang sering dibahas adalah ghrelin (cenderung meningkatkan rasa lapar) dan leptin (memberi sinyal kenyang), meski kenyataannya sistemnya jauh lebih kompleks dan melibatkan insulin, kortisol, serta berbagai sinyal dari usus dan otak.
Ketika Anda kurang tidur atau tidur tidak berkualitas, ghrelin cenderung naik dan leptin bisa turun. Hari hujan kadang membuat orang tidur lebih lama, tetapi tidak selalu berkualitas. Udara lembap, hidung tersumbat, atau kebiasaan bergadang karena suasana mendung bisa membuat tidur terfragmentasi. Akibatnya, besoknya rasa lapar lebih mudah muncul, terutama keinginan makanan manis dan bertepung.
Kortisol juga berperan. Hujan bisa memicu stres ringan bagi sebagian orang: jalanan macet, pakaian basah, pekerjaan terganggu, atau anak sulit diajak beraktivitas. Kortisol yang lebih tinggi sering berkaitan dengan meningkatnya keinginan makan, khususnya makanan “comfort food”. Ini bukan karena Anda lemah, melainkan karena otak belajar bahwa makanan tertentu cepat menurunkan ketegangan.
Insulin dan gula darah pun ikut menyumbang. Saat hujan, orang cenderung ngemil lebih sering. Jika camilan yang dipilih tinggi gula sederhana, gula darah naik cepat lalu turun cepat. Penurunan ini dapat terasa seperti lapar lagi, padahal itu lebih mirip “lapar gula” daripada kebutuhan energi sejati.
Sebelum membahas aspek psikologis, penting untuk mengingat bahwa hormon tidak bekerja sendirian. Mereka merespons pola hidup. Hujan sering menjadi pemicu perubahan pola hidup, sehingga rasa lapar pun terasa lebih intens.
Lapar Terus Saat Hujan dan efek cahaya redup pada mood serta nafsu makan
Mendung dan hujan membuat cahaya matahari berkurang. Cahaya yang lebih redup dapat memengaruhi ritme sirkadian, yaitu jam biologis tubuh yang mengatur tidur bangun, kewaspadaan, dan sebagian regulasi nafsu makan. Pada sebagian orang, kondisi minim cahaya berkaitan dengan turunnya mood dan meningkatnya keinginan makan makanan tinggi karbohidrat.
Ada hubungan menarik antara cahaya, serotonin, dan perilaku makan. Serotonin sering dikaitkan dengan rasa tenang dan stabil. Ketika mood turun, otak cenderung mencari cara cepat untuk “menaikkan” perasaan. Makanan tinggi karbohidrat dapat meningkatkan ketersediaan triptofan ke otak, yang kemudian digunakan untuk produksi serotonin. Ini salah satu alasan mengapa saat hujan Anda mendadak ingin roti, nasi hangat, kentang goreng, atau kudapan manis.
Kondisi ini tidak harus sampai tingkat gangguan mood musiman. Bahkan perubahan ringan saja bisa membuat Anda lebih “sensitif” terhadap godaan makanan. Ditambah lagi, aktivitas luar ruangan berkurang, sehingga sumber dopamin dan endorfin dari bergerak, bertemu orang, atau terkena sinar matahari ikut menurun. Makan menjadi pengganti yang mudah.
“Kadang saya merasa hujan itu seperti tombol yang menyalakan mode mencari kenyamanan, dan makanan adalah bahasa kenyamanan yang paling cepat dipahami otak.”
Sebelum Anda menyalahkan diri sendiri, ada baiknya memandang ini sebagai mekanisme manusiawi. Otak sangat pandai mencari jalan pintas untuk merasa lebih baik. Tantangannya adalah memilih jalan pintas yang tidak merugikan kesehatan dalam jangka panjang.
Lapar Terus Saat Hujan karena aktivitas turun dan otak “minta hadiah”
Saat hujan, banyak orang menunda olahraga, menunda jalan kaki, dan lebih sering duduk. Secara logika, aktivitas turun harusnya membuat kebutuhan energi turun. Tetapi yang terjadi pada banyak orang justru sebaliknya: ngemil naik. Ini terlihat kontradiktif, namun masuk akal bila Anda melihatnya dari sisi perilaku.
Saat aktivitas berkurang, otak kehilangan “reward” yang biasanya didapat dari bergerak, menyelesaikan tugas, atau berinteraksi sosial. Sebagian orang mengganti reward itu dengan makanan. Polanya sering seperti ini: hujan membuat malas, malas membuat produktivitas turun, produktivitas turun membuat rasa bersalah atau bosan, lalu makanan menjadi kompensasi.
Ada juga faktor kebiasaan yang sangat kuat. Jika Anda terbiasa ngopi dan makan gorengan saat hujan sejak kecil, otak menyimpan asosiasi itu sebagai ritual. Begitu hujan turun, Anda tidak perlu berpikir panjang: tubuh seolah otomatis menginginkan menu yang sama. Ini bukan soal kemauan lemah, tetapi soal memori kebiasaan yang mengakar.
Selain itu, ketika Anda lebih banyak di rumah, akses ke dapur lebih mudah. Anda melewati kulkas berkali kali, melihat stok camilan, dan setiap paparan kecil itu meningkatkan kemungkinan Anda makan. Di psikologi perilaku, ini disebut “cue reactivity”: isyarat lingkungan memicu keinginan.
Sebelum membahas jenis makanan yang paling sering dicari saat hujan, kita perlu menegaskan bahwa rasa lapar bukan selalu sinyal “butuh energi”. Kadang itu sinyal “butuh stimulasi” atau “butuh kenyamanan”.
Lapar Terus Saat Hujan dan alasan mengapa yang dicari justru manis, asin, dan berlemak
Jika Anda merasa Lapar Terus Saat Hujan, perhatikan jenis makanan yang paling sering terbayang. Banyak orang tidak mengidamkan salad saat hujan. Yang muncul justru makanan tinggi kalori, hangat, gurih, atau manis. Ini berkaitan dengan cara otak memproses rasa dan energi.
Makanan tinggi lemak dan gula mengaktifkan sistem reward di otak lebih kuat dibanding makanan rendah kalori. Saat mood turun atau tubuh merasa tidak nyaman, otak cenderung memilih opsi yang memberi “imbalan” terbesar. Garam dan lemak pada gorengan, misalnya, memberi sensasi gurih yang menenangkan. Gula memberi rasa nyaman cepat, walau efeknya sering tidak bertahan lama.
Tekstur juga penting. Makanan berkuah dan hangat memberi sensasi menenangkan di tenggorokan dan perut. Ini bisa mengurangi ketegangan tubuh yang meningkat saat kedinginan atau saat Anda sedang tidak enak hati.
Ada pula aspek budaya. Di banyak keluarga Indonesia, hujan identik dengan “enaknya makan yang anget anget”. Saran itu sering muncul dari orang tua, tetangga, atau teman. Akhirnya, otak Anda memegang skrip sosial: hujan sama dengan makan sesuatu yang hangat dan mengenyangkan.
Sebelum Anda memutuskan untuk “melawan” keinginan ini, lebih realistis jika Anda mengelola pilihan. Mengganti total sering gagal. Menggeser pilihan sedikit demi sedikit biasanya lebih berhasil.
Lapar Terus Saat Hujan bisa jadi sinyal dehidrasi terselubung
Ini bagian yang sering mengejutkan orang. Saat hujan, sebagian orang minum lebih sedikit karena tidak merasa haus. Padahal tubuh tetap kehilangan cairan lewat napas, keringat, dan urin. Ketika cairan kurang, otak kadang mengirim sinyal yang mirip rasa lapar.
Dehidrasi ringan dapat membuat Anda merasa lemas, sulit fokus, dan ingin ngemil. Karena ngemil dianggap solusi cepat, Anda makan, padahal yang dibutuhkan sebenarnya air atau minuman hangat.
Coba perhatikan tanda sederhana: mulut terasa kering, urin lebih pekat, atau kepala terasa berat. Jika iya, sebelum mengambil camilan, minum segelas air hangat atau teh tawar. Tunggu 10 sampai 15 menit. Banyak orang mendapati “laparnya” mereda.
Minuman hangat juga memberi sensasi nyaman yang mirip dengan makanan hangat. Ini dapat memuaskan kebutuhan “penghangat” tanpa menambah kalori besar, terutama jika Anda menghindari gula berlebih.
Sebelum masuk ke kondisi medis yang perlu diwaspadai, penting untuk menilai hal hal dasar seperti cairan dan pola tidur. Banyak keluhan lapar berulang membaik setelah dua hal ini dibenahi.
Lapar Terus Saat Hujan dan bedanya lapar fisik dengan lapar emosional
Membedakan lapar fisik dan lapar emosional adalah keterampilan yang sangat berguna, terutama saat hujan ketika suasana mudah memicu “makan untuk merasa lebih baik”.
Lapar fisik biasanya muncul bertahap. Anda bisa merasakan perut kosong, energi menurun, dan Anda relatif fleksibel terhadap pilihan makanan. Jika lapar fisik, makan nasi dengan lauk sederhana pun terasa cukup.
Lapar emosional cenderung muncul tiba tiba. Anda menginginkan makanan spesifik, sering kali manis atau gurih. Setelah makan, Anda bisa merasa bersalah atau masih ingin makan lagi meski perut sudah terisi. Lapar emosional juga sering muncul saat bosan, cemas, kesepian, atau stres.
Cara cepat untuk mengecek adalah skala lapar. Tanyakan ke diri sendiri: seberapa lapar saya dari 1 sampai 10? Jika di bawah 6 dan Anda baru makan 1 sampai 2 jam lalu, kemungkinan besar ini bukan lapar fisik. Lalu tanyakan: apa yang sebenarnya saya butuhkan? Hangat? Istirahat? Distraksi? Teman ngobrol?
Ini bukan soal menghakimi diri. Ini soal membaca sinyal tubuh dengan lebih akurat. Saat Anda bisa membedakan jenis lapar, Anda bisa memilih respons yang lebih tepat.
Sebelum membahas strategi makan yang tetap nikmat saat hujan, kita perlu menyinggung kondisi tertentu yang membuat rasa lapar terasa lebih ekstrem.
Lapar Terus Saat Hujan dan kondisi kesehatan yang kadang ikut “menyulut”
Pada sebagian orang, rasa lapar yang terasa berlebihan saat hujan hanyalah variasi normal. Namun ada kondisi yang bisa memperparah, terutama bila disertai gejala lain.
Gangguan tidur seperti insomnia atau sleep apnea dapat membuat nafsu makan meningkat. Jika hujan membuat Anda lebih sering rebahan tetapi tidur tidak nyenyak, efek hormon lapar bisa makin terasa.
Masalah gula darah juga patut dipertimbangkan. Orang dengan resistensi insulin atau diabetes yang belum terkontrol bisa mengalami rasa lapar lebih sering, terutama bila pola makan tinggi karbohidrat sederhana. Jika Anda sering lapar disertai sering haus, sering buang air kecil, berat badan turun tanpa sebab, atau mudah lelah, sebaiknya periksa.
Masalah tiroid jarang menjadi penyebab utama “lapar saat hujan”, tetapi hipertiroid dapat meningkatkan nafsu makan disertai jantung berdebar, berat badan turun, dan mudah berkeringat.
Aspek kesehatan mental juga relevan. Kecemasan dan depresi dapat mengubah pola makan, bisa meningkat atau menurun. Hujan dan cuaca mendung dapat memperburuk mood pada sebagian orang, sehingga pola makan ikut berubah.
Obat tertentu seperti kortikosteroid, beberapa obat alergi yang menimbulkan kantuk, atau obat psikiatri tertentu juga dapat meningkatkan nafsu makan. Jika Anda merasa perubahan nafsu makan sangat nyata setelah memulai obat, konsultasikan ke dokter, jangan menghentikan sendiri.
Sebelum Anda panik, ingat bahwa kebanyakan kasus lapar saat hujan adalah kombinasi kebiasaan, mood, dan lingkungan. Tetapi tanda bahaya tetap perlu dikenali.
Lapar Terus Saat Hujan dan strategi makan yang hangat tanpa “kalori meledak”
Mengelola rasa lapar saat hujan bukan berarti Anda harus menolak semua makanan enak. Kuncinya adalah membuat pilihan yang tetap memuaskan tetapi lebih bersahabat untuk tubuh.
Mulailah dari makanan berkuah yang lebih seimbang. Sup ayam dengan banyak sayur, soto dengan porsi nasi yang disesuaikan, atau sayur bening dengan tahu tempe bisa memberi rasa hangat dan kenyang. Kuah memberi volume dan membantu hidrasi, sementara protein membantu kenyang lebih lama.
Jika Anda ingin mi, pertimbangkan menambahkan protein dan sayur. Tambah telur, ayam suwir, jamur, sawi, atau wortel. Kurangi bumbu jika tinggi natrium, dan hindari menambah gorengan sebagai “teman wajib”. Perubahan kecil ini bisa menurunkan lonjakan gula darah dan membuat kenyang lebih stabil.
Untuk camilan, pilih yang memberi kombinasi protein dan serat. Kacang panggang secukupnya, yogurt tanpa gula dengan buah, pisang dengan selai kacang tipis, atau edamame hangat bisa jadi opsi. Jika Anda ingin yang manis, pilih porsi kecil tetapi benar benar dinikmati, bukan dimakan sambil scroll tanpa sadar.
Minuman hangat sering menjadi penyelamat. Teh jahe tanpa gula, kayu manis, atau susu hangat rendah gula bisa memberi sensasi nyaman. Jika Anda suka kopi susu, perhatikan gula cair atau sirup yang sering membuat kalori “tak terlihat”.
Sebelum masuk ke trik lingkungan dan kebiasaan, satu hal penting: jangan biarkan diri terlalu lapar. Menahan lapar terlalu lama sering berujung balas dendam makan saat hujan, terutama malam hari.
Lapar Terus Saat Hujan dan cara mengatur ritme makan agar tidak “ngemil tanpa akhir”
Saat hujan, jam terasa berjalan lebih lambat. Ini membuat orang lebih sering ke dapur. Mengatur ritme makan bisa membantu tanpa perlu menghitung kalori secara ketat.
Pastikan ada protein di setiap makan utama. Protein membantu rasa kenyang lebih lama. Contoh sederhana: telur, ikan, ayam, tempe, tahu, atau kacang kacangan. Tambahkan serat dari sayur dan buah agar volume makanan cukup.
Jika Anda tahu hujan sering memicu ngemil sore, siapkan snack terencana. Misalnya jam 4 sore minum teh hangat dan makan buah plus segenggam kacang. Dengan snack terencana, Anda mengurangi peluang menyantap camilan tinggi gula secara impulsif.
Perhatikan juga makan sambil distraksi. Banyak orang makan lebih banyak saat menonton atau bermain ponsel. Saat hujan, kebiasaan ini meningkat. Coba lakukan mindful eating versi sederhana: duduk, makan tanpa ponsel selama 10 menit, rasakan rasa dan tekstur. Sering kali Anda akan berhenti lebih cepat karena otak benar benar “menerima” makanan.
“Kalau saya boleh jujur, hujan itu bukan musuh pola makan sehat, yang sering jadi masalah adalah kebiasaan makan sambil mencari pelarian.”
Sebelum membahas cara mengurangi lapar dengan aktivitas pengganti, ingat bahwa tubuh juga butuh kehangatan. Kadang yang Anda cari bukan makanan, tetapi sensasi hangat.
Lapar Terus Saat Hujan dan trik sederhana untuk merasa hangat tanpa harus menambah porsi
Jika pemicunya adalah dingin dan rasa tidak nyaman, Anda bisa mengurangi rasa lapar dengan memperbaiki rasa hangat tubuh.
Gunakan pakaian yang lebih tebal atau kaus kaki. Tangan dan kaki yang hangat membantu tubuh merasa aman. Mandi air hangat atau merendam kaki 10 menit juga bisa memberi efek relaksasi yang menurunkan keinginan ngemil.
Atur suhu ruangan bila memungkinkan, atau gunakan selimut saat bekerja. Banyak orang ngemil karena “gelisah dingin”, bukan karena butuh energi.
Aroma juga berpengaruh. Menghirup aroma kayu manis, jahe, atau teh hangat kadang cukup untuk memberi sensasi nyaman. Ini bukan sulap, tetapi otak sangat responsif terhadap isyarat sensorik.
Aktivitas ringan di dalam rumah juga membantu. Peregangan 5 menit, naik turun tangga, atau gerakan sederhana dapat meningkatkan sirkulasi dan membuat tubuh lebih hangat. Saat tubuh terasa “hidup”, kebutuhan untuk mencari penghangat lewat makanan sering berkurang.
Sebelum masuk ke kapan Anda perlu mencari bantuan profesional, penting untuk menilai apakah rasa lapar ini mengganggu fungsi harian atau memicu pola makan yang membuat Anda menyesal berulang kali.
Lapar Terus Saat Hujan dan kapan sebaiknya konsultasi ke tenaga kesehatan
Rasa lapar meningkat saat hujan umumnya normal. Namun ada situasi yang layak diperiksa lebih lanjut.
Jika Anda mengalami rasa lapar yang sangat sering disertai penurunan berat badan tanpa sebab, jantung berdebar, tremor, atau sulit tidur, pertimbangkan evaluasi medis.
Jika rasa lapar disertai sering haus, sering buang air kecil, pandangan kabur, atau luka sulit sembuh, periksa gula darah.
Jika Anda merasa makan menjadi cara utama menghadapi stres atau sedih, lalu muncul rasa bersalah berat, episode makan berlebihan, atau kehilangan kontrol, konsultasi dengan psikolog klinis atau psikiater dapat sangat membantu. Pola makan emosional bisa ditangani dengan terapi yang tepat, dan hasilnya sering jauh lebih baik daripada sekadar “menahan diri”.
Jika Anda punya penyakit lambung seperti GERD atau maag, hujan dan dingin kadang membuat gejala lebih terasa, dan sensasinya bisa mirip lapar. Pada beberapa orang, perut perih dikira lapar sehingga makan terus menerus. Jika Anda sering mengalami nyeri ulu hati, mual, atau panas di dada, evaluasi pola makan dan konsultasi medis bisa menghindarkan Anda dari siklus makan untuk meredakan perih.
Sebelum Anda mengubah banyak hal sekaligus, pilih satu dua kebiasaan kecil yang paling mungkin Anda lakukan konsisten saat hujan. Perubahan kecil yang stabil biasanya lebih efektif daripada aturan ketat yang hanya bertahan dua hari.






