Kondisi kelelahan kronis pascainfeksi, baik pada sindrom ME/CFS maupun long COVID, kini mulai dipahami bukan sekadar “kelelahan biasa” atau gangguan psikis. Sejumlah studi pencitraan otak menunjukkan adanya perubahan nyata di jaringan saraf yang mengatur energi, konsentrasi, tidur, dan rasa nyeri. Inilah yang membuat koneksi otak ME/CFS long COVID menjadi pusat perhatian para peneliti, karena pola gangguannya tampak saling berkaitan dan membuka peluang pendekatan terapi yang lebih tepat sasaran.
Mengapa Koneksi Otak ME/CFS Long COVID Mulai Disorot Dunia Medis
Selama bertahun tahun, ME/CFS (Myalgic Encephalomyelitis / Chronic Fatigue Syndrome) sering dipandang sebelah mata. Banyak pasien dicap “kurang olahraga” atau “terlalu cemas”. Munculnya long COVID dengan gejala yang sangat mirip, terutama kelelahan berat, otak berkabut, gangguan tidur, dan intoleransi terhadap aktivitas, memaksa dunia medis untuk melihat ulang akar masalahnya.
Ketika jutaan orang di seluruh dunia mengalami keluhan pasca COVID 19 yang berkepanjangan, para peneliti mulai membandingkan pola keluhan dan temuan objektif antara ME/CFS dan long COVID. Ternyata, salah satu benang merah yang paling kuat adalah perubahan konektivitas otak, baik pada jaringan yang mengatur kewaspadaan, pengolahan rasa nyeri, hingga sistem saraf otonom yang mengendalikan tekanan darah dan detak jantung.
“Semakin banyak bukti menunjukkan bahwa pasien tidak ‘mengada ada’, melainkan mengalami gangguan biologis nyata pada otaknya, yang sayangnya belum terdeteksi dengan pemeriksaan rutin di fasilitas kesehatan biasa.”
Perubahan inilah yang membuat gejala terasa tidak proporsional dengan hasil laboratorium standar. Secara kasat mata pasien tampak normal, tetapi di tingkat jaringan saraf, otak bekerja dengan pola yang jauh dari normal.
Memahami ME/CFS dan Long COVID Sebelum Melihat Koneksi Otak
Sebelum masuk ke detail koneksi otak ME/CFS long COVID, penting memahami dulu apa yang terjadi pada dua kondisi ini secara klinis. Keduanya bukan hanya soal “capek”, melainkan sindrom kompleks yang melibatkan banyak sistem tubuh.
Gambaran ME/CFS dari Kelelahan Hingga Post Exertional Malaise
ME/CFS adalah kondisi kronis yang ditandai kelelahan ekstrem yang tidak membaik dengan istirahat, dan justru bisa memburuk setelah aktivitas ringan. Gejala khasnya antara lain:
Kelelahan berat yang berlangsung lebih dari 6 bulan
Post exertional malaise yaitu gejala memburuk setelah aktivitas fisik atau mental, sering kali baru terasa 24 sampai 48 jam kemudian
Gangguan konsentrasi dan memori sering disebut brain fog
Gangguan tidur, mulai dari sulit tidur hingga tidur yang tidak menyegarkan
Nyeri otot dan sendi tanpa peradangan jelas
Intoleransi ortostatik yaitu keluhan pusing, lemas, atau berdebar ketika berdiri lama
ME/CFS kerap muncul setelah infeksi virus tertentu, seperti Epstein Barr virus, influenza berat, atau infeksi lain yang memicu reaksi imun berkepanjangan. Di sinilah dugaan keterlibatan otak dan sistem saraf mulai menguat, karena banyak gejala berkaitan dengan pengaturan energi dan sistem otonom.
Long COVID dan Kemiripannya dengan ME/CFS
Long COVID adalah kondisi di mana gejala COVID 19 bertahan lebih dari 4 hingga 12 minggu setelah infeksi akut, atau muncul gejala baru yang berkaitan dengan infeksi sebelumnya. Keluhan yang sering dilaporkan:
Kelelahan berat
Sesak napas
Nyeri dada
Gangguan konsentrasi dan memori
Gangguan tidur
Palpitasi atau jantung berdebar
Keluhan pencernaan
Gangguan penciuman dan pengecapan yang menetap
Sejumlah pasien long COVID memenuhi kriteria ME/CFS, terutama mereka yang mengalami kelelahan berat, post exertional malaise, dan gangguan kognitif persisten. Hal ini memunculkan pertanyaan penting: apakah long COVID adalah “pemicunya” saja, sementara sindrom akhirnya masuk dalam spektrum ME/CFS, ataukah long COVID memiliki pola kerusakan otak yang unik?
Apa yang Dimaksud dengan Koneksi Otak pada ME/CFS dan Long COVID
Istilah koneksi otak ME/CFS long COVID mengacu pada cara area area otak saling berkomunikasi melalui jaringan saraf. Teknologi seperti fMRI (functional MRI), PET scan, dan teknik pencitraan lainnya mampu memetakan jalur komunikasi ini, baik dalam keadaan istirahat maupun saat otak sedang mengerjakan tugas.
Jaringan Otak yang Sering Terganggu
Beberapa jaringan yang sering ditemukan berubah pada ME/CFS dan long COVID antara lain:
Jaringan mode default atau default mode network, yang aktif saat kita beristirahat dan melamun
Jaringan perhatian dan eksekutif, yang berperan saat kita fokus dan mengambil keputusan
Jaringan sensorimotor, yang terkait gerakan dan persepsi tubuh
Jaringan salience, yang membantu otak memutuskan stimulus mana yang penting
Perubahan konektivitas dalam jaringan ini bisa membuat otak “boros energi” saat melakukan tugas yang seharusnya sederhana, sehingga pasien cepat lelah, sulit konsentrasi, dan merasa kewalahan dengan rangsangan ringan seperti suara bising atau cahaya terang.
Energi Otak yang Boros dan Rasa Lelah Ekstrem
Pada beberapa studi, pasien ME/CFS dan long COVID menunjukkan pola aktivasi otak yang lebih luas dibanding orang sehat ketika mengerjakan tugas kognitif ringan. Artinya, otak mereka harus “menyalakan” lebih banyak area untuk menyelesaikan tugas yang sama, seperti mengingat daftar kata atau mengerjakan tes perhatian.
Hal ini sejalan dengan keluhan pasien yang merasa “seperti habis lari maraton” hanya karena harus fokus bekerja selama satu jam. Otak yang boros energi ini menambah beban sistem tubuh secara keseluruhan, memperburuk kelelahan dan memicu post exertional malaise.
Bukti Pencitraan Otak yang Mengaitkan ME/CFS dan Long COVID
Pada titik ini, koneksi otak ME/CFS long COVID tidak lagi sekadar teori. Sejumlah studi pencitraan otak mulai mengungkap pola perubahan yang konsisten, meski masih ada variasi antar penelitian.
Temuan pada ME/CFS
Beberapa temuan yang sering dilaporkan pada ME/CFS antara lain:
Perubahan aliran darah otak di area tertentu, misalnya penurunan aliran di batang otak dan korteks frontal
Perubahan volume materi putih dan materi abu abu, terutama di area yang terkait dengan perhatian dan pengaturan nyeri
Gangguan konektivitas fungsional pada default mode network dan jaringan perhatian
Respons abnormal pada tes beban kognitif, dengan aktivasi berlebihan di area frontal dan parietal
Studi studi ini menunjukkan bahwa keluhan kognitif dan kelelahan pada ME/CFS memiliki korelasi struktural dan fungsional di otak, bukan sekadar persepsi subjektif.
Temuan pada Long COVID
Pada long COVID, penelitian pencitraan otak yang masih berkembang juga menemukan beberapa pola:
Penyusutan volume materi abu abu di area tertentu, termasuk korteks frontal dan temporal, pada sebagian pasien pasca COVID
Perubahan sinyal di area yang terkait penciuman dan memori, sejalan dengan hilangnya penciuman dan keluhan kognitif
Gangguan konektivitas fungsional yang mirip dengan yang terlihat pada ME/CFS, terutama di jaringan perhatian dan default mode network
Tanda tanda peradangan mikro di otak pada sebagian pasien, yang dapat mengganggu komunikasi antar neuron
Menariknya, beberapa pola ini bertahan berbulan bulan setelah infeksi akut mereda, menunjukkan bahwa otak tidak selalu “kembali normal” meski pasien sudah negatif virus.
“Jika dulu kita mengira infeksi virus hanya meninggalkan bekas di paru atau jantung, kini kita harus menerima bahwa otak juga bisa menyimpan jejak jangka panjang yang sangat memengaruhi kualitas hidup pasien.”
Peran Sistem Saraf Otonom dan Batang Otak
Salah satu titik kunci ketika membahas koneksi otak ME/CFS long COVID adalah sistem saraf otonom. Sistem ini mengatur fungsi tubuh yang berjalan otomatis, seperti detak jantung, tekanan darah, suhu tubuh, dan pencernaan.
Disautonomia dan Intoleransi Ortostatik
Banyak pasien ME/CFS dan long COVID mengalami disautonomia, yaitu gangguan fungsi sistem saraf otonom. Bentuk yang sering terlihat:
POTS atau postural orthostatic tachycardia syndrome, di mana detak jantung melonjak tajam saat berdiri
Penurunan tekanan darah saat berdiri yang menyebabkan pusing dan hampir pingsan
Keringat berlebihan atau justru sangat sedikit
Gangguan suhu tubuh mudah kedinginan atau mudah kepanasan
Batang otak, sebagai pusat pengendali banyak fungsi otonom, sering dicurigai sebagai salah satu lokasi gangguan. Beberapa studi pencitraan menemukan perubahan struktur dan aliran darah di batang otak pada pasien ME/CFS, dan temuan serupa mulai dilaporkan pada long COVID.
Hubungan dengan Kelelahan dan Kabut Otak
Ketika sistem saraf otonom tidak stabil, tubuh kesulitan mempertahankan aliran darah optimal ke otak, terutama saat berdiri atau beraktivitas. Akibatnya, pasien merasa:
Kepala ringan atau melayang
Sulit fokus ketika berdiri lama
Mudah lelah hanya karena aktivitas ringan
Gangguan ini memperkuat hipotesis bahwa koneksi otak ME/CFS long COVID mencakup bukan hanya jaringan kognitif, tetapi juga jalur pengaturan otonom. Otak dan tubuh seperti terjebak dalam lingkaran setengah siaga, yang menguras energi tanpa henti.
Peradangan Mikro dan Mikroglia: Api Kecil yang Tak Padam
Selain konektivitas, perhatian besar juga tertuju pada peradangan mikro di otak. Pada ME/CFS, beberapa penelitian PET scan menunjukkan aktivasi mikroglia, sel imun di otak, yang menandakan adanya proses inflamasi tingkat rendah namun kronis.
Mikroglia yang Terlalu Siaga
Mikroglia berfungsi sebagai “penjaga” otak, aktif ketika ada infeksi atau cedera. Namun pada beberapa kondisi kronis, mikroglia bisa tetap berada dalam keadaan siaga tinggi meski ancaman awal sudah berlalu. Hal ini dapat:
Mengganggu transmisi sinyal antar neuron
Mengubah cara otak memproses nyeri
Memicu rasa lelah dan anhedonia atau kehilangan minat
Pada long COVID, dugaan serupa muncul, terutama pada pasien yang mengalami gejala neurologis persisten. Infeksi SARS CoV 2 yang berat atau reaksi imun yang berlebihan dapat memicu peradangan sistemik yang “merembet” ke otak.
Jembatan antara Infeksi dan Gangguan Koneksi Otak
Jika mikroglia tetap aktif, jaringan otak bisa mengalami perubahan jangka panjang pada sinaps dan konektivitas. Inilah yang mungkin menjelaskan mengapa sebagian pasien tidak kembali ke fungsi awal meskipun infeksi sudah lama berlalu.
Keterkaitan antara peradangan mikro, disautonomia, dan koneksi otak ME/CFS long COVID menjadi salah satu fokus utama penelitian, karena membuka peluang terapi yang menargetkan sistem imun dan peradangan saraf, bukan hanya gejala permukaan.
Kelelahan, Nyeri, dan Otak: Satu Spektrum yang Sama
Kelelahan berat dan nyeri kronis sering berjalan bersama pada ME/CFS dan long COVID. Keduanya bukan hanya sensasi fisik, tetapi pengalaman yang dibentuk oleh otak melalui jaringan yang kompleks.
Sensitisasi Sentral dan Persepsi Nyeri
Sensitisasi sentral adalah kondisi ketika sistem saraf menjadi terlalu peka terhadap rangsangan. Pada kondisi ini:
Rangsangan ringan terasa sangat menyakitkan
Nyeri bertahan lebih lama dari seharusnya
Tubuh terasa sakit tanpa penyebab jelas di jaringan perifer
Pencitraan otak menunjukkan bahwa area yang memproses nyeri pada pasien ME/CFS dan kondisi nyeri kronis lain menunjukkan aktivitas berlebih. Long COVID dengan nyeri otot dan sendi persisten tampaknya berada di spektrum yang sama.
Kelelahan sebagai “Sinyal Protektif” yang Memburuk
Kelelahan sebenarnya adalah sinyal protektif tubuh untuk mengurangi aktivitas ketika sedang sakit atau kekurangan energi. Namun pada ME/CFS dan long COVID, sinyal ini menjadi terlalu kuat dan terus menyala meski ancaman awal sudah berlalu.
Gangguan konektivitas di area yang memproses kelelahan, motivasi, dan penghargaan membuat tubuh “merasa sakit” dan “merasa lelah” jauh di luar kebutuhan protektifnya. Akibatnya, aktivitas ringan pun memicu reaksi berlebihan, yang dikenal sebagai post exertional malaise.
Koneksi Otak ME/CFS Long COVID dan Gejala Kognitif
Kabut otak atau brain fog adalah keluhan yang sangat mengganggu pada kedua kondisi ini. Pasien menggambarkannya sebagai:
Sulit fokus pada percakapan
Lupa kata kata sederhana
Sulit mengerjakan beberapa tugas sekaligus
Merasa lambat berpikir
Perubahan di Jaringan Kognitif
Studi fMRI pada ME/CFS dan long COVID menunjukkan:
Aktivasi berlebihan di korteks frontal saat tugas perhatian
Gangguan konektivitas antara area frontal dan parietal
Penurunan efisiensi jaringan, sehingga otak membutuhkan usaha lebih besar untuk kinerja yang sama
Ini sejalan dengan laporan pasien yang merasa “otak cepat penuh” ketika membaca, mengerjakan laporan, atau sekadar mengikuti rapat daring. Gangguan ini tidak selalu terlihat pada tes neuropsikologi standar, yang sering kali dilakukan dalam kondisi singkat dan terkontrol, berbeda dengan tekanan kognitif di kehidupan nyata.
Efek Terhadap Kehidupan Sehari hari
Konsekuensi praktisnya sangat besar:
Kesulitan mempertahankan pekerjaan penuh waktu
Kinerja belajar menurun tajam pada pelajar dan mahasiswa
Kesulitan mengurus rumah tangga dan mengelola keuangan
Rasa frustasi dan kehilangan jati diri karena tidak lagi mampu berpikir secepat dulu
Koneksi otak ME/CFS long COVID yang terganggu di area kognitif menjadi salah satu alasan mengapa pendekatan rehabilitasi perlu disesuaikan, dengan menghormati batas kapasitas otak, bukan memaksa pasien “melatih diri” tanpa batas.
Pacing dan Manajemen Energi Berbasis Pemahaman Otak
Memahami bahwa otak bekerja lebih keras dan lebih boros energi pada ME/CFS dan long COVID mengubah cara kita memandang istirahat dan aktivitas. Pacing, atau pengaturan ritme aktivitas, menjadi strategi inti.
Prinsip Pacing yang Sejalan dengan Biologi Otak
Pacing bukan berarti pasrah dan tidak bergerak, melainkan:
Mengidentifikasi batas aktivitas sebelum gejala memburuk
Membagi tugas besar menjadi bagian bagian kecil dengan jeda istirahat
Mengatur prioritas aktivitas harian agar energi tidak habis di satu titik
Menghindari pola boom and bust yaitu terlalu aktif di hari baik lalu tumbang berhari hari
Dengan memahami koneksi otak ME/CFS long COVID, kita tahu bahwa memaksa otak bekerja di atas kapasitasnya dapat memicu reaksi berantai, termasuk peradangan mikro yang memburuk dan gangguan konektivitas yang semakin berat.
Pendekatan Rehabilitasi yang Lebih Hati hati
Pendekatan rehabilitasi yang terlalu menekankan peningkatan aktivitas fisik bertahap tanpa mempertimbangkan post exertional malaise terbukti bermasalah pada banyak pasien ME/CFS. Pada long COVID dengan gejala serupa, kewaspadaan yang sama diperlukan.
Program rehabilitasi yang lebih sesuai antara lain:
Latihan ringan yang benar benar disesuaikan dengan toleransi individu
Fokus pada latihan pernapasan dan regulasi otonom
Pelatihan kognitif dengan beban yang sangat bertahap, disertai pemantauan gejala setelahnya
Pendekatan multidisiplin yang melibatkan dokter, fisioterapis, psikolog, dan ahli rehabilitasi
Tujuannya bukan “menyembuhkan dengan cepat”, tetapi mencegah kerusakan lebih lanjut dan memberi kesempatan otak dan tubuh untuk menata ulang koneksinya secara perlahan.
Terapi yang Sedang Diteliti: Dari Imun hingga Neuromodulasi
Karena koneksi otak ME/CFS long COVID melibatkan banyak sistem, terapi yang diteliti pun beragam. Belum ada “obat tunggal” yang pasti efektif, tetapi beberapa pendekatan mulai menunjukkan potensi.
Pendekatan Berbasis Sistem Imun dan Peradangan
Beberapa penelitian mengeksplorasi:
Obat yang menekan peradangan sistemik tingkat rendah
Terapi yang menargetkan autoantibodi tertentu pada sebagian pasien
Pendekatan nutrisi antiinflamasi dan manajemen mikrobiota usus
Mikrobiota usus mendapat perhatian khusus karena hubungan erat antara usus dan otak melalui gut brain axis. Perubahan komposisi bakteri usus dapat memengaruhi peradangan sistemik dan fungsi otak.
Neuromodulasi dan Intervensi pada Jaringan Otak
Pendekatan lain menyasar langsung sistem saraf, misalnya:
Stimulasi saraf vagus untuk menyeimbangkan sistem otonom
Teknik neurofeedback untuk membantu otak mengatur pola aktivitasnya
Terapi berbasis meditasi dan latihan pernapasan yang terbukti memengaruhi konektivitas jaringan otak tertentu
Meskipun hasilnya masih bervariasi dan belum menjadi standar, arah penelitian ini menunjukkan pengakuan bahwa akar masalah tidak hanya di otot atau paru, tetapi juga di jaringan saraf pusat.
Tantangan Diagnosis dan Validasi Pasien
Salah satu masalah utama pada ME/CFS dan long COVID adalah kesenjangan antara keluhan pasien dan hasil pemeriksaan rutin. Banyak pemeriksaan darah dan pencitraan standar tampak normal, sehingga sebagian tenaga kesehatan meragukan beratnya kondisi pasien.
Keterbatasan Alat Diagnostik Saat Ini
Teknik pencitraan canggih yang mengungkap koneksi otak ME/CFS long COVID umumnya hanya tersedia di pusat penelitian besar, bukan di layanan kesehatan sehari hari. Hal ini membuat:
Pasien sulit mendapatkan bukti objektif yang dapat ditunjukkan kepada keluarga atau tempat kerja
Tenaga kesehatan di lini pertama kesulitan membedakan kelelahan biasa dengan sindrom kompleks
Diagnosis sering terlambat, dan pasien terlanjur mengalami penurunan fungsi yang berat
Kondisi ini menambah beban psikologis pasien, yang sering merasa tidak dipercaya atau dianggap “hanya stres”.
Pentingnya Pendekatan yang Mengakui Realitas Biologis
Mengakui bahwa ada gangguan nyata pada koneksi otak ME/CFS long COVID membantu mengubah cara komunikasi dengan pasien:
Memberi validasi bahwa gejala mereka bukan imajinasi
Mengarahkan ekspektasi bahwa pemulihan bisa lambat dan bertahap
Mendorong kolaborasi antara pasien dan tenaga kesehatan untuk mencari strategi manajemen yang realistis
Perubahan paradigma ini sangat penting untuk mencegah pasien terjebak dalam rasa bersalah atau dipaksa mengikuti program yang justru memperburuk kondisi.
Harapan dari Riset Koneksi Otak ME/CFS Long COVID
Meskipun beban penyakitnya besar dan terapi definitif belum tersedia, perkembangan riset beberapa tahun terakhir membawa harapan baru. Koneksi otak ME/CFS long COVID yang dulu nyaris tak disentuh kini menjadi salah satu fokus utama kajian neurologi dan imunologi.
Pemetaan jaringan otak yang lebih detail, pemahaman tentang peran mikroglia dan peradangan, serta hubungan erat dengan sistem saraf otonom dan usus, perlahan membentuk gambaran yang lebih utuh. Dari gambaran ini, strategi penanganan yang lebih manusiawi, ilmiah, dan individual dapat terus dikembangkan, agar pasien tidak lagi terjebak di antara stigma dan ketidaktahuan klinis.






