Anak Keracunan Makanan, Oralit Lebih Penting daripada Air Putih Saja

Gaya Hidup5 Views

Anak Keracunan Makanan, Oralit Lebih Penting daripada Air Putih Saja Keracunan makanan pada anak dapat muncul setelah mengonsumsi makanan atau minuman yang terkontaminasi kuman maupun toksin tertentu. Keluhannya sering berupa muntah, diare, sakit atau kram perut, mual, dan demam. Pada sebagian anak, gejala hanya berlangsung ringan. Namun, kehilangan cairan melalui muntah dan diare dapat membuat keadaan memburuk dengan cepat, terutama pada bayi dan balita.

Centers for Disease Control and Prevention atau CDC menyebut anak berusia di bawah lima tahun termasuk kelompok yang lebih rentan mengalami masalah serius akibat penyakit yang ditularkan melalui makanan. Salah satu ancaman terbesarnya adalah dehidrasi setelah tubuh kehilangan banyak cairan.

Pertolongan pertama karena itu tidak cukup hanya memberikan air putih sebanyak mungkin. Air memang dibutuhkan, tetapi ketika anak terus muntah atau diare, tubuh tidak hanya kehilangan air. Elektrolit seperti natrium dan kalium ikut keluar. Cairan rehidrasi oral atau oralit dirancang untuk mengganti air sekaligus elektrolit dalam komposisi yang sesuai.

Kenali Dahulu Gejala yang Mengarah pada Keracunan Makanan

Keluhan setelah makan tidak selalu berarti keracunan makanan. Anak dapat mengalami sakit perut akibat terlalu banyak makan, intoleransi bahan tertentu, infeksi virus yang kebetulan muncul setelah makan, atau kondisi lain.

CDC menyebut gejala keracunan makanan berbeda sesuai kuman penyebabnya, tetapi yang paling sering muncul adalah diare, kram atau sakit perut, mual, muntah, dan demam. Gejala dapat muncul beberapa jam setelah makanan dikonsumsi atau baru terlihat beberapa hari kemudian.

Hubungan waktu tersebut membuat orang tua sebaiknya mengingat makanan yang dikonsumsi anak dalam beberapa hari terakhir, bukan hanya hidangan terakhir.

Perhatikan pula apakah anggota keluarga lain yang menyantap makanan sama mengalami keluhan serupa. Informasi tersebut dapat membantu dokter menentukan kemungkinan sumber penyakit bila pemeriksaan diperlukan.

Namun, jangan terlalu terpaku mencari makanan mana yang menjadi penyebab sampai mengabaikan keadaan anak. Prioritas pertama tetap memastikan anak tidak mengalami kehilangan cairan berat.

Oralit Menjadi Cairan Utama Saat Anak Diare

Ketika diare berlangsung berulang, cairan rehidrasi oral mempunyai peran penting karena mengandung air, gula, dan elektrolit dalam perbandingan yang dirancang untuk membantu penyerapan cairan melalui usus.

World Health Organization atau WHO menempatkan oralit sebagai terapi utama untuk mengganti cairan pada anak dengan diare. WHO menjelaskan larutan tersebut membantu mengganti air dan elektrolit yang hilang melalui tinja.

Ikatan Dokter Anak Indonesia juga menyebut oralit sebagai cairan khusus untuk mencegah serta mengatasi dehidrasi akibat diare. Pada anak yang belum mengalami dehidrasi, oralit dapat diberikan setelah buang air besar cair untuk mengganti kehilangan yang terus berlangsung.

Kementerian Kesehatan Indonesia bahkan secara khusus mengingatkan agar orang tua tidak hanya mengandalkan air mineral ketika anak mengalami diare. Larutan dengan kandungan elektrolit dan glukosa yang seimbang lebih sesuai untuk membantu mengganti cairan yang hilang.

“Menurut penulis, kesalahan yang sering terjadi adalah menunggu anak benar benar lemas sebelum memberikan oralit. Padahal, penggantian cairan sebaiknya sudah dimulai sejak muntah atau diare membuat cairan tubuh terus berkurang.”

Air Putih Tetap Boleh, tetapi Tidak Selalu Cukup

Judul yang menyebut jangan cuma minum air putih bukan berarti air putih harus dilarang.

Anak yang masih mampu minum tetap dapat memperoleh air sesuai kebutuhan. Persoalannya adalah air putih tidak mempunyai komposisi elektrolit seperti oralit.

Saat diare berlangsung beberapa kali, tubuh kehilangan natrium, kalium, bikarbonat, air, dan sejumlah zat lain melalui tinja. WHO menjelaskan dehidrasi terjadi ketika kehilangan air serta elektrolit tersebut tidak tergantikan secara memadai.

Karena itulah oralit lebih diutamakan sebagai cairan rehidrasi.

Minuman olahraga, soda, teh manis, atau minuman dengan kadar gula tinggi juga tidak otomatis lebih baik. IDAI mengingatkan sejumlah minuman tersebut mempunyai kandungan karbohidrat tinggi tetapi natrium rendah sehingga tidak cocok menggantikan oralit untuk rehidrasi anak.

Orang tua juga sebaiknya membuat oralit sesuai petunjuk pada kemasan. Menambah bubuk terlalu banyak atau menggunakan air lebih sedikit dari petunjuk dapat membuat konsentrasinya tidak sesuai.

Anak Muntah Jangan Langsung Diberi Segelas Penuh

Muntah sering membuat orang tua panik kemudian meminta anak menghabiskan segelas cairan sekaligus.

Cara tersebut justru dapat memicu muntah berikutnya karena lambung sedang sensitif.

American Academy of Pediatrics melalui HealthyChildren menyarankan pemberian oralit dalam jumlah kecil dan sering ketika anak muntah. Pada bayi yang muntah berulang, cairan dapat diberikan menggunakan sendok atau spuit oral sekitar 5 sampai 10 mililiter setiap lima menit, kemudian jumlahnya dinaikkan secara bertahap bila muntah mereda.

IDAI juga menegaskan muntah bukan alasan menghentikan oralit. Cairan diberikan perlahan dan terus menerus agar lebih mudah dipertahankan tubuh.

Apabila anak muntah kembali, beri jeda singkat kemudian coba lagi dalam jumlah lebih kecil.

Tujuannya bukan membuat anak minum sebanyak mungkin dalam satu kali kesempatan. Yang dibutuhkan adalah memasukkan cairan sedikit demi sedikit sambil memperhatikan apakah tubuh mampu mempertahankannya.

ASI Tetap Diteruskan pada Bayi

Bayi yang masih menyusu tidak perlu dihentikan ASI hanya karena mengalami diare atau muntah.

WHO merekomendasikan pemberian ASI tetap dilanjutkan selama anak mengalami diare. Nutrisi dan cairan dari ASI tetap penting selama periode sakit.

IDAI memberikan saran serupa. Pada bayi dan anak yang masih mendapatkan ASI, pemberiannya perlu diteruskan bersama terapi rehidrasi.

Bila bayi muntah berulang, waktu menyusu dapat dibuat lebih singkat tetapi lebih sering sesuai toleransinya.

Orang tua juga tidak perlu otomatis mengganti susu formula menjadi susu khusus tanpa pemeriksaan tenaga kesehatan. Perubahan formula biasanya hanya diperlukan pada keadaan tertentu, misalnya ketika dokter menemukan intoleransi laktosa yang bermakna setelah diare berat.

Jangan Memuasakan Anak Sampai Diare Berhenti

Anggapan bahwa usus harus diistirahatkan dengan menghentikan makanan masih cukup sering ditemukan.

Padahal, anak tetap membutuhkan energi untuk pulih.

WHO menyarankan pemberian makanan bergizi diteruskan selama episode diare. Pendekatan ini membantu mengurangi kehilangan berat badan dan mendukung pemulihan.

IDAI bahkan menyebut memuasakan anak dengan diare akut dapat memperpanjang penyakit. Setelah cairan dapat diterima, makanan dapat kembali diberikan sesuai kemampuan anak.

Tidak perlu memaksa anak makan satu porsi penuh.

Mulailah dengan jumlah kecil dan makanan yang biasa dikonsumsi serta dapat diterima anak. Nasi, bubur, kentang, sup, telur matang, ikan, ayam, pisang, atau makanan rumah lain dapat diberikan sesuai usia dan toleransi.

Bila nafsu makan masih rendah, prioritaskan cairan terlebih dahulu lalu tawarkan makanan kembali secara berkala.

Zinc Mempunyai Peran pada Anak dengan Diare

Selain oralit dan makanan, zinc menjadi bagian penting penatalaksanaan diare anak.

WHO merekomendasikan zinc selama 10 sampai 14 hari untuk anak dengan diare. Dosis yang dicantumkan WHO adalah 10 miligram per hari untuk bayi di bawah enam bulan dan 20 miligram per hari untuk anak yang lebih besar.

Panduan Kementerian Kesehatan Indonesia juga menggunakan pendekatan zinc sebagai salah satu bagian penanganan diare anak.

Namun, orang tua tetap sebaiknya mengikuti petunjuk dokter, apoteker, atau tenaga kesehatan terutama bila usia anak sangat muda, terdapat penyakit lain, atau sedang menggunakan obat tertentu.

Zinc bukan pengganti oralit.

Keduanya mempunyai fungsi berbeda. Oralit berperan mengganti cairan serta elektrolit, sedangkan zinc digunakan sebagai terapi pendamping pada diare anak.

Obat Penghenti Diare Jangan Diberikan Sembarangan

Melihat anak bolak balik ke toilet dapat membuat orang tua ingin segera menghentikan diare menggunakan obat yang tersedia untuk orang dewasa.

Langkah tersebut perlu dihindari.

CDC menyarankan berkonsultasi dengan tenaga kesehatan sebelum menggunakan obat anti diare karena obat tertentu dapat membuat sebagian penyakit berlangsung lebih lama.

WHO juga tidak merekomendasikan pemberian rutin obat anti diare tertentu kepada anak kecil dengan diare akut.

Hal yang sama berlaku untuk antibiotik.

Tidak semua keracunan makanan disebabkan bakteri yang membutuhkan antibiotik. Sebagian penyakit berasal dari virus atau toksin, sedangkan banyak infeksi bakteri dapat sembuh tanpa antibiotik.

IDAI menegaskan antibiotik tidak diberikan secara rutin pada diare akut. Pemberiannya harus berdasarkan indikasi medis tertentu.

Menggunakan antibiotik sisa milik anggota keluarga juga sebaiknya tidak dilakukan.

Jangan Sengaja Membuat Anak Muntah

Ketika mengetahui anak baru saja mengonsumsi makanan yang dicurigai, sebagian orang mungkin berpikir isi lambung harus segera dikeluarkan.

Membuat anak muntah dengan sengaja bukan langkah rutin untuk keracunan makanan.

Pada penyakit bawaan makanan yang sudah menimbulkan muntah atau diare, fokus utamanya adalah menjaga cairan serta memantau keadaan anak.

Memasukkan jari ke tenggorokan, memberikan air garam pekat, atau menggunakan bahan tertentu untuk memicu muntah dapat menimbulkan masalah tambahan.

Apabila yang tertelan ternyata bukan makanan biasa tetapi bahan kimia, cairan pembersih, pestisida, obat dalam jumlah berlebihan, jamur liar, atau zat lain yang berpotensi beracun, penanganannya berbeda dan membutuhkan pertolongan medis segera.

Dalam keadaan tersebut, jangan memberikan ramuan atau mencoba membuat anak muntah tanpa arahan tenaga kesehatan.

Kenali Dehidrasi Sebelum Anak Terlihat Sangat Lemah

Dehidrasi merupakan salah satu alasan utama anak dengan muntah dan diare perlu diawasi ketat.

CDC menyebut tanda kehilangan cairan dapat berupa buang air kecil sangat sedikit atau tidak ada, urine berwarna gelap, rasa haus berlebihan, mulut kering, serta menangis tanpa air mata. Anak kecil dapat mengalami dehidrasi lebih cepat dibandingkan orang dewasa.

Kementerian Kesehatan juga menyebut mata cekung, bibir dan mulut kering, urine sedikit, tubuh terasa dingin, terus mengantuk, serta anak tampak lemah sebagai tanda yang membutuhkan perhatian.

Pada bayi, jumlah popok basah dapat menjadi petunjuk sederhana.

Bila popok jauh lebih jarang basah dibandingkan biasanya, anak menolak minum, atau terlihat semakin lemas, jangan menunggu sampai keesokan hari untuk mencari pertolongan.

Dehidrasi berat membutuhkan cairan melalui pembuluh darah dan perawatan di fasilitas kesehatan.

“Orang tua sebaiknya menilai kondisi anak, bukan hanya menghitung berapa kali diare terjadi. Anak yang mulai sulit minum dan jarang kencing bisa membutuhkan perhatian lebih cepat daripada anak yang masih aktif serta mampu mengganti cairannya.”

Darah dalam Tinja Tidak Boleh Dianggap Diare Biasa

Diare dengan darah merupakan salah satu tanda yang memerlukan pemeriksaan.

WHO menyarankan konsultasi dengan tenaga kesehatan ketika terdapat darah dalam tinja, tanda dehidrasi, atau diare yang menetap.

Darah dapat muncul pada infeksi bakteri tertentu atau gangguan pencernaan lain yang membutuhkan evaluasi.

Orang tua dapat memperhatikan warna dan jumlah darah, tetapi tidak perlu mencoba menentukan penyebabnya sendiri.

Bila memungkinkan, catat kapan diare mulai berlangsung, berapa kali anak buang air besar, apakah terdapat demam dan muntah, serta makanan yang sebelumnya dikonsumsi.

Informasi tersebut akan membantu tenaga kesehatan saat melakukan penilaian.

Muntah Terus Menerus Membutuhkan Pemeriksaan

Muntah satu atau dua kali masih dapat terjadi pada penyakit saluran pencernaan ringan.

Keadaan menjadi berbeda ketika anak tidak mampu mempertahankan sedikit pun cairan.

CDC memasukkan muntah yang sering sampai seseorang tidak dapat mempertahankan cairan sebagai salah satu tanda penyakit bawaan makanan yang berat.

Pada anak, keadaan ini meningkatkan risiko dehidrasi dengan cepat.

Perhatikan pula warna muntahan. Muntahan hijau, mengandung darah, atau menyerupai bubuk kopi membutuhkan penilaian medis segera.

Nyeri perut yang sangat hebat, perut membesar secara tidak biasa, atau anak menangis kesakitan terus menerus juga tidak sebaiknya dianggap sebagai keracunan makanan ringan.

Gejala tersebut dapat berasal dari masalah lain yang membutuhkan pemeriksaan dokter.

Demam Tinggi dan Anak yang Sulit Dibangunkan Termasuk Tanda Bahaya

Demam dapat menyertai infeksi makanan tertentu, tetapi suhu tinggi yang disertai kondisi umum buruk membutuhkan perhatian lebih besar.

CDC menyebut demam lebih dari sekitar 38,9 derajat Celsius termasuk salah satu tanda keracunan makanan berat pada panduan umumnya.

Pada bayi yang sangat muda, batas penanganannya berbeda. Demam pada bayi kecil perlu dinilai tenaga medis lebih cepat karena kelompok usia tersebut lebih rentan mengalami penyakit serius.

Segera cari pertolongan bila anak terlihat sangat mengantuk, sulit dibangunkan, kebingungan, kejang, mengalami sesak, atau kesadarannya menurun.

Kementerian Kesehatan memasukkan sesak napas, kejang, dan hilang kesadaran sebagai alasan untuk segera membawa anak ke fasilitas kesehatan.

Ada Keracunan Makanan yang Menyerang Saraf

Sebagian besar pembicaraan tentang keracunan makanan berpusat pada diare dan muntah. Namun, terdapat penyakit bawaan makanan tertentu yang dapat menghasilkan tanda berbeda.

Botulisme merupakan salah satu contohnya.

CDC menjelaskan botulisme dapat menyebabkan kesulitan menelan, kelemahan otot, penglihatan ganda atau kabur, kelopak mata turun, bicara pelo, hingga gangguan pernapasan. Kondisi ini merupakan kegawatdaruratan medis.

Pada bayi, botulisme dapat ditandai sembelit, kesulitan menyusu, tangisan melemah, wajah tampak kurang berekspresi, kelemahan otot, serta gangguan pernapasan.

Madu juga tidak boleh diberikan kepada bayi di bawah usia 12 bulan karena dapat menjadi sumber spora bakteri penyebab botulisme pada bayi.

Keluhan saraf setelah makan tidak boleh ditangani hanya dengan oralit di rumah.

Simpan Informasi Makanan yang Diduga Menjadi Sumber

Bila beberapa orang jatuh sakit setelah menyantap makanan yang sama, informasi mengenai makanan tersebut dapat berguna.

Catat nama makanan, tempat pembelian, waktu dimakan, dan kapan gejala mulai muncul.

Bila makanan berasal dari kemasan, jangan langsung membuang seluruh informasi produk. Nama produsen, nomor produksi, tanggal kedaluwarsa, atau kode pada kemasan dapat membantu apabila kasus perlu dilaporkan dan ditelusuri.

Namun, makanan yang dicurigai tidak perlu dicicipi kembali untuk memastikan apakah rasanya berubah.

Jangan pula memberikannya kepada anggota keluarga lain.

Simpan terpisah bila memang diperlukan untuk informasi, dan hindari kontaminasi terhadap makanan lain maupun permukaan dapur.

Cuci Tangan agar Penyakit Tidak Menular ke Keluarga Lain

Tidak seluruh kasus yang disebut keracunan makanan berhenti pada orang yang mengonsumsi sumber pertama.

Norovirus, misalnya, dapat menyebar melalui makanan, air, permukaan, dan kontak dengan orang yang terinfeksi. CDC menyebut muntah, diare, mual, serta sakit perut sebagai gejala yang umum pada infeksi tersebut.

Karena itu, kebersihan tangan tetap penting.

Cuci tangan menggunakan sabun setelah membersihkan muntahan atau membantu anak ke toilet dan sebelum menyiapkan makanan.

Peralatan makan anak sebaiknya dibersihkan dengan baik.

Permukaan yang terkena muntahan atau tinja juga perlu segera dibersihkan agar anggota keluarga lain tidak ikut sakit.

Anak yang masih mengalami diare atau muntah sebaiknya tidak ikut membantu menyiapkan makanan.

Jangan Menunggu Dehidrasi Berat untuk Pergi ke Rumah Sakit

Pertolongan di rumah hanya sesuai ketika keadaan anak masih cukup baik, mampu minum, tidak menunjukkan dehidrasi berat, dan tidak mempunyai tanda bahaya.

Bawa anak untuk mendapat pertolongan segera bila ia tidak mampu minum, terus memuntahkan setiap cairan, buang air kecil sangat sedikit, sangat lemas, kesadarannya berubah, mengalami kejang atau sesak, terdapat darah dalam tinja atau muntahan, mengalami nyeri hebat, atau menunjukkan tanda saraf seperti kesulitan menelan dan kelemahan otot.

CDC juga menyarankan mencari pertolongan pada diare berdarah, diare yang berlangsung lebih dari tiga hari, muntah berulang yang membuat cairan tidak dapat dipertahankan, demam tinggi, atau tanda dehidrasi.

Bayi dan balita membutuhkan ambang kewaspadaan lebih tinggi karena kehilangan cairan dapat berlangsung lebih cepat. Anak dengan penyakit kronis, gangguan kekebalan tubuh, atau kondisi medis tertentu juga sebaiknya dinilai lebih awal.

Selama perjalanan mencari pertolongan, bila anak masih sadar dan mampu menelan dengan aman, oralit dapat terus diberikan sedikit demi sedikit. Jangan memaksa makan atau minum dalam jumlah besar ketika anak terus muntah, dan jangan memberikan obat penghenti diare maupun antibiotik tanpa arahan tenaga kesehatan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *