Manfaat temulawak sudah lama dikenal masyarakat Indonesia melalui jamu dan berbagai produk herbal. Rimpang dengan nama ilmiah Curcuma xanthorrhiza Roxb. ini banyak digunakan untuk membantu menjaga fungsi hati, memperbaiki nafsu makan serta mengatasi keluhan pencernaan seperti rasa penuh dan perut kembung. Meski penggunaannya telah berlangsung lama, kekuatan bukti ilmiah untuk setiap manfaat tidak sama sehingga klaim kesehatan temulawak perlu dibaca secara hati hati.
Badan Pengawas Obat dan Makanan atau BPOM memasukkan rimpang temulawak dalam daftar bahan obat alam dengan klaim yang disetujui untuk membantu memelihara kesehatan fungsi hati dan membantu memperbaiki nafsu makan. Pernyataan tersebut penting karena menunjukkan posisi temulawak dalam regulasi obat bahan alam Indonesia, tetapi tidak berarti temulawak dapat menggantikan pengobatan penyakit hati atau gangguan makan yang membutuhkan pemeriksaan dokter.
European Medicines Agency atau EMA juga menilai Curcuma xanthorrhiza sebagai herbal yang secara tradisional dapat digunakan pada orang dewasa untuk keluhan pencernaan, terutama rasa penuh, pencernaan lambat dan perut bergas. EMA menekankan bahwa penggunaan tersebut terutama didasarkan pada riwayat pemakaian jangka panjang, bukan bukti uji klinis besar yang sudah memberikan kepastian tinggi.
Temulawak Merupakan Rimpang Asli yang Sangat Dekat dengan Indonesia
Temulawak termasuk keluarga Zingiberaceae, keluarga tanaman yang sama dengan jahe dan kunyit. Bagian yang paling banyak dimanfaatkan adalah rimpangnya yang berwarna kuning hingga jingga dan mempunyai aroma khas.
Temulawak berbeda dari kunyit biasa. Kunyit umumnya merujuk pada Curcuma longa, sedangkan temulawak adalah Curcuma xanthorrhiza. Perbedaan ini perlu diperhatikan ketika membaca hasil penelitian karena studi terhadap kunyit tidak otomatis membuktikan hasil yang sama pada temulawak.
Senyawa yang banyak diteliti dari temulawak antara lain kelompok kurkuminoid dan xanthorrhizol. Penelitian terhadap ekstrak temulawak terus dilakukan untuk melihat aktivitas biologisnya, termasuk hubungannya dengan proses peradangan, stres oksidatif dan kesehatan sel hati. Penelitian tahun 2025 pada model sel yang mengalami cedera akibat acetaminophen, misalnya, menemukan ekstrak Curcuma xanthorrhiza memengaruhi beberapa penanda inflamasi dan stres oksidatif. Namun penelitian tersebut dilakukan pada tingkat sel sehingga hasilnya belum dapat langsung disamakan dengan manfaat klinis pada manusia.
Perbedaan tingkat bukti inilah yang membuat masyarakat perlu membedakan antara hasil laboratorium, penelitian hewan dan uji klinis manusia.
Temulawak Banyak Digunakan untuk Membantu Pencernaan
Salah satu penggunaan temulawak yang memperoleh pengakuan cukup jelas adalah untuk keluhan pencernaan ringan. EMA menyebut sediaan Javanese turmeric dapat digunakan berdasarkan penggunaan tradisional untuk mengatasi rasa penuh, pencernaan lambat dan flatulensi atau penumpukan gas.
Keluhan tersebut sering muncul setelah makan dalam jumlah besar atau ketika saluran cerna terasa tidak nyaman. Minuman temulawak secara tradisional kemudian dikonsumsi sebagai bagian dari jamu.
Meski demikian, status penggunaan tradisional perlu dipahami dengan benar. EMA menyatakan bukti dari uji klinis yang tersedia belum cukup untuk menghasilkan penilaian pasti mengenai efektivitas temulawak untuk masalah pencernaan. Penerimaan penggunaannya didasarkan pada riwayat pemakaian yang panjang dan tingkat keamanan yang dianggap memadai untuk keluhan ringan pada orang dewasa.
Karena itu, sakit perut berulang, muntah, perdarahan saluran cerna, berat badan turun tanpa sebab atau keluhan yang tidak membaik sebaiknya tidak hanya ditangani menggunakan jamu.
Temulawak Berkaitan dengan Produksi dan Aliran Empedu
Salah satu alasan temulawak sering dihubungkan dengan sistem pencernaan adalah pengaruh beberapa komponennya terhadap sistem empedu.
EMA dalam evaluasinya mencatat sebuah penelitian kecil terhadap 12 orang sehat yang membandingkan kurkumin dengan placebo. Dalam penelitian tersebut, kurkumin meningkatkan pengosongan kantung empedu. Data itu dipertimbangkan karena aliran empedu berkaitan dengan proses pencernaan, terutama lemak. Namun jumlah peserta sangat kecil sehingga EMA menyatakan hasil tersebut belum cukup untuk membuktikan efektivitas klinis temulawak secara pasti.
Hal tersebut sekaligus menjelaskan mengapa temulawak tidak selalu cocok bagi semua orang. Orang dengan gangguan saluran empedu atau batu empedu perlu lebih berhati hati sebelum menggunakan produk herbal yang bekerja pada sistem tersebut.
Temulawak Dikenal untuk Membantu Memperbaiki Nafsu Makan
Temulawak sangat identik dengan produk penambah nafsu makan di Indonesia. Banyak orang mengenalnya sejak kecil karena ekstraknya sering terdapat pada sirup atau jamu yang dipasarkan untuk membantu meningkatkan keinginan makan.
BPOM memang mencantumkan klaim “membantu memperbaiki nafsu makan” sebagai salah satu klaim yang dapat digunakan untuk Curcuma xanthorrhiza Rhizoma dalam obat bahan alam yang memenuhi ketentuan.
Namun istilah membantu perlu diperhatikan. Temulawak bukan terapi universal untuk setiap orang yang kehilangan nafsu makan.
Nafsu makan dapat berkurang karena banyak penyebab, termasuk infeksi, gangguan pencernaan, stres berat, efek obat tertentu hingga penyakit yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut. Apabila seseorang mengalami kehilangan nafsu makan dalam waktu lama disertai penurunan berat badan, hanya memberikan temulawak tanpa mencari penyebabnya dapat membuat persoalan kesehatan terlambat diketahui.
Menurut penulis, posisi temulawak sebagai pendukung nafsu makan lebih tepat dilihat sebagai bagian dari penggunaan herbal, bukan alasan mengabaikan pemeriksaan ketika seseorang terus menerus sulit makan atau berat badannya turun.
Membantu Memelihara Kesehatan Fungsi Hati
Hubungan temulawak dengan hati menjadi salah satu bidang yang paling sering dibicarakan. BPOM memasukkan klaim membantu memelihara kesehatan fungsi hati dalam daftar klaim yang disetujui untuk rimpang temulawak.
Sejumlah penelitian eksperimental memang memberikan hasil yang menarik. Penelitian pada model sel yang dipublikasikan pada 2025 menunjukkan ekstrak Curcuma xanthorrhiza mampu memengaruhi sejumlah jalur yang berkaitan dengan peradangan, kematian sel dan stres oksidatif pada sel yang diberi acetaminophen.
Penelitian lebih lama pada hewan juga pernah menunjukkan kemungkinan efek perlindungan hati dari ekstrak temulawak pada model cedera hati yang dibuat menggunakan zat tertentu. Namun penelitian hewan tidak dapat menjadi dasar untuk menyatakan bahwa minum temulawak dapat menyembuhkan hepatitis, perlemakan hati, sirosis atau kerusakan hati akibat obat pada manusia.
Penggunaan istilah “memelihara fungsi hati” karena itu berbeda dengan “mengobati penyakit hati”.
Pasien yang memiliki hasil SGOT, SGPT atau bilirubin abnormal tetap membutuhkan evaluasi medis. Penyebab kelainan dapat berasal dari infeksi virus, penyakit metabolik, konsumsi alkohol, obat, gangguan saluran empedu atau berbagai kondisi lain.
Aktivitas Antioksidan Temulawak Banyak Diteliti
Tubuh menghasilkan senyawa reaktif selama metabolisme normal. Ketidakseimbangan yang berlebihan antara senyawa reaktif dan sistem pertahanan tubuh dapat meningkatkan stres oksidatif pada jaringan.
Komponen pada temulawak banyak diteliti karena memperlihatkan aktivitas antioksidan dalam penelitian eksperimental. Senyawa fenolik serta beberapa komponen rimpang mampu berinteraksi dengan radikal bebas dalam pengujian laboratorium.
Penelitian terhadap rimpang temulawak yang diterbitkan pada 2025 kembali menemukan adanya kandungan metabolit sekunder dan aktivitas biologis pada ekstraknya. Hasil tersebut memperkuat alasan ilmuwan terus meneliti temulawak sebagai sumber senyawa bioaktif.
Namun istilah antioksidan tidak boleh diterjemahkan menjadi klaim bahwa temulawak mencegah seluruh penyakit.
Aktivitas suatu ekstrak di tabung laboratorium dapat berbeda ketika bahan dikonsumsi manusia. Senyawa harus melewati saluran cerna, diserap, dimetabolisme dan mencapai jaringan dalam konsentrasi tertentu sebelum menghasilkan efek biologis.
Potensi Antiinflamasi Masih Banyak Berasal dari Penelitian Eksperimental
Xanthorrhizol dan berbagai komponen temulawak juga dipelajari karena memiliki aktivitas yang berkaitan dengan proses peradangan.
Penelitian pada model sel cedera hati tahun 2025 menunjukkan ekstrak temulawak menurunkan beberapa penanda proinflamasi seperti IL 1 beta dan IL 6 serta meningkatkan IL 10 pada kondisi penelitian tersebut.
Hasil seperti ini menarik untuk pengembangan penelitian obat berbahan alam, tetapi belum cukup menjadi alasan mengganti obat antiinflamasi yang diresepkan dokter dengan temulawak.
Hal yang sama berlaku untuk nyeri sendi.
Beberapa penelitian jamu Indonesia pernah menggunakan formula yang mengandung temulawak bersama beberapa tanaman lain untuk keluhan osteoartritis. Karena formulanya terdiri atas lebih dari satu bahan, hasil penelitian tidak dapat diklaim berasal dari temulawak sendirian.
Membedakan ekstrak tunggal dan ramuan campuran sangat penting agar manfaat suatu tanaman tidak dilebihkan.
Temulawak Diteliti karena Aktivitas Antimikroba
Xanthorrhizol juga menarik perhatian karena dalam penelitian laboratorium menunjukkan aktivitas terhadap sejumlah mikroorganisme.
Penelitian terbaru bahkan terus mengevaluasi ekstrak Curcuma xanthorrhiza terhadap virus menggunakan pendekatan komputasi dan percobaan pada sel. Studi yang dipublikasikan pada 2026, misalnya, meneliti kemampuan ekstrak temulawak menghambat proses masuknya SARS CoV 2 melalui pengujian in vitro dan in silico.
Temuan seperti ini tidak berarti temulawak dapat digunakan untuk mengobati COVID 19 atau infeksi lain.
Pengujian laboratorium merupakan langkah awal untuk mengetahui apakah suatu senyawa layak diteliti lebih lanjut. Untuk menjadi terapi pada manusia diperlukan penelitian keamanan, penentuan dosis, uji klinis serta evaluasi manfaat dibanding risiko.
Karena itu, infeksi bakteri yang memerlukan antibiotik atau penyakit virus yang membutuhkan penanganan khusus tetap harus ditangani berdasarkan pemeriksaan medis.
Temulawak Bukan Obat untuk Menyembuhkan Semua Penyakit
Popularitas tanaman herbal sering membuat sebuah bahan memperoleh klaim yang jauh lebih besar daripada bukti yang tersedia.
Temulawak pernah dikaitkan dengan berbagai penyakit, mulai dari diabetes, kolesterol tinggi, kanker hingga penyakit infeksi. Sebagian klaim muncul karena penelitian pada sel atau hewan menunjukkan aktivitas biologis tertentu.
Masalahnya, hasil tersebut belum tentu dapat diterapkan pada pasien.
Sebagai contoh, sebuah senyawa dapat menghambat pertumbuhan sel tertentu dalam laboratorium, tetapi belum tentu dapat mencapai konsentrasi serupa di tubuh manusia tanpa menimbulkan masalah lain.
Karena itu, temulawak sebaiknya ditempatkan sesuai tingkat bukti yang ada. BPOM secara resmi memberikan ruang klaim untuk membantu memelihara fungsi hati dan membantu memperbaiki nafsu makan, sedangkan EMA menerima penggunaan tradisional untuk beberapa keluhan pencernaan ringan.
Klaim di luar itu perlu dinilai berdasarkan penelitian masing masing.
Menurut penulis, nilai temulawak tidak menjadi lebih rendah hanya karena tidak disebut sebagai obat segala penyakit. Justru pemisahan antara manfaat yang masuk akal dan klaim berlebihan membuat tanaman asli Indonesia ini dapat digunakan dengan lebih bertanggung jawab.
Apakah Temulawak Aman Diminum Setiap Hari?
Temulawak sudah lama digunakan sebagai bahan pangan dan jamu, tetapi bentuk produk serta konsentrasi ekstraknya dapat sangat berbeda.
Secangkir rebusan rimpang tidak dapat disamakan dengan kapsul ekstrak pekat. Produk ekstrak dapat mengandung jumlah komponen aktif yang jauh lebih terkonsentrasi.
EMA melaporkan beberapa efek yang dapat terjadi pada penggunaan sediaan temulawak, antara lain mulut kering, perut bergas dan iritasi lambung. Frekuensi efek tersebut belum dapat ditentukan secara pasti.
Karena itu, munculnya sakit perut, mual, reaksi alergi atau keluhan lain setelah mengonsumsi produk temulawak menjadi alasan untuk menghentikan penggunaan dan meminta saran tenaga kesehatan apabila keluhan cukup berat.
Menggunakan produk yang mempunyai izin edar BPOM juga lebih aman daripada membeli ekstrak dengan kandungan dan proses produksi yang tidak jelas.
Penderita Batu Empedu Perlu Lebih Berhati Hati
Kelompok dengan gangguan sistem empedu tidak sebaiknya mengonsumsi temulawak secara sembarangan.
Monograf herbal EMA yang mencakup Curcuma xanthorrhiza mencantumkan perhatian terhadap kondisi seperti sumbatan saluran empedu, kolangitis, penyakit hati tertentu, batu empedu dan gangguan bilier lainnya.
Hal tersebut berkaitan dengan sifat tanaman yang berinteraksi dengan fungsi empedu.
Orang yang memiliki riwayat batu empedu, nyeri hebat di perut kanan atas, kulit menguning atau pernah mengalami penyumbatan saluran empedu sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter sebelum menggunakan ekstrak temulawak.
Kehati hatian yang sama layak diterapkan kepada orang yang sedang menggunakan banyak obat.
Penelitian laboratorium menunjukkan ekstrak Curcuma xanthorrhiza berpotensi memengaruhi beberapa enzim yang berperan dalam metabolisme obat. Temuan tersebut menunjukkan kemungkinan interaksi herbal dan obat masih perlu diperhatikan, meskipun besarnya pengaruh pada manusia belum sepenuhnya diketahui.
Cara Konsumsi Temulawak Tidak Hanya Berupa Jamu
Temulawak dapat ditemukan dalam bentuk rimpang segar, irisan kering, serbuk, minuman jamu, kapsul maupun ekstrak.
Untuk konsumsi rumah tangga, rimpang biasanya dibersihkan kemudian direbus dan airnya diminum. Rasa temulawak cenderung pahit sehingga sebagian orang menambahkan bahan lain.
Produk komersial lebih beragam karena konsentrasi ekstrak telah ditentukan produsen.
Tidak ada satu dosis yang dapat diterapkan untuk semua produk karena komposisi, metode ekstraksi serta kandungan senyawanya berbeda. Penggunaan suplemen karena itu sebaiknya mengikuti informasi pada kemasan produk yang memiliki izin edar.
EMA juga menyarankan orang dewasa yang menggunakan sediaan temulawak untuk keluhan pencernaan mencari bantuan tenaga kesehatan jika gejala berlangsung lebih dari dua minggu atau justru semakin berat.
Temulawak Tetap Perlu Ditempatkan sebagai Pendamping Kesehatan
Temulawak memiliki posisi menarik karena berada di antara tradisi jamu yang sangat panjang dan penelitian farmakologi modern yang terus berkembang.
BPOM telah mengakui penggunaan rimpang ini dalam obat bahan alam dengan klaim membantu memelihara kesehatan fungsi hati serta membantu memperbaiki nafsu makan. EMA di sisi lain menerima penggunaan tradisionalnya untuk beberapa keluhan pencernaan pada orang dewasa.
Penelitian laboratorium juga terus menemukan aktivitas biologis dari komponen temulawak, termasuk pada jalur yang berkaitan dengan inflamasi dan stres oksidatif. Namun sebagian besar temuan tersebut masih membutuhkan uji klinis manusia yang lebih besar sebelum dapat diterjemahkan menjadi terapi penyakit tertentu.
Karena itu, manfaat temulawak paling masuk akal ditempatkan sebagai bagian dari pemeliharaan kesehatan dan penggunaan herbal sesuai aturan. Orang dengan penyakit hati, gangguan saluran empedu, batu empedu, keluhan pencernaan berkepanjangan atau yang rutin mengonsumsi obat sebaiknya tidak menjadikan jamu sebagai satu satunya penanganan tanpa mengetahui penyebab keluhannya.






