Sering Memendam Emosi Bisa Ganggu Tubuh, Psikiater Jelaskan Alasannya

Gaya Hidup3 Views

Sering Memendam Emosi Bisa Ganggu Tubuh, Psikiater Jelaskan Alasannya Marah, kecewa, sedih, takut, malu, dan cemas merupakan bagian normal dari kehidupan manusia. Tidak setiap emosi harus langsung disampaikan kepada orang lain. Pada situasi tertentu, seseorang bahkan perlu menahan respons sementara agar tidak bertindak secara impulsif. Persoalan mulai muncul ketika menekan perasaan berubah menjadi kebiasaan utama dan berlangsung dalam waktu panjang tanpa ada ruang untuk mengenali serta mengelolanya.

Psikiater dr. Lahargo Kembaren, SpKJ, dari bidang Pengabdian Masyarakat PP PDSKJI menjelaskan bahwa kondisi psikologis dan tubuh tidak bekerja sebagai dua bagian yang sepenuhnya terpisah. Ketika seseorang mengalami tekanan, otak mengaktifkan HPA axis dan sistem saraf simpatis. Tubuh kemudian menghasilkan berbagai hormon serta mediator stres, termasuk kortisol dan katekolamin.

Respons tersebut sebenarnya diperlukan tubuh ketika menghadapi ancaman. Namun, persoalannya berbeda apabila tekanan berlangsung terus menerus dan tubuh berulang kali berada dalam keadaan waspada. Perubahan dapat terlihat melalui pola tidur, nafsu makan, detak jantung, ketegangan otot, pencernaan, konsentrasi, serta tingkat energi.

Menahan Emosi Sesekali Bukan Masalah

Istilah memendam emosi sering digunakan terlalu luas. Seseorang yang memilih tidak langsung berteriak ketika marah belum tentu sedang melakukan sesuatu yang tidak sehat.

Kemampuan menahan respons sesaat justru dapat menjadi bagian dari regulasi emosi. Orang dapat mengambil waktu untuk menenangkan diri, memahami apa yang sebenarnya dirasakan, kemudian menentukan cara menyampaikan perasaan tanpa menyakiti dirinya atau orang lain.

Masalahnya muncul ketika pola yang terjadi selalu sama. Seseorang merasa marah tetapi terus mengatakan dirinya baik baik saja. Ia kecewa tetapi tidak pernah mengakui kekecewaan tersebut. Kesedihan disimpan karena takut dianggap lemah. Ketakutan tidak dibicarakan karena khawatir merepotkan orang lain.

Pada titik tertentu, energi mental digunakan untuk terus menutupi keadaan internal.

Penelitian mengenai emotion suppression juga membedakan antara mengendalikan ekspresi dan mengelola emosi secara keseluruhan. Meta analisis yang diterbitkan dalam Health Psychology Review menemukan bahwa penekanan emosi yang sengaja diminta dalam eksperimen berhubungan dengan reaktivitas fisiologis terhadap stres yang lebih tinggi, terutama pada parameter kardiovaskular, hemodinamik, dan neuroendokrin.

Temuan tersebut tidak berarti setiap orang yang memilih diam akan jatuh sakit. Penelitian justru memperlihatkan hubungan antara emosi dan tubuh jauh lebih rumit daripada anggapan bahwa satu perasaan tertentu langsung menyebabkan satu penyakit tertentu.

Tubuh Tetap Merespons Walau Wajah Terlihat Tenang

Seseorang dapat tersenyum ketika sedang tertekan. Ia dapat tetap bekerja, mengikuti rapat, berbicara dengan keluarga, dan menyelesaikan tugas tanpa menunjukkan apa yang dirasakan.

Namun, tubuh tidak selalu mengikuti ekspresi wajah.

Ketika otak menilai terdapat ancaman atau tekanan, sistem saraf simpatis dapat meningkatkan kesiagaan. Denyut jantung dapat bertambah cepat, otot menjadi lebih tegang, pernapasan berubah, dan hormon stres dilepaskan.

Lahargo menjelaskan respons stres semacam itu merupakan mekanisme biologis normal. Kesulitan mulai muncul apabila aktivasi berlangsung berkepanjangan sehingga regulasi kortisol dan sistem tubuh lainnya ikut berubah.

Respons tubuh tersebut membantu menjelaskan mengapa sebagian orang yang sedang berada dalam tekanan emosional merasa jantung berdebar, dada tidak nyaman, tengkuk kaku, sakit kepala, perut terasa tidak enak, atau sulit tidur.

Kementerian Kesehatan dalam materi manajemen stres yang ditulis Lahargo juga mencantumkan sejumlah keluhan yang dapat muncul ketika seseorang mengalami stres, antara lain sakit lambung, kembung, jantung berdebar, napas terasa berat, sakit kepala, ketegangan leher dan pundak, perubahan pola makan, gangguan tidur, serta kesulitan berkonsentrasi.

“Menurut penulis, tubuh sering memberi sinyal lebih dahulu ketika seseorang terlalu lama berusaha terlihat baik baik saja. Keluhan itu layak diperhatikan tanpa langsung menganggap semuanya hanya berasal dari pikiran.”

Gangguan Tidur Sering Menjadi Keluhan Pertama

Tidur merupakan salah satu bagian yang paling mudah berubah ketika pikiran berada dalam tekanan.

Pada siang hari, seseorang masih mempunyai banyak distraksi. Pekerjaan, perjalanan, percakapan, dan aktivitas lain membuat perhatian berpindah. Ketika malam tiba dan lingkungan menjadi lebih tenang, perasaan yang selama ini ditahan dapat kembali muncul.

Seseorang mungkin mulai mengulang percakapan tertentu dalam pikirannya. Ia mengingat hal yang membuat marah, memikirkan sesuatu yang belum terselesaikan, atau terus menanyakan keputusan yang sudah dibuat.

Tubuh yang masih berada dalam keadaan waspada kemudian lebih sulit berpindah menuju tidur.

Sebagian orang membutuhkan waktu lama untuk terlelap. Ada yang mudah tidur tetapi terbangun beberapa kali. Ada pula yang tidur cukup lama namun bangun dalam keadaan tetap lelah.

Lahargo memasukkan sulit tidur maupun tidur terlalu banyak sebagai keluhan yang dapat menyertai stres berkepanjangan.

Gangguan tidur kemudian dapat membuat keadaan semakin berat. Kurang tidur dapat membuat seseorang lebih mudah tersinggung, kesulitan berkonsentrasi, dan mempunyai toleransi lebih rendah terhadap tekanan pada hari berikutnya.

Sakit Kepala dan Otot Tegang Bisa Ikut Muncul

Tekanan emosional juga dapat terlihat melalui ketegangan otot.

Ketika tubuh bersiap menghadapi ancaman, otot secara alami meningkatkan ketegangan. Respons tersebut berguna bila seseorang benar benar membutuhkan tindakan cepat. Namun, apabila ketegangan terus terjadi tanpa disadari, leher, bahu, rahang, dan kepala dapat terasa tidak nyaman.

Sebagian orang terbiasa mengatupkan rahang ketika cemas. Ada yang menaikkan bahu ketika bekerja dalam tekanan. Kebiasaan tersebut dapat terjadi berjam jam tanpa disadari.

Keluhan akhirnya baru terasa ketika aktivitas berhenti.

Sakit kepala tidak boleh otomatis dianggap berasal dari tekanan emosional karena penyebabnya sangat banyak. Infeksi, gangguan mata, tekanan darah, dehidrasi, kurang tidur, efek obat, sampai penyakit tertentu juga dapat menimbulkan sakit kepala.

Karena itu, keluhan yang menetap atau berubah menjadi lebih berat tetap membutuhkan pemeriksaan medis.

Jantung Berdebar Tidak Selalu Berarti Penyakit Jantung

Perasaan kuat dapat memengaruhi kerja sistem saraf otonom.

Ketika seseorang takut atau cemas, jantung dapat terasa berdetak lebih cepat. Napas menjadi pendek dan tangan berkeringat. Reaksi serupa dapat terjadi ketika seseorang sedang marah tetapi berusaha keras menahannya.

Penelitian eksperimental sebelumnya menunjukkan penekanan ekspresi emosi dapat berkaitan dengan peningkatan aktivasi simpatis pada sistem kardiovaskular.

Namun, seseorang tidak boleh langsung menyimpulkan jantung berdebar merupakan akibat emosi.

Gangguan irama jantung, anemia, masalah tiroid, konsumsi kafein, obat tertentu, demam, dehidrasi, serta berbagai keadaan medis lain juga dapat menyebabkan keluhan serupa.

Bila jantung berdebar disertai nyeri dada, pingsan, sesak berat, atau muncul secara berulang tanpa penyebab jelas, pemeriksaan medis tidak sebaiknya ditunda.

Lambung dan Pencernaan Bisa Ikut Terpengaruh

Hubungan antara otak dan saluran cerna sangat dekat.

Saat seseorang berada dalam tekanan, perubahan pada sistem saraf dan hormon dapat memengaruhi gerakan saluran pencernaan, sensitivitas lambung, serta pola makan.

Sebagian orang kehilangan selera makan ketika sedih atau cemas. Sebagian lainnya justru makan lebih banyak sebagai bentuk mencari rasa nyaman.

Keluhan seperti perut terasa penuh, mual, kembung, atau sensasi tidak nyaman juga dapat muncul bersamaan dengan stres. Materi Kementerian Kesehatan mengenai manajemen stres menyebut sakit lambung, kembung, serta perubahan pola makan sebagai beberapa keluhan yang dapat terjadi.

Meski demikian, keluhan pencernaan tidak boleh selalu dilabeli sebagai psikosomatik sebelum penyebab medis diperiksa.

Infeksi, refluks, intoleransi makanan, gangguan kantong empedu, penyakit saluran cerna, serta berbagai kondisi lain dapat memberikan gejala yang serupa.

Hubungan pikiran dan tubuh sebaiknya digunakan untuk memperluas pemahaman, bukan sebagai alasan mengabaikan pemeriksaan medis.

Nafsu Makan dan Berat Badan Dapat Berubah

Kortisol sering disebut ketika membicarakan stres karena hormon tersebut merupakan salah satu bagian dari sistem respons tubuh.

Lahargo sebelumnya menjelaskan tekanan yang tidak dikelola dengan baik dapat memengaruhi pola makan. Selera makan pada sebagian orang dapat berkurang, sedangkan pada orang lain justru meningkat.

Perubahan tersebut pada akhirnya dapat terlihat pada berat badan.

Ada orang yang kehilangan berat badan ketika menghadapi tekanan berat karena hampir tidak merasa lapar. Orang lain lebih sering mencari makanan tinggi energi saat merasa sedih atau tertekan.

Namun, perubahan berat badan juga mempunyai banyak penyebab lain.

Gangguan tiroid, diabetes, penyakit saluran cerna, obat, aktivitas fisik, pola tidur, perubahan hormon, serta berbagai kondisi medis harus ikut dipertimbangkan.

Apabila berat badan berubah cukup besar tanpa alasan yang jelas, pemeriksaan kesehatan tetap diperlukan.

Konsentrasi Bisa Menurun ketika Kepala Terlalu Penuh

Memendam emosi membutuhkan energi mental.

Seseorang tidak hanya merasakan sesuatu, tetapi juga terus mengawasi bagaimana dirinya terlihat di hadapan orang lain. Ia mungkin berusaha tidak menangis, tidak terlihat marah, atau tidak menunjukkan rasa takut.

Pada saat bersamaan, persoalan yang menimbulkan emosi tersebut belum tentu selesai.

Akibatnya, sebagian kapasitas perhatian tetap digunakan untuk memproses masalah.

Kesulitan fokus, mudah lupa, dan pekerjaan yang biasanya sederhana terasa membutuhkan waktu lebih lama termasuk keluhan yang dapat muncul saat stres.

Keadaan tersebut kadang membuat seseorang menyalahkan dirinya sendiri karena merasa produktivitas menurun.

Padahal, otak mungkin sedang bekerja keras menangani tekanan yang tidak pernah memperoleh ruang untuk diproses.

Apakah Memendam Emosi Bisa Menyebabkan Autoimun

Pertanyaan ini banyak beredar di masyarakat dan media sosial.

Lahargo menegaskan belum tepat mengatakan memendam emosi secara langsung menyebabkan penyakit autoimun. Penyakit autoimun mempunyai penyebab kompleks dan dapat dipengaruhi faktor genetik, hormonal, infeksi, lingkungan, serta faktor psikososial.

Stres kronis memang dapat berhubungan dengan sistem kekebalan tubuh melalui perubahan regulasi kortisol, sensitivitas reseptor glukokortikoid, serta keseimbangan sitokin. Namun, hubungan biologis tersebut tidak sama dengan pernyataan bahwa seseorang mengalami penyakit autoimun karena terlalu banyak menyimpan perasaan.

Pembedaan ini sangat penting.

Menghubungkan penyakit berat secara langsung dengan keadaan emosi dapat membuat pasien merasa bersalah atas penyakitnya sendiri.

Padahal, banyak penyakit muncul melalui interaksi sejumlah faktor yang tidak sepenuhnya berada dalam kendali seseorang.

Tidak Tepat Menyalahkan Emosi sebagai Penyebab Semua Penyakit

Anggapan bahwa seluruh penyakit berasal dari pikiran merupakan penyederhanaan yang berisiko.

Psikiater menekankan kesehatan mental memang dapat memengaruhi kondisi fisik melalui berbagai jalur biologis. Namun, bukan berarti setiap penyakit mempunyai penyebab psikologis.

Seseorang dengan hipertensi tetap membutuhkan penilaian tekanan darah dan faktor risiko kardiovaskular.

Pasien dengan nyeri perut tetap dapat membutuhkan pemeriksaan saluran cerna.

Orang yang sering sakit kepala tetap perlu diperiksa bila terdapat tanda tertentu.

Perawatan kesehatan yang baik justru melihat tubuh dan kondisi psikologis secara bersamaan.

Pemeriksaan medis dapat mencari penyebab fisik, sementara evaluasi kesehatan mental membantu melihat apakah stres, kecemasan, kesedihan berkepanjangan, atau pola pengelolaan emosi ikut memperberat keluhan.

Klaim Hubungan dengan Kanker Harus Dibaca Sangat Hati Hati

Hubungan antara penekanan emosi dan kanker juga sering dibicarakan secara berlebihan.

Sebuah penelitian lama yang mengikuti 729 orang selama 12 tahun menemukan hubungan statistik antara skor penekanan emosi yang lebih tinggi dan risiko kematian tertentu. Namun, peneliti sendiri menegaskan masih diperlukan penelitian lebih lanjut untuk memahami jalur biologis maupun sosial yang mungkin terlibat.

Penelitian observasional seperti itu tidak dapat digunakan untuk menyatakan bahwa memendam emosi menyebabkan kanker.

Kanker merupakan kelompok penyakit kompleks yang dapat berhubungan dengan faktor genetik, usia, infeksi tertentu, rokok, alkohol, paparan lingkungan, radiasi, pola hidup, serta banyak faktor lain.

Dokter onkologi di Indonesia juga mengingatkan pembahasan stres dan kanker tidak boleh diterjemahkan menjadi klaim bahwa setiap orang yang memendam emosi akan mengalami keganasan.

Masyarakat sebaiknya berhati hati terhadap konten yang membuat hubungan sebab akibat terlalu sederhana.

Mengekspresikan Emosi Bukan Berarti Harus Meledak

Alternatif dari memendam bukanlah meluapkan seluruh emosi tanpa kendali.

Marah tidak harus berarti berteriak.

Sedih tidak harus diumumkan kepada semua orang.

Kecewa juga tidak berarti seseorang wajib melakukan konfrontasi pada saat itu juga.

Regulasi yang sehat dimulai dengan mengenali apa yang sedang dirasakan.

Seseorang dapat mengatakan kepada dirinya sendiri bahwa ia sedang marah, takut, malu, atau kecewa. Setelah itu, ia dapat mempertimbangkan penyebab serta cara merespons.

Kadang respons terbaik adalah berbicara. Pada keadaan lain, seseorang membutuhkan waktu sebelum membicarakannya.

Yang terpenting, emosi tidak terus ditolak seolah perasaan tersebut tidak pernah ada.

“Mengelola emosi bukan perlombaan menjadi selalu tenang. Seseorang tetap boleh marah dan sedih, tetapi perlu mencari cara agar perasaan itu dapat diproses tanpa merusak diri sendiri maupun orang lain.”

Berbicara dengan Orang yang Aman Dapat Membantu

Tidak semua orang mempunyai kebiasaan membicarakan perasaan.

Sebagian tumbuh dalam keluarga yang jarang menggunakan bahasa emosional. Ada yang pernah dianggap berlebihan ketika mencoba bercerita. Pengalaman semacam itu dapat membuat seseorang belajar untuk diam.

Langkah pertama tidak harus berbicara mengenai seluruh persoalan sekaligus.

Orang dapat memilih satu orang yang dianggap aman, baik pasangan, sahabat, anggota keluarga, maupun profesional.

Tujuan percakapan tidak selalu mencari solusi.

Kadang seseorang hanya membutuhkan ruang untuk mengakui bahwa dirinya sedang lelah atau terluka.

RRI dalam pembahasan terbaru mengenai kebiasaan menyimpan perasaan menyebut berbicara dengan orang yang dipercaya, menulis, melakukan aktivitas fisik, cukup beristirahat, serta melakukan kegiatan menyenangkan sebagai beberapa cara yang dapat digunakan untuk membantu mengelola tekanan emosional.

Menulis Bisa Menjadi Pilihan bagi Orang yang Sulit Bicara

Sebagian orang lebih mudah mengenali perasaan ketika menuliskannya.

Tulisan tidak harus berupa jurnal panjang.

Seseorang dapat memulai dengan pertanyaan sederhana seperti apa yang sedang saya rasakan, apa yang membuat perasaan itu muncul, apa yang sebenarnya saya butuhkan, dan tindakan apa yang aman untuk dilakukan.

Proses tersebut membantu memberi nama pada pengalaman yang sebelumnya hanya terasa sebagai tekanan tidak jelas.

Menulis juga dapat membantu seseorang melihat apakah satu masalah terus berulang.

Apabila setiap minggu muncul kemarahan dari situasi yang sama, mungkin terdapat batas pribadi yang perlu dibicarakan.

Bila kesedihan terus muncul tanpa perubahan selama berminggu minggu, keadaan tersebut juga dapat menjadi alasan mencari bantuan profesional.

Aktivitas Fisik Membantu Tubuh Keluar dari Ketegangan

Gerak tubuh juga dapat menjadi bagian dari pengelolaan stres.

Tidak harus berupa olahraga berat.

Berjalan, bersepeda, berenang, berkebun, membersihkan rumah, atau aktivitas lain yang membuat tubuh bergerak dapat membantu seseorang keluar dari pola duduk sambil terus memikirkan persoalan.

Aktivitas fisik tidak menghapus sumber masalah, tetapi dapat membantu mengelola respons tubuh terhadap tekanan.

Pola tidur, makan teratur, serta pengurangan konsumsi zat yang memperburuk kecemasan juga dapat diperhatikan.

Namun, cara ini sebaiknya tidak digunakan untuk terus menghindari pembicaraan yang memang perlu dilakukan.

Olahraga dapat membantu menenangkan tubuh, tetapi konflik yang berlangsung berbulan bulan tetap membutuhkan penyelesaian pada tingkat hubungan atau persoalan yang sebenarnya.

Kapan Kebiasaan Memendam Perlu Mendapat Bantuan Profesional

Tidak semua kesedihan atau kemarahan membutuhkan psikiater.

Namun, bantuan profesional layak dipertimbangkan ketika tekanan sudah berlangsung lama, sulit dikendalikan, dan mulai mengganggu kehidupan sehari hari.

Tandanya dapat berupa tidur yang terus terganggu, nafsu makan berubah tajam, sulit bekerja, kehilangan minat terhadap kegiatan yang biasanya disukai, mudah marah hampir setiap hari, terus merasa cemas, menarik diri dari orang lain, atau keluhan fisik berulang yang semakin mengganggu.

Seseorang juga sebaiknya mencari pertolongan lebih cepat bila muncul pikiran untuk menyakiti diri, merasa hidup tidak layak diteruskan, atau sudah tidak mampu menjalankan kebutuhan dasar sehari hari.

Psikiater dapat melakukan penilaian untuk mengetahui apakah seseorang sedang menghadapi respons stres, gangguan kecemasan, depresi, trauma, atau kondisi lain yang membutuhkan penanganan.

Pendekatan yang diberikan dapat berbeda untuk setiap orang. Sebagian membutuhkan psikoterapi, sebagian memperoleh manfaat dari perubahan kebiasaan, dan pada kondisi tertentu dokter dapat mempertimbangkan obat setelah pemeriksaan.

Keluhan fisik tetap dapat diperiksa secara bersamaan. Jantung berdebar, sakit kepala, gangguan lambung, perubahan berat badan, serta kelelahan tidak sebaiknya hanya dilabeli sebagai masalah emosi tanpa evaluasi yang memadai.

Tubuh dan pikiran memang saling berhubungan, tetapi keduanya juga perlu mendapatkan pemeriksaan sesuai keluhan masing masing. Kebiasaan mengenali perasaan dapat menjadi salah satu bagian perawatan diri, sementara gejala yang menetap tetap membutuhkan bantuan tenaga kesehatan agar penyebab yang sebenarnya tidak terlewat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *