Tuberkulosis Serang Organ Selain Paru, Waspada Gejalanya

Ketika mendengar kata tuberkulosis, hampir semua orang langsung membayangkan batuk berdarah, paru paru yang rusak, dan penularan lewat udara. Padahal, tuberkulosis serang organ selain paru juga merupakan masalah besar yang sering luput dari perhatian. Infeksi Mycobacterium tuberculosis tidak hanya berhenti di paru, tetapi dapat menyebar ke otak, tulang, ginjal, kelenjar getah bening, bahkan kulit. Inilah yang membuat TB ekstra paru kerap terlambat didiagnosis, karena gejalanya tidak selalu berupa batuk dan keluhan pernapasan.

Sebagai jurnalis kesehatan, saya sering menemui satu pola berulang: pasien sudah berbulan bulan keliling ke banyak dokter dengan keluhan nyeri punggung, benjolan di leher, atau sakit kepala kronis, namun diagnosis tuberkulosis baru muncul setelah kondisinya berat. Keterlambatan inilah yang kemudian berujung pada kecacatan permanen, gangguan fungsi organ, atau perawatan intensif yang sebenarnya dapat dicegah jika TB ekstra paru dikenali lebih awal.

Memahami Bagaimana Tuberkulosis Serang Organ Selain Paru

Sebelum membahas gejalanya, penting memahami bagaimana tuberkulosis serang organ selain paru secara biologis. Kuman TB masuk ke tubuh umumnya melalui udara, ketika seseorang menghirup percikan droplet yang mengandung Mycobacterium tuberculosis dari penderita TB paru yang menular. Di paru, kuman ini bisa “diam” dalam keadaan laten atau aktif berkembang biak.

Ketika daya tahan tubuh melemah, kuman TB dapat menyebar melalui aliran darah atau sistem limfe ke organ organ lain. Proses penyebaran inilah yang memicu TB ekstra paru. Pada sebagian kasus, infeksi di luar paru terjadi bersamaan dengan TB paru aktif, namun pada kasus lain, hanya organ selain paru yang tampak terlibat sehingga membuat diagnosis menjadi lebih menantang.

Secara global, TB ekstra paru menyumbang sekitar 15 sampai 20 persen dari seluruh kasus TB pada orang dewasa dengan sistem imun normal, dan angkanya bisa melampaui 50 persen pada orang dengan HIV atau kondisi imunokompromais. Ini bukan angka kecil, dan menunjukkan bahwa fokus hanya pada paru adalah kesalahan yang dapat berakibat serius pada pasien.

Ragam Bentuk TB Ekstra Paru yang Sering Terabaikan

Tuberkulosis ekstra paru mencakup berbagai lokasi infeksi yang sangat beragam. Ketika kita berbicara tentang tuberkulosis serang organ selain paru, spektrumnya meliputi sistem saraf pusat, tulang, sendi, kelenjar getah bening, saluran kemih, organ reproduksi, rongga perut, hingga kulit. Masing masing memiliki pola gejala yang berbeda, sering kali menyerupai penyakit lain sehingga mudah disalahartikan.

Banyak pasien datang dengan keluhan yang tampak “sepele” seperti benjolan di leher, nyeri punggung, atau demam yang tidak jelas sebabnya. Tanpa kecurigaan klinis yang kuat, dokter pun bisa terjebak dalam pemeriksaan yang berputar putar. Inilah mengapa edukasi kepada masyarakat dan tenaga kesehatan mengenai TB ekstra paru menjadi sangat krusial.

> “Selama tuberkulosis masih dipersepsikan hanya sebagai penyakit paru, kita akan terus kehilangan waktu berharga untuk mendiagnosis TB ekstra paru yang diam diam merusak organ vital.”

Tuberkulosis Serang Organ Selain Paru pada Sistem Saraf Pusat

Ketika tuberkulosis serang organ selain paru dan mengenai otak atau selaput otak, kondisi ini dikenal sebagai meningitis tuberkulosis atau tuberkuloma. Inilah salah satu bentuk TB paling berbahaya, dengan risiko kematian dan kecacatan yang tinggi jika terlambat ditangani.

Meningitis Tuberkulosis dan Tuberkuloma Otak

Meningitis tuberkulosis terjadi ketika kuman TB menginfeksi selaput otak dan sumsum tulang belakang. Gejala awalnya sering samar, berupa demam ringan, sakit kepala, lelah, dan kadang hanya tampak seperti infeksi ringan yang tidak spesifik. Seiring waktu, gejala dapat berkembang menjadi:

Sakit kepala berat dan menetap
Kaku kuduk, sulit menundukkan kepala
Mual dan muntah berulang
Perubahan perilaku, kebingungan, penurunan kesadaran
Kejang
Gangguan penglihatan atau kelemahan pada salah satu sisi tubuh

Tuberkuloma otak adalah massa atau “benjolan” yang terbentuk di jaringan otak akibat infeksi TB. Gejalanya mirip tumor otak lain, seperti kejang, nyeri kepala kronis, gangguan bicara, atau kelemahan anggota gerak. Tanpa kecurigaan bahwa ini mungkin bagian dari tuberkulosis serang organ selain paru, pasien sering dianggap menderita tumor primer atau metastasis.

Diagnosis TB sistem saraf pusat memerlukan kombinasi pemeriksaan, antara lain pungsi lumbal untuk memeriksa cairan serebrospinal, CT scan atau MRI otak, serta uji mikrobiologi dan biomolekuler. Sayangnya, hasilnya tidak selalu positif jelas, sehingga pengalaman klinis dokter dan latar belakang risiko pasien memegang peran besar.

Ketika Tulang dan Sendi Menjadi Target Tuberkulosis

Tuberkulosis tulang dan sendi adalah salah satu bentuk TB ekstra paru yang paling sering, terutama pada tulang belakang. Saat tuberkulosis serang organ selain paru dalam bentuk sistem muskuloskeletal, gejala yang muncul sering disalahartikan sebagai penyakit rematik atau cedera biasa.

TB Tulang Belakang dan Risiko Kelumpuhan

TB tulang belakang dikenal sebagai spondilitis tuberkulosis atau penyakit Pott. Kuman TB menginfeksi tulang belakang, terutama di daerah torakal dan lumbal. Proses infeksi menyebabkan kerusakan tulang, kolapsnya ruas tulang belakang, dan pembentukan abses yang dapat menekan saraf.

Gejala yang sering muncul antara lain:

Nyeri punggung kronis yang tidak membaik dengan istirahat
Kaku punggung dan keterbatasan gerak
Benjolan atau kelengkungan abnormal tulang belakang
Kelemahan atau baal pada kaki
Gangguan kontrol buang air kecil atau besar pada kasus berat

Jika tidak diobati, tekanan pada saraf tulang belakang dapat menyebabkan kelumpuhan permanen. Inilah bentuk nyata bagaimana tuberkulosis serang organ selain paru dapat mengubah kualitas hidup seseorang secara drastis, bahkan ketika paru paru tampak baik baik saja.

TB Sendi dan Nyeri yang Tak Kunjung Sembuh

Selain tulang belakang, TB juga dapat menyerang sendi besar seperti pinggul, lutut, dan pergelangan kaki. TB sendi biasanya menimbulkan:

Nyeri sendi kronis
Bengkak yang tidak terlalu merah, tetapi menetap
Kaku sendi terutama pagi hari
Penurunan fungsi sendi dan kesulitan berjalan

Berbeda dengan radang sendi akibat infeksi bakteri lain yang cenderung akut dan dramatis, TB sendi berkembang perlahan dan sering dianggap sebagai osteoartritis biasa, terutama pada orang lanjut usia. Padahal, kerusakan sendi akibat TB bisa sangat berat dan berujung pada kebutuhan operasi rekonstruksi jika terlambat diobati.

Tuberkulosis Kelenjar Getah Bening, “Benjolan” yang Sering Dianggap Sepele

Salah satu manifestasi tuberkulosis serang organ selain paru yang paling sering adalah TB kelenjar getah bening, terutama di leher. Kondisi ini disebut limfadenitis tuberkulosis. Di banyak negara dengan beban TB tinggi, benjolan leher yang menetap selama berminggu minggu harus selalu dicurigai sebagai kemungkinan TB.

Ciri Ciri TB Kelenjar Getah Bening

TB kelenjar getah bening biasanya ditandai dengan:

Benjolan di leher, ketiak, atau daerah lipat paha
Benjolan cenderung tidak nyeri pada awalnya
Benjolan membesar perlahan dan bisa menjadi banyak
Kulit di atas benjolan bisa menipis, kemerahan, dan akhirnya pecah mengeluarkan cairan seperti nanah

Karena tidak disertai batuk atau keluhan pernapasan, banyak pasien mengira ini hanya “kelenjar bengkak biasa” atau infeksi ringan. Sebagian datang ke dokter kecantikan atau klinik estetika karena menganggapnya sebagai masalah penampilan, bukan kesehatan serius.

Diagnosis TB kelenjar getah bening biasanya dilakukan melalui biopsi jarum halus atau pengangkatan sebagian jaringan kelenjar untuk pemeriksaan histopatologi dan mikrobiologi. Tes pendukung lain seperti rontgen dada, tes tuberkulin, dan pemeriksaan molekuler dapat membantu menegakkan diagnosis.

Ketika Tuberkulosis Menyerang Ginjal dan Saluran Kemih

Tuberkulosis ginjal dan saluran kemih adalah salah satu bentuk tuberkulosis serang organ selain paru yang sering terlambat dikenali karena gejalanya mirip infeksi saluran kemih biasa. Padahal, kerusakan ginjal akibat TB bisa permanen dan berujung pada gagal ginjal jika tidak ditangani tepat waktu.

Gejala TB Ginjal dan Saluran Kemih

Beberapa gejala yang perlu diwaspadai antara lain:

Sering buang air kecil
Nyeri saat buang air kecil
Nyeri pinggang atau nyeri di daerah ginjal
Darah dalam urin
Demam ringan dan penurunan berat badan
Infeksi saluran kemih berulang yang sulit sembuh dengan antibiotik biasa

Pemeriksaan urin pada TB ginjal bisa menunjukkan adanya sel darah merah, sel darah putih, namun tanpa bakteri biasa yang terlihat di kultur standar. Kultur khusus untuk kuman TB atau pemeriksaan molekuler diperlukan untuk memastikan diagnosis. Pencitraan seperti USG, CT scan, atau IVP (intravenous pyelography) dapat menunjukkan kerusakan struktural ginjal dan saluran kemih.

TB ginjal yang tidak diobati dapat menyebabkan penyempitan saluran kemih, gangguan aliran urin, pembentukan batu, hingga kerusakan ginjal satu sisi atau kedua sisi. Di sinilah pentingnya memasukkan TB dalam daftar kemungkinan diagnosis ketika ada infeksi saluran kemih kronis yang tidak jelas penyebabnya, terutama di daerah endemis.

TB pada Organ Reproduksi, Ancaman Tersembunyi bagi Kesuburan

Ketika tuberkulosis serang organ selain paru dan mengenai sistem reproduksi, konsekuensinya sering kali baru disadari ketika seseorang mengalami kesulitan memiliki anak. TB genital dapat terjadi pada pria maupun wanita, namun sering kali tidak menimbulkan gejala khas sehingga terlewat hingga muncul masalah infertilitas.

TB Genital pada Wanita

Pada wanita, TB dapat menyerang tuba falopi, rahim, ovarium, dan struktur pelvis lain. Gejalanya bisa berupa:

Nyeri panggul kronis
Gangguan haid seperti haid tidak teratur atau perdarahan di luar siklus
Keputihan yang menetap
Riwayat keguguran berulang
Sulit hamil tanpa penyebab jelas

Infeksi TB di tuba falopi dapat menyebabkan sumbatan dan kerusakan permanen, sehingga sel telur tidak dapat bertemu sperma. Sementara itu, infeksi di rahim dapat mengganggu proses implantasi dan perkembangan kehamilan. Banyak kasus TB genital baru terdiagnosis saat pasangan menjalani pemeriksaan infertilitas mendalam.

TB Genital pada Pria

Pada pria, TB dapat menyerang epididimis, testis, prostat, dan vesikula seminalis. Gejalanya antara lain:

Benjolan nyeri di skrotum
Pembengkakan epididimis
Nyeri saat ejakulasi
Darah dalam sperma
Infertilitas akibat gangguan saluran sperma

Pemeriksaan cairan semen, USG skrotum, dan biopsi jaringan dapat membantu mengidentifikasi TB sebagai penyebab. Mengingat sensitivitas isu organ reproduksi, banyak pasien enggan memeriksakan diri hingga kondisinya berat, sehingga edukasi yang baik sangat dibutuhkan.

Tuberkulosis pada Rongga Perut dan Saluran Cerna

TB perut atau TB abdomen adalah bentuk lain dari tuberkulosis serang organ selain paru yang cukup menantang untuk didiagnosis. Kuman TB dapat menginfeksi peritoneum, usus, kelenjar getah bening di rongga perut, dan organ organ seperti hati atau limpa.

Gejala TB Perut yang Sering Disalahartikan

Gejala TB perut sangat bervariasi, antara lain:

Nyeri perut kronis
Perut kembung dan rasa penuh
Penurunan berat badan yang signifikan
Demam ringan berkepanjangan
Diare atau konstipasi yang bergantian
Penumpukan cairan di rongga perut sehingga perut tampak membesar

Karena gejalanya mirip penyakit lain seperti kanker usus, sirosis, atau penyakit radang usus, TB sering tidak langsung terpikirkan. Pemeriksaan penunjang bisa meliputi USG, CT scan, endoskopi, analisis cairan asites, dan biopsi jaringan peritoneum atau usus.

TB perut yang tidak diobati dapat menyebabkan perlengketan usus, sumbatan usus, dan malnutrisi berat. Di beberapa kasus, pasien baru datang ketika sudah mengalami perut sangat buncit, tidak bisa makan, dan muntah berulang akibat sumbatan usus mekanik.

Tuberkulosis Kulit, Wajah Lain dari Infeksi TB

Meski lebih jarang, tuberkulosis serang organ selain paru juga dapat terlihat pada kulit. TB kulit memiliki beberapa bentuk klinis, mulai dari nodul, plak, hingga ulkus kronis yang sulit sembuh. Bentuk paling dikenal antara lain lupus vulgaris dan skrofuloderma.

Ciri TB Kulit yang Perlu Diwaspadai

Beberapa gambaran TB kulit antara lain:

Lesi merah kecoklatan yang perlahan meluas
Plak menebal yang dapat mengalami ulserasi
Luka kronis yang tidak membaik meski sudah diobati dengan salep atau antibiotik biasa
Lesi kulit di atas kelenjar getah bening TB yang pecah

Diagnosis TB kulit memerlukan biopsi kulit untuk pemeriksaan histopatologi, kultur, dan tes molekuler. Karena tampilan klinisnya bisa menyerupai penyakit kulit lain seperti infeksi jamur, kanker kulit, atau penyakit autoimun, kecurigaan terhadap TB sering kali rendah kecuali pada daerah dengan beban TB tinggi.

Mengapa TB Ekstra Paru Sering Terlambat Didiagnosis

Keterlambatan diagnosis adalah problem utama ketika tuberkulosis serang organ selain paru. Ada beberapa alasan mengapa hal ini sering terjadi dan berulang.

Gejala Tidak Spesifik dan Menyerupai Penyakit Lain

Sebagian besar bentuk TB ekstra paru tidak menimbulkan batuk, dahak, atau keluhan pernapasan. Gejalanya sering berupa:

Demam ringan berkepanjangan
Keringat malam
Penurunan berat badan
Lelah berkepanjangan
Nyeri lokal sesuai organ yang terkena

Keluhan keluhan ini sangat umum dan bisa disebabkan banyak penyakit lain. Tanpa riwayat paparan TB yang jelas atau hasil rontgen dada yang menunjukkan TB paru aktif, dokter bisa saja lebih dulu memikirkan diagnosis lain seperti kanker, penyakit autoimun, atau infeksi bakteri biasa.

Keterbatasan Pemeriksaan Penunjang

Berbeda dengan TB paru yang relatif mudah didiagnosis melalui pemeriksaan dahak dan rontgen dada, TB ekstra paru sering memerlukan pemeriksaan yang lebih invasif dan kompleks, seperti biopsi jaringan, pungsi cairan, atau pencitraan lanjutan. Di fasilitas kesehatan dengan sumber daya terbatas, akses terhadap pemeriksaan ini mungkin tidak selalu tersedia.

Tes molekuler cepat untuk TB seperti GeneXpert memang sangat membantu, tetapi sampel jaringan atau cairan dari organ terkait tetap harus diambil dengan teknik yang tepat. Prosedur ini memerlukan tenaga terlatih dan peralatan memadai.

Stigma dan Kurangnya Kewaspadaan

Stigma terhadap TB masih kuat di banyak masyarakat. Banyak pasien enggan mengakui riwayat TB sebelumnya atau menunda pemeriksaan karena takut dicap memiliki “penyakit menular”. Ketika tuberkulosis serang organ selain paru, pasien sering tidak menyadari bahwa keluhan di luar paru bisa terkait dengan TB, sehingga tidak menyebutkan riwayat TB yang pernah ada.

Di sisi lain, sebagian tenaga kesehatan juga masih cenderung mengaitkan TB hanya dengan batuk kronis dan kelainan paru, sehingga TB ekstra paru tidak selalu masuk dalam daftar diagnosis banding pada tahap awal. Kombinasi faktor inilah yang membuat TB ekstra paru kerap ditemukan dalam stadium lanjut.

> “Setiap keluhan kronis yang tidak kunjung jelas penyebabnya, terutama di negara dengan angka TB tinggi, seharusnya memicu satu pertanyaan sederhana: apakah ini mungkin tuberkulosis serang organ selain paru?”

Prinsip Pengobatan TB Ekstra Paru dan Tantangannya

Secara garis besar, pengobatan tuberkulosis serang organ selain paru menggunakan regimen obat yang sama dengan TB paru, yaitu kombinasi beberapa obat antituberkulosis dalam jangka waktu tertentu. Namun, ada beberapa hal khusus yang membedakan penatalaksanaan TB ekstra paru.

Durasi Terapi yang Lebih Panjang

Untuk TB paru tanpa komplikasi, durasi pengobatan standar biasanya enam bulan. Pada TB ekstra paru, terutama yang mengenai sistem saraf pusat, tulang, sendi, atau TB yang berat, durasi terapi sering diperpanjang menjadi 9 sampai 12 bulan, atau bahkan lebih pada kasus tertentu sesuai penilaian dokter spesialis.

Perpanjangan terapi ini bertujuan memastikan eradikasi kuman di jaringan yang sulit ditembus obat dan mencegah kekambuhan. Namun, durasi panjang juga membawa tantangan kepatuhan minum obat, risiko efek samping, dan kebutuhan pemantauan berkala yang ketat.

Peran Kortikosteroid dan Tindakan Bedah

Pada beberapa bentuk TB ekstra paru, seperti meningitis TB, perikarditis TB, atau TB tulang belakang dengan kompresi saraf, dokter dapat menambahkan kortikosteroid untuk mengurangi peradangan dan mencegah kerusakan jaringan lebih lanjut. Penggunaan kortikosteroid harus dilakukan dengan pengawasan ketat karena dapat memengaruhi sistem imun.

Tindakan bedah juga mungkin diperlukan, misalnya:

Dekompressi saraf pada TB tulang belakang
Drainase abses besar
Pengangkatan jaringan nekrotik
Rekonstruksi sendi atau tulang yang rusak

Pendekatan multidisiplin antara dokter paru, penyakit dalam, bedah, saraf, ortopedi, urologi, dan bidang lain sering kali dibutuhkan untuk memberikan hasil terbaik pada pasien TB ekstra paru.

Pemantauan Efek Samping dan Kondisi Penyerta

Obat TB dapat menimbulkan efek samping seperti gangguan fungsi hati, gangguan penglihatan, gangguan pendengaran, dan keluhan pencernaan. Pada pasien dengan TB ekstra paru yang sudah mengalami kerusakan organ, misalnya ginjal atau hati, penyesuaian dosis dan pemilihan obat menjadi lebih rumit.

Selain itu, banyak pasien TB ekstra paru memiliki kondisi penyerta seperti HIV, diabetes, malnutrisi, atau penyakit autoimun yang memerlukan terapi tambahan. Koordinasi pengobatan antara TB dan penyakit penyerta menjadi kunci untuk mencegah interaksi obat dan memperbaiki hasil klinis.

Langkah Langkah Perlindungan dan Kewaspadaan Dini

Mencegah dan mengenali tuberkulosis serang organ selain paru memerlukan upaya di berbagai level, mulai dari individu, keluarga, hingga sistem pelayanan kesehatan. TB ekstra paru bukanlah penyakit yang “misterius”, tetapi sering tersembunyi di balik gejala yang tampak biasa.

Pengenalan gejala kronis yang tidak kunjung membaik, terutama pada orang dengan faktor risiko seperti kontak erat dengan penderita TB, riwayat TB sebelumnya, HIV, diabetes, atau kondisi imun lemah, harus menjadi alarm untuk mempertimbangkan kemungkinan TB ekstra paru. Edukasi bahwa TB tidak hanya menyerang paru perlu ditekankan dalam setiap kampanye kesehatan publik.

Di layanan kesehatan, setiap keluhan kronis pada tulang, sendi, kelenjar getah bening, ginjal, organ reproduksi, perut, atau sistem saraf sebaiknya dipertimbangkan dalam spektrum tuberkulosis serang organ selain paru, terutama di wilayah dengan angka TB tinggi. Kombinasi anamnesis yang cermat, pemeriksaan fisik teliti, dan penggunaan pemeriksaan penunjang yang tepat akan sangat menentukan apakah diagnosis ditegakkan pada tahap yang masih bisa sepenuhnya dipulihkan atau sudah terlambat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *